Keadaan ekonomi kami memang sedang kolaps waktu itu. Kami tiba dibandara jam 05.30 pagi. Pesawat terbang jam 06.00 pagi. Aku panik. Takut kalau kami terlambat untuk berangkat.
Pada saat kami tiba hendak masuk, petugas bandara memberi tahu bahwa pintu sudah ditutup.
Aku kemudian memaksa petugas itu untuk memperbolehkan ibuku kedalam karena ini masih jam 05.50 pagi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemudian ibu diantar oleh salah seorang petugas tersebut. Tetapi aku masih saja tetap tidak tenang.
Dan benar saja firasatku, ibu benar sudah terlambat. Petugas bandara menyarankan untuk berangkat di jam yang berbeda. Ada rute penerbangan di satu jam berikutnya.
Ah, aku sudah tidak tahu lagi mau bilang apa ke ibu. Aku tidak punya uang. Sedangkan harga tiket jika harus ditukar lagi dengan manaiki pesawat yang berbeda harus nambah dua ratus ribu rupiah.
Pada akhirnya tiket itu hangus. Aku tidak berani menatap wajah ibu. Dia hanya diam saja. Kemudian meminjam ponselku untuk memberi kabar di kampung bahwa ibu batal pulang.
Lalu kami pulang ke rumah kami entah dengan perasaan apa dan bagaimana, sulit untuk dijelaskan. Di sepanjang jalan ibu tak bicara apa-apa.
Aku tahu ibu sangat kecewa dan sedih karena tidak bisa menyaksikan bapaknya dikebumikan untuk terakhir kalinya, lebih-lebih ini adalah karena kami tidak mempunyai uang yang cukup.
Hari-hari tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya. Kini, mbah sudah pergi meninggalkan kami.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






