Femme.id – Pernahkah Mommies dan Daddies tiba-tiba mendapati sebuah lagu terus terngiang di kepala tanpa bisa dihentikan meski hanya mendengarnya sekilas?

Fenomena ini dikenal sebagai earworm, sebuah kondisi psikologis yang sangat umum terjadi di kalangan orang dewasa maupun anak-anak.

Earworm bukanlah gangguan kesehatan, melainkan bagian alami dari cara kerja otak dalam memproses musik dan memori.

Meskipun terdengar aneh, earworm sering kali menunjukkan betapa kuatnya pengaruh musik terhadap pikiran dan emosi manusia.

Memahami apa itu earworm, penyebabnya, serta dampaknya bisa membantu orang tua dalam mendampingi anak mengonsumsi musik secara kritis dan sehat.

Terutama di era digital tahun 2026, di mana eksposur terhadap lagu viral di media sosial terjadi hampir setiap hari.

Informasi ini juga penting untuk memanfaatkan potensi positif earworm dalam proses belajar dan pengembangan kognitif anak.

Apa Itu Earworm dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Secara ilmiah, earworm dikenal sebagai Involuntary Musical Imagery atau INMI.

Kondisi ini terjadi ketika potongan melodi atau lirik lagu muncul secara otomatis dan berulang di dalam pikiran tanpa disengaja.

Penelitian dari Durham University menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen orang pernah mengalami earworm setidaknya sekali dalam hidup.

Ini membuktikan bahwa fenomena ini bukan hal yang abnormal, melainkan bagian dari fungsi normal otak.

Earworm biasanya terdiri dari cuplikan lagu yang pendek, mudah diingat, dan memiliki struktur musikal yang repetitif.

Bagian seperti reffrain atau hook lagu paling sering muncul karena sifatnya yang menonjol dan catchy.

Psikolog musik Kelly Jakubowski menjelaskan bahwa otak cenderung memproses dan menyimpan melodi yang memiliki pola sederhana dan ritme stabil.

Oleh karena itu, lagu dengan struktur seperti ini lebih mudah menempel di memori jangka pendek.

Earworm juga sering terjadi saat aktivitas otak sedang santai, seperti saat menyetir, mandi, atau melakukan pekerjaan rutin.

Kondisi ini memberi ruang bagi pikiran untuk memutar ulang informasi yang sebelumnya terekam, termasuk musik.

Faktor yang Memicu Munculnya Earworm

Beberapa faktor memengaruhi munculnya earworm, baik dari sisi lagu maupun kondisi individu.

Lagu dengan melodi sederhana, tempo cepat, dan pengulangan lirik yang kuat lebih berpotensi menjadi earworm.

Contohnya, lagu anak-anak yang menggunakan struktur ABC-ABC sangat mudah dihafal karena pola yang konsisten.

Selain itu, eksposur berulang terhadap lagu yang sama juga meningkatkan kemungkinan munculnya earworm.

Semakin sering seseorang mendengar sebuah lagu, semakin kuat koneksi saraf yang terbentuk di otak terkait melodi tersebut.

Faktor emosional juga berperan penting.

Lagu yang dikaitkan dengan pengalaman menyenangkan atau momen spesial lebih mudah muncul kembali secara tidak sadar.

Selain itu, stres, kelelahan, atau kebosanan bisa membuat otak lebih rentan terhadap intrusi musik yang tidak diundang.

Kondisi mental seperti kecemasan ringan juga dikaitkan dengan frekuensi earworm yang lebih tinggi.

Di tahun 2026, dengan dominasi konten musik pendek di platform media sosial, paparan terhadap lagu berdurasi 15–30 detik semakin intens.

Ini mempercepat proses pembentukan earworm karena otak hanya perlu memproses bagian terpenting dari lagu.

Lagu Apa Saja yang Sering Menjadi Earworm?

Tidak semua lagu memiliki potensi yang sama untuk menjadi earworm.

Lagu yang sering muncul di kepala biasanya memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya mudah menempel di memori.

Salah satunya adalah adanya pengulangan yang kuat, baik dalam melodi maupun lirik.

Tempo yang cepat dan ritme yang menarik juga meningkatkan daya ingat terhadap lagu tersebut.

Selain itu, keunikan tertentu seperti nada tinggi, perubahan nada yang tak terduga, atau lirik yang mudah diucapkan sangat membantu proses penghafalan.

Di Indonesia, beberapa lagu pernah menjadi fenomena earworm massal karena viral di media sosial.

Contohnya adalah Baby Shark yang sempat mendunia dan dinyanyikan oleh anak-anak di seluruh Indonesia.

Lagu Ojo Dibandingke juga menjadi earworm karena liriknya yang sederhana dan mudah diteriakkan.

Sayang dari Via Vallen dan Komang dari Raim Laode juga masuk kategori ini karena melodi yang catchy dan sering diputar di berbagai kesempatan.

Baru-baru ini, lagu dengan lirik MBG juga menjadi perbincangan karena sering muncul di feed media sosial meskipun bukan merujuk pada Makanan Bergizi Gratis.

Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya sebuah lagu bisa menyebar dan menjadi bagian dari ingatan kolektif.

Platform seperti TikTok dan Instagram Reels mempercepat proses ini dengan algoritma yang memprioritaskan konten musikal berulang.

Dampak Lirik Lagu terhadap Anak dan Remaja

Meskipun earworm sendiri bukan hal buruk, perlu diwaspadai isi dari lagu yang sering muncul di kepala anak.

Beberapa lagu yang viral memiliki lirik yang mengandung pesan tidak sehat, seperti perilaku toxic dalam hubungan.

Ada lagu yang menormalisasi posesif sebagai bentuk cinta atau menggambarkan manipulasi emosional sebagai romantis.

Ketika anak terpapar pesan semacam ini secara berulang, bisa jadi mereka secara tidak sadar menginternalisasi nilai-nilai tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa musik yang diputar berulang kali dapat memengaruhi persepsi sosial, terutama pada anak dan remaja.

Musik tidak hanya memicu memori, tetapi juga membangkitkan emosi yang kuat.

Ketika lagu dikaitkan dengan perasaan senang atau semangat, pesan di dalamnya lebih mudah diterima sebagai hal yang benar.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya memperhatikan frekuensi lagu yang didengar anak, tetapi juga isi liriknya.

Bukan berarti harus melarang semua lagu viral, tetapi pendampingan diperlukan agar anak bisa memahami konteksnya.

Mengajak anak berdiskusi tentang arti lirik bisa menjadi cara efektif untuk membangun pemikiran kritis.

Contohnya, dengan bertanya, Apa yang dimaksud dengan lirik ini? Apakah perilaku dalam lagu ini sehat?

Diskusi semacam ini membantu anak membedakan antara hiburan dan realitas hubungan yang sehat.

Manfaat Positif Earworm dalam Pembelajaran

Meskipun kadang mengganggu, earworm sebenarnya bisa dimanfaatkan secara positif, terutama dalam dunia pendidikan.

Karena otak menyukai pola dan pengulangan, musik bisa menjadi alat bantu belajar yang sangat efektif.

Banyak anak yang lebih mudah menghafal alfabet, angka, atau rumus melalui lagu daripada membaca teks.

Ini karena musik mengaktifkan lebih banyak area otak, termasuk yang terkait dengan memori, emosi, dan bahasa.

Di sekolah, guru sering menggunakan jingle edukatif untuk mengajarkan konsep seperti hari dalam seminggu atau perkalian.

Metode ini terbukti meningkatkan retensi informasi karena anak menikmati proses belajarnya.

Di tahun 2026, penggunaan musik dalam pembelajaran digital semakin meningkat melalui aplikasi edukasi berbasis audio.

Orang tua juga bisa menciptakan lagu sederhana untuk membantu anak mengingat rutinitas, seperti menyikat gigi atau membereskan mainan.

Dengan begitu, earworm yang muncul justru mendukung perkembangan kognitif dan kemandirian anak.

Manfaat ini menunjukkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga alat pendidikan yang kuat.

Dengan pendekatan yang tepat, earworm bisa menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang menyenangkan dan efektif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan earworm?

Earworm adalah fenomena ketika potongan lagu atau melodi muncul berulang kali di dalam pikiran tanpa disengaja, dikenal juga sebagai Involuntary Musical Imagery atau INMI.

Apakah earworm berbahaya bagi kesehatan?

Tidak, earworm bukan gangguan kesehatan melainkan kondisi normal yang dialami lebih dari 90 persen orang sebagai bagian dari fungsi otak dalam memproses musik.

Mengapa beberapa lagu lebih mudah menjadi earworm?

Lagu dengan melodi sederhana, tempo cepat, pengulangan kuat, dan lirik mudah diingat lebih berpotensi menjadi earworm karena strukturnya yang mudah diproses otak.

Bagaimana dampak earworm terhadap anak jika lagunya memiliki lirik negatif?

Paparan berulang terhadap lagu dengan lirik negatif dapat memengaruhi persepsi anak tentang hubungan dan emosi, terutama jika tidak disertai diskusi kritis dari orang tua.

Bisakah earworm dimanfaatkan untuk pembelajaran anak?

Ya, earworm bisa dimanfaatkan secara positif dalam pendidikan dengan menggunakan lagu edukatif untuk membantu anak menghafal informasi melalui pengulangan yang menyenangkan.