Connect with us

Health

Penyebab Rambut Rontok

Published

on

Rambut yang terlalu lama ditarik atau diikat akan mudah terlepas dari folikelnya, sehingga kerontokan lebih mudah terjadi.

Femme.id, Jakarta – Kehilangan beberapa helai rambut setiap hari adalah hal normal. Tetapi jika Anda mulai kehilangan gumpalan rambut, Anda harus waspada karena bisa jadi berhubungan dengan kekurangan zat gizi dan fungsi tubuh Anda.

Berikut beberapa hal yang mungkin terjadi pada tubuh Anda seperti dilansir Indian Express :

Kurang protein

Apakah diet Anda kekurangan protein esensial? Protein membantu pertumbuhan rambut. Jika makanan Anda tidak memiliki protein yang cukup, ada kemungkinan rambut Anda akan berhenti tumbuh, berubah warna dan rontok.

Makanan yang kaya protein termasuk biji-bijian dan kacang-kacangan, telur, produk susu seperti susu, keju dan yogurt, produk unggas dan ikan.

Stres

Stres bisa menyebabkan Anda kehilangan banyak rambut, misalnya karena pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai, adalah beberapa contohnya. Namun, ini bukan situasi permanen, dan Anda bisa mendapatkan kembali volume rambut yang hilang jika semuanya terkendali.

Produk rambut yang tidak cocok

Anda mungkin telah menggunakan atau masih menggunakan produk yang tak cocok dengan rambut Anda. Bahan bahan kimia pelurus rambut, menggunakan alat panas pada rambut bisa merusak folikel sehingga meningkatkan risiko kerontokan rambut.

Kurang zat besi

Jika Anda kurang mengonsumsi makanan mengandung zat besi, sayuran berdaun hijau gelap, cokelat hitam, kacang kedelai, lentil, tahu, daging, Anda berisiko mengalami rambut rontok.

Para ahli mengatakan, wanita berusia 19-50 tahun, harus mengonsumsi 18 mg zat besi setiap hari. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Health

Mengapa Polusi Sebabkan Rambut Rontok? Begini Penjelasannya

Published

on

Kualitas udara yang buruk juga memengaruhi tiga protein lain, yang disebut cyclin D1, cyclin E dan CDK2, yang juga mendukung pertumbuhan dan retensi rambut.

Femme.id, Jakarta – Para peneliti berpendapat, rambut rontok tak hanya disebabkan gen, tetapi juga sejumlah besar faktor lingkungan salah satunya polusi udara.

Hal ini mungkin menjelaskan jika suatu saat warga Jakarta mengeluhkan rambut mereka rontok, mengingat Jakarta belakangan ini tercatat sebagai kota dengan level polusi yang tinggi.

Peneliti dari Future Science Research Center di Korea Selatan, Hyuk Chul Kwon dalam makalahnya berjudul “Efek partikel pada papilla dermal manusia,” menemukan efek materi partikulat pada sel di pangkal folikel rambut. Sel-sel ini disebut sel papilla dermal folikel (HFDPC).

Materi partikulat, adalah istilah untuk campuran partikel padat dan tetesan cairan, terbuat dari berbagai bahan kimia, yang dapat dihirup orang. Beberapa partikel ini menimbulkan risiko serius bagi kesehatan.

Dalam studi, Kwon dan koleganya mengekspos HFDPC ke partikel debu dan diesel PM10. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), partikel PM10 adalah partikel yang bisa terhirup dengan diameter yang umumnya 10 mikrometer dan lebih kecil dari itu.

Setelah 24 jam, mereka memeriksa kadar protein setelah terpapar partikel menggunakan analisis Western blotting.

Analisis tersebut mengungkapkan paparan PM10 dan partikel diesel menurunkan kadar protein beta-catenin untuk pertumbuhan rambut.

Selain itu, debu dan PM10 menurunkan tingkat protein lain yakni cyclin D1, cyclin E, dan CDK2 yang menentukan pertumbuhan rambut dan retensi rambut.

“Sementara hubungan antara polusi udara dan penyakit serius seperti kanker, penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit kardiovaskular sudah kuat, hanya dedikit atau tidak ada penelitian tentang efek partikel paparan pada kulit manusia khususnya rambut,” kata Kwon seperti dilansir dari Medical News Today.

Di seluruh dunia, sekitar 4,2 juta orang meninggal setiap tahun akibat pencemaran udara, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). WHO juga memperkirakan lebih dari 90 persen populasi dunia hidup di daerah yang terlalu tercemar.

Serangan jantung, asma yang memburuk, detak jantung tidak teratur dan fungsi paru-paru yang lebih buruk hanyalah beberapa kondisi yang terkait dengan paparan berlebihan polusi pada tubuh. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Lidah Mulus Tanpa Bintil? Pertanda Ada Masalah

Published

on

Penyakit lidah bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari kekurangan nutrisi, daya tahan tubuh yang lemah, hingga gaya hidup.

Femme.id, Jakarta – Coba julurkan lidah Anda di depan cermin, kemudian lihat apakah bintil-bintil di lidah atau disebut papila masih adakah di sana?

Jika tidak ada, bisa jadi Anda mengalami glositis atrofi atau radang lidah.

Radang lidah menyebabkan perubahan warna dan tekstur, termasuk hilangnya banyak papila, menurut Healthline, seperti dilansir LiveScience.

Lalu, apa yang menyebabkan kondisi ini? Tes darah mengungkapkan karena rendahnya kadar vitamin B12.

Dalam suatu kasus, ada seorang pria berusia 64 tahun yang mengeluhkan hilangnya papila di lidah, juga menderita anemia pernisiosa (suatu kondisi seseorang memiliki kadar sel darah merah yang rendah karena kekurangan vitamin B12).

Dalam beberapa kasus, orang mengembangkan anemia pernisiosa karena sistem kekebalan tubuh menyerang protein yang dibutuhkan untuk penyerapan vitamin B12.

Sel darah merah mengandung protein yang disebut mioglobin yang penting untuk kesehatan otot, termasuk otot lidah.

Untungnya, anemia pernisiosa biasanya mudah diobati, menurut National Institutes of Health. Pasien biasanya mendapatkan vitamin B12 dosis besar dalam bentuk suntikan atau pil dosis tinggi.

Dalam kasus pria itu, dia menerima suntikan vitamin B12, dan dalam satu bulan lidahnya kembali normal. Dia akan terus membutuhkan suntikan vitamin B12 secara teratur agar dia tidak mengalami kekurangan vitamin B12. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Minum Air Putih Berlebihan Dapat Memicu Hiponatremia

Published

on

Cara paling mudah untuk mengetahui apakah Anda mengalami dehidrasi atau hidrasi tinggi adalah melalui warna air seni dan seberapa sering Anda buang air kecil.

Femme.id, Jakarta – Meskipun mengkonsumsi air putih sangat dianjurkan untuk kesehatan, konsumsi air putih lebih banyak daripada jumlah yang dapat dikeluarkan oleh tubuh dapat memicu kondisi yang disebut hiponatremia.

“Hiponatremia adalah kondisi gangguan elektrolit ketika kadar natrium (sodium) dalam darah lebih rendah dari batas normal,” ujar ahli nutrisi Kristin Koskinen sebagaimana dikutip dari Health, Rabu (16/10/2019).

Natrium (sodium) adalah elektrolit penting dalam tubuh yang menjaga tubuh dengan mendistribusikan air ke seluruh tubuh, dan sisanya dibuang melalui ekskresi dalam bentuk air seni atau keringat.

Kadar natrium (sodium) yang rendah dalam darah dapat menyebabkan gejala seperti kembung, sakit kepala, sulit berpikir jernih (brain fog), dan mual.

“Ginjal juga memiliki batasan berapa banyak air yang dapat mereka proses untuk dikeluarkan pada satu waktu, maksimum 800 hingga 1.000 mililiter per jam,” kata Koskinen.

“Meskipun keracunan air adalah hal yang jarang terjadi, itulah yang akan Anda alami bila mengkonsumsi air putih melebihi jumlah yang dapat diterima dan dikeluarkan tubuh,” kata Koskinen.

Cara paling mudah untuk mengetahui apakah Anda mengalami dehidrasi atau hidrasi tinggi adalah melalui warna air seni dan seberapa sering Anda buang air kecil. Pada umumnya, air seni berwarna kuning pucat hingga menyerupai kucing kecoklatan menyerupai warna air teh.

Jika air seni Anda berwarna lebih jernih daripada biasanya, itu pertanda Anda minum terlalu banyak air dalam rentang waktu yang terlalu pendek.

“Rata-rata, orang buang air kecil 6-8 kali sehari, atau 10 kali untuk seseorang yang secara rutin mengkonsumsi kafein atau alkohol,” kata Koskinen.

Namun jika Anda harus buang air kecil beberapa kali dalam satu jam dengan warna air seni yang jernih, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah asupan cairan. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.