“Angel!” panggil Dila yang berlari kecil untuk mendapati sahabatnya itu. Tersenyum manis pada Angel seraya tangannya menyodorkan setebal buku. Angel membolak-balik halamannya lalu menyimpannya ke dalam tas.

Angel mengeluarkan sebuah amplop dari saku jeansnya dan menyerahkannya kepada sahabatnya, Dila. Matanya melihat sekeliling dengan gaya seorang mafia berkelas yang biasa ditontonnya di film.

“Terima kasih, Dila. Kamu memang sahabatku yang terbaik dan paling pengertian dengan keadaanku. Kamu mau ikut aku ke kantin? Aku mau bercerita sebentar denganmu. Boleh kan?” bujuk Angel.

Dila mengangguk dan keduanya melangkah beriringan ke kantin. Keduanya memilih tempat yang paling pojok agar lebih nyaman. Keduanya memesan es teh kesukaan mereka lalu kembali mengambil posisi seperti semula. Menikmati setiap teguk dengan dialiri cerita seru yang berawal dari hubungan intim keduanya pacar.

“Eh, Angel kamu tahu gak? Si Valen itu sangat baik loh. Udah ganteng, perhatian lagi sama aku. Pokoknya dia itu perfek dan ideal tipe aku! Aku berjanji tidak akan mengkhianatinya sekalipun takdir dan nasib berniat memisahkan kami. Satu lagi yang buat aku tidak bisa tidur semalam-malaman, dia sudah mengenalkan aku ke orang tuanya loh,” celoteh Dila dengan membangga-banggakan Valen kekasihnya yang baru dikenal sebulan lalu.

Senyum sumringah menjadi tampilan menawan di bibir tipis Dila. Dila memang manis dan menjadi primadona di SMA-nya kala itu. Dia selalu disanjung sebagai bidadari di kelasnya. Rambut lurusnya begitu padu dengan kulitnya yang kuning langsat.

Meskipun demikian Dila tak pernah enggan untuk bertemu dengan siapa saja, terutama Angel yang punya watak yang amat jauh berbeda dengannya.

Angel memang cantik, namun angkuh. Dia sangat selektif dalam menentukan siapa saja yang boleh menjadi temannya. Dila adalah sahabat yang dipilihnya secara terpaksa karena Dila adalah temannya Riand, pacarnya Angel.

“Aduuuh, Dilaku sayang! Valen memang ganteng, baik, perhatian dan amat serius denganmu, namun selama dia masih disebut lelaki tetap saja. Kamu tahu gak, semua lelaki itu sama saja, pengkhianat sejati. Sekedar datang sebagai lebah yang menghisap madu dari setiap bunga mekar, lalu meninggalkannya tanpa pamit. Yah, singkatnya semua lelaki itu busuk adanya. Aku tak akan mengijinkan lelaki manapun untuk mencintaiku, terutama Riand,” Angel memonyongkan bibir sebagai isyarat penghinaan terhadap lelaki.

Tentu saja Dila terhenyak kaget. Setahunya, Angel sangat menyayangi Riand. Dia sering mengagung-agungkan Riand dalam setiap cerita saat duduk bersama maupun dalam chatting dengannya.

Sangat aneh bila Angel berbalik membenci Riand. Beberapa pertanyaan aneh singgah menggelitik rasa ingin tahu Dila untuk mengais penyebab Angel membenci lelaki, terutama Riand.

“Maksudnya kalian sudah end atau masih dalam masa tenggang? Atau mungkin kamu lagi ingin prank aku? Seingat aku, dua hari lagi kan anniversary-nya kalian. Oh iya, aku tahu. Pasti kalian sengaja acting di depan aku biar tidak kelihatan maksud kalian. Lalu dua hari kemudian kalian mengajak aku ke restoran mahal itu dan kita merayakannya bersama,” Dila tertawa terbahak-bahak setelah menebak maksud kedua sahabatnya itu.

“Apa itu annyversary? Bagaimana mau annyversary kalau orangnya tak lagi ada dengan kita. Kepergiaannya hanya menciptakan luka yang butuh waktu lama untuk kembali pulih,” cetus Angel. Jawaban ini justru membuat Dila semakin terpingkal-pingkal.

“Sudahlah sayang. Tak perlu berdrama di depanku agar aku terkecoh dengan niat kalian ini. Usiaku sudah 21 tahun sayang. Aku bukan lagi anak ingusan yang gampang percaya dengan candamu itu.” Balas Dila dengan gaya santainya.

“Dila! Kamu memang sengaja tidak tahu atau memang tidak tahu? Riand itu sudah meninggal sayang. Dia bunuh diri karena proposalnya ditolak terus-menerus. Orang tuanya terus mendesak dia untuk segera selesai agar bisa mengurus perusahaan ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Aku juga tidak paham kenapa dia sebodoh ini. Seharusnya masih ada cara lain yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan proposalnya. Dia bisa saja mengurus perusahaan ayahnya sambil terus menulis proposalnya atau mungkin bisa menyewa orang lain untuk mengerjakan proposalnya dan dia bisa fokus pada keinginan orang tuanya,” jelas Angel tanpa mimik sedih secuilpun.

Ia menggesekan telunjuknya pada layar handphone dan menunjukkan video pemakaman jenazah Riand. Dila melonjak kaget menyaksikan video pemakaman itu.

“Bukannya minggu lalu Riand mengajakku untuk ikut menyaksikan ujian proposalnya lusa nanti. Kamu tega sekali tidak memberitahuku,” sesal Dila.

Ia menangis sesenggukan sedang Angel terus menyeruput tehnya tanpa peduli ataupun ikutan merasa iba karena kepergian Riand. Dila bangkit dari duduknya, memperhatikan wajah Angel lalu beranjak pergi meninggalkan Angel sendiRianddi kantin.