Pagi hari kami pergi ke stasiun. Kereta akan berangkat jam 11.00 pagi dan sampai dijakarta jam 01.00 malam.
Di perjalanan aku sempat bertanya kepada ibu: “bu, gimana kalau mbah nanti tutup usia?”.
Ibuku menjawab: “Husss… Jangan ngomong begitu!. Kita doakan saja agar mbah cepat sembuh”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku menjawab “Iya bu”.
Beberapa minggu kemudian ketika aku dan ibu sudah berada di rumah kami, kudengar kabar dari kampung bahwa mbah sudah tutup usia.
Kini, Keluargaku dirundung kesedihan. Ditambah lagi keadaan ekonomi keluarga kami yang kini sedang anjlok.
Untunglah ada temanku yang bersedia membantu. Aku dipinjamkan uang lima ratus ribu rupiah untuk kemudian kukasih ke ibu karena uang itu hanya cukup untuk ibu seorang diri yang pergi untuk pulang.
Waktu sudah mepet dan mbah sudah harus dimakamkan esok pada pukul 10.00 pagi. Aku memesan tiket pesawat karena tidaklah mungkin kalau harus naik kereta. Waktu sudah mepet, kataku. Ibu lalu kuantar ke bandara Soekarno Hatta.
Dengan perasaan sedih dan rasa bersalah, aku bertanya ke ibu: “bu, ibu yakin mau pulang cuma bawa uang seratus ribu?”.
Ibu menjawab “ya mau tidak mau. Yang penting kan bisa melihat mbah dimakamkan”.
Aku malu dengan ibu. Hatiku menangis pada saat melihat wajahnya, matanya dan tatapan kosongnya. Ya, benar. Ibu hanya membawa uang seratus ribu, sisa dari pembelian tiket pesawat.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






