Connect with us

Kuliner

Resep Brownies Cokelat dengan Sentuhan Selandia Baru

Published

on

Brownies, merupakan sebuah makanan yang dipanggang atau dikukus yang berbentuk persegi.

Femme.id, Jakarta – Bosan membuat brownies yang itu-itu saja? Anda bisa mengikuti resep Chef I Made Kona dari The Dharmawangsa Jakarta yang mencampurkan bahan-bahan brownies dengan buah dan madu dari Selandia Baru.

Bahan :

Brownies cokelat Whittaker

125 gram cokelat Whittaker
245 gram unsalted butter
200 gram telur
150 gram gula merah
50 gram madu manuka
1 sdt ekstrak vanila
150 gram tepung terigu
50 gram kacang kenari

Apel karamel kayu manis

2 buah apel Selandia Baru
45 gram unsalted butter
1 sdm madu manuka
1 sdt batang kayu manis
1 batang vanila

Cara :

– Lelehkan cokelat dan butter di microwave
-Campur telur dengan gula, madu dan vanila
– Tambahkan adonan cokelat ke dalam adonan telur, campur
– Tambah tepung terigu sampai rata
-Tambah kenari, aduk
-Masukkan ke dalam wadah
-Panggang 12 menit dalam suhu 160 derajat Celcius
-Dinginkan di suhu ruangan
-Untuk apel karamel, kupas apel dan potong dadu, tumis dengan kayu manis dan madu
-Tata potongan apel di atas brownies. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kuliner

Cicipi Cokelat “Hutan Jamur” dan Panna Cotta Sakura dari Osaka

Published

on

Roll cake buatan chef pastry Yuki Nakamura dari Swissotel Nankai Osaka di hotel Fairmont Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Femme.id, Jakarta – Kue-kue cantik nan lezat yang terinspirasi dari sajian pelengkap afternoon tea disajikan oleh Yuki Nakamura, chef yang sudah mendalami dunia pastry selama 20 tahun dalam acara “When Jakarta Meets Japan” di hotel Fairmont Jakarta, Rabu (18/9/2019).

“Nuansa musim-musim di Jepang saya masukkan ke dalam hidangan ini,” kata Nakamura dari Swissotel Nankai Osaka​​.

Kue terinspirasi musim gugur bisa dinikmati lewat Mousse dengan Matsutake Mushroom, sepiring kue yang penampilannya serupa hutan jamur.

Sekilas, tudung jamurnya terlihat persis seperti jamur betulan. Ketika dipotong dengan sendok, langsung terlihat tekstur asli yang lembut karena berbahan dasar mousse cokelat dengan aroma jamur Matsutake.

Bagian batang jamurnya dibuat dari kue spon, sementara “tumbuhan” putih lain di sebelahnya dibuat dari meringue. Tanah dan rumput mengelilingi jamur itu, masing-masing dibuat dari remah-remah biskuit yang teksturnya lumayan renyah.

“Ini kreasi saya khusus untuk dibuat di Jakarta,” ungkap dia.

Kue-kue Jepang terinspirasi musim-musim di Negeri Sakura lainnya yang terhidang meliputi Chocolate Milk Wasanbon Roll Cake, Matcha Tiramisu yang rasanya cocok untuk penikmat makanan yang tidak terlalu manis, Yuzu Tart yang segar, serta Mitarashi Dango yang kenyal.

“When Jakarta Meets Japan” yang digelar 18-22 September juga menghadirkan makan malam berbahan premium, termasuk daging Kagoshima, dari Executive Chef restoran Senshu, Tatsuya Sakamoto.

Ada pula koktail berbahan teh hijau Jepang racikan Shuzo Nagumo, pemilik bar ternama Mixology Salon Tokyo.

Tak cuma makanan, pengunjung juga bisa melihat mobil listrik Nissan Leaf yang dipamerkan di acara ini. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Kuliner

Restoran Ini Sajikan Masakan Padang untuk Vegan

Published

on

Restoran ini ingin menghadirkan alternatif makanan vegan yang acap kali dianggap mahal dan hambar.

Femme.id, Jakarta – Makanan Padang identik dengan lauk pauk berupa daging berbumbu rempah yang begitu menggoda lidah, tidak mudah mengaitkannya dengan makanan vegetarian dan vegan yang mengonsumsi makanan non-hewani.

Pola pikir itu didobrak oleh restoran Loka Padang di Jakarta yang menyajikan masakan Padang dengan bahan yang bisa dinikmati vegetarian dan vegan.

Nama Loka diambil dari “Loka Samasta Sukhino Bhavantu”, artinya “Agar semua makhluk hidup di dunia berbahagia”, alasan restoran ini tidak memakai produk hewani sedikit pun, seperti dikemukakan Brian M. Hardjono, Project Leader restoran Loka Padang, pada beberapa waktu lalu.

Restoran yang berlokasi di Sudirman Park, Jakarta, itu terlihat mencolok dengan dinding warna kuning dihiasi poster-poster dan stiker zadul lengkap dengan jargon yang mempromosikan sayur.

Meja-meja kayu berjejer rapi di tempat yang sengaja didekorasi agar mirip seperti warung yang homey. Perabotan seperti piring dan gelas yang mengingatkan pada rumah nenek sengaja dipilih untuk menegaskan kesan lawas.

Brian mengatakan restoran ini ingin menghadirkan alternatif makanan vegan yang acap kali dianggap mahal dan hambar.

“Ternyata makan sayur juga enak kok,” ujar Brian, menambahkan rumah makan Padang dipilih karena masakan tersebut salah satu yang populer di Jakarta.

Meski bahan-bahannya terbuat dari sayur, bumbu-bumbu yang dipakai dalam memasak hidangan di restoran tersebut kurang lebih sama dengan restoran Padang biasa.

Rasanya serupa dengan restoran Padang yang menggunakan daging dalam masakannya. Namun Anda mungkin akan menebak-nebak bahan apa yang dipakai sebagai pengganti masakan yang bahan aslinya berasal dari daging.

Sayur-mayur seperti kentang, jamur, tahu dan tempe menjadi pengganti daging di restoran ini. Pengunjung yang tak mengonsumsi telur maupun susu tak perlu khawatir saat menyantap makanan di sini. Loka Padang juga memisahkan bawang dalam hidangan agar konsumen yang tidak memakan bawang juga bisa menikmati sajian di sana.

Salah satu yang wajib dicoba adalah sate Padang yang nyaris tak ada bedanya, baik soal tekstur dan rasa. Sebgai pengganti daging, sate Padang di restoran ini dibuat dari potongan tahu dan jamur.

Menu rendang yang wajib ada di setiap restoran Padang juga tidak ketinggalan, tapi bahan dasarnya diganti menjadi kentang dan jamur. Rendang jamur di sini lebih mirip kalio yang teksturnya masih lengket dan basah, bukan rendang kering yang warnanya cokelat kehitaman.

Restoran ini juga menyajikan sayur mayur seperti daun ubi tumbuk, tumis pare hingga kudapan berupa bakwan jagung dan tempe bakar Padang.

Tersedia nasi putih dan nasi merah untuk pengunjung yang ingin kenyang tapi memilih alternatif lebih sehat.

Untuk melegakan dahaga, ada es timun yang segar, wedang secang hingga teh tarik yang menggunakan susu kedelai namun tetap lezat.

Pengunjung setidaknya harus merogoh kocek Rp40.000 untuk menyantap nasi lengkap dengan lauk, sayur, sambal dan minuman. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Kuliner

Begini Cara Terbaik Makan Kiwi Menurut “Chef”

Published

on

Cara terbaik makan kiwi adalah memakannya langsung setelah dikupas atau dipotong.

Femme.id, Jakarta – Salah satu cara praktis menyantap buah adalah memotong-motong lalu menyimpannya di lemari pendingin sehingga siap dimakan kapan pun, namun itu tidak berlaku untuk buah kiwi.

Buah asal China, namun populer sesuai nama burung kiwi dari Selandia Baru itu dagingnya ada yang berwarna hijau muda dan kuning keemasan. Buah tersebut, menurut juru masak andal (chef), lebih baik dimakan sesegera mungkin setelah kulitnya dikupas agar terasa lebih segar dan lezat.

Chef I Made Kona dari The Dharmawangsa Jakarta mengatakan cara terbaik makan kiwi adalah memakannya langsung setelah dikupas atau dipotong.

“Cara makan yang alami biasanya dibuka, lalu disendok,” kata Chef I Made Kona usai acara pembukaan “Taste New Zealand”, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Dia tidak menyarankan untuk memotong-motong kiwi lalu mendiamkannya dalam waktu lama sebelum dimakan.

Buah dengan cita rasa segar dan asam ini juga bisa dinikmati dengan madu agar terasa lebih manis. Jika ingin berkreasi, dikemukakannya, kiwi juga bisa disajikan menjadi es krim, gelato, bahkan selai.

“Bisa dibuat jadi selai asal jangan gosong, nutrisi takkan hilang asal temperatur memasak tidak tinggi,” ujar dia.

Chef Made pun memberikan kiat memilih buah kiwi dengan tingkat kematangan yang tepat. Kuncinya adalah merasakan tekstur buah.

Bila terlalu keras, ia menilai, artinya kiwi masih terlalu muda dan rasanya biasanya sangat asam.

“Cari yang ketika dipegang agak sedikit lembek, tapi tidak terlalu lembek, pakai feeling,” kata dia. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.