Connect with us

Health

Mayoritas Orang Indonesia Berhubungan Seks Tanpa Alat Kontrasepsi

Published

on

Dari sekian banyak jenis alat kontrasepsi, riset HonestDocs menemukan bahwa mayoritas responden (63,2%) memilih kondom sebagai alat kontrasepsi utama.

Femme.id, Jakarta – Sekitar dua pertiga orang Indonesia melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi sehingga memicu tingginya angka kehamilan di luar nikah serta meningkatkan risiko penularan penyakit seksual.

Menurut hasil penelitian HonestDocs, platform penyedia informasi kesehatan, hanya 33 persen responden yang menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan seks, sementara 67 persen lainnya tidak.

Mayoritas responden itu tidak menggunakan alat kontrasepsi dalam hubungan seks mereka karena berbagai alasan, seperti mengurangi kenikmatan hubungan intim, takut efek samping, mencoba hamil, alasan agama, atau karena sudah steril.

Riset nasional yang bertujuan mengidentifikasi metode dan pola kontrasepsi terpopuler di Indonesia ini melibatkan 13.506 responden dari berbagai usia, dengan proporsi responden wanita 51 persen dan pria sebesar 48 persen, yang sebagian besar berusia subur, 25-34 tahun.

Penelitian ini juga menemukan bahwa Bengkulu, Aceh, Yogyakarta, dan Banten merupakan provinsi dengan tingkat penggunaan kontrasepsi terendah, jelas HonestDocs dalam pernyataannya, Kamis (8/8/2019).

Angka penggunaan kontrasepsi ini cukup mengkhawatirkan, terutama karena angka kehamilan remaja Indonesia di luar nikah kerap meningkat lebih dari 500 kasus setiap tahun.

Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia pada tahun 2017, hal ini disebabkan karena rendahnya pengetahuan anak muda tentang kesehatan reproduksi, serta kurangnya akses terhadap informasi yang akurat tentang metode kontrasepsi.

“Kami membuat riset ini dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kontrasepsi. Selain efektif mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, alat kontrasepsi juga penting digunakan untuk mencegah penyebaran infeksi menular seksual (IMS),” kata tim dokter HonestDocs.

Oleh karena itu, tim HonestDocs selalu memberikan pemaparan yang jelas dan akurat tentang kesehatan reproduksi dan metode kontrasepsi melalui website yang telah didukung oleh tenaga medis.

“Harapannya, kami dapat meningkatkan pengetahuan umum masyarakat, terutama anak muda yang aktif secara seksual,” kata mereka menambahkan.

Dari sekian banyak jenis alat kontrasepsi, riset HonestDocs menemukan bahwa mayoritas responden (63,2%) memilih kondom sebagai alat kontrasepsi utama.

Kondom memiliki tingkat efektivitas hingga 98 persen untuk pencegahan kehamilan dan menjadi satu-satunya alat kontrasepsi yang dapat mencegah penularan penyakit seksual.

Kondom dipilih karena praktis, mudah ditemukan di toko, dan memiliki harga yang terjangkau. Berdasarkan riset, kondom paling banyak digunakan oleh responden usia muda, yaitu 18-24 tahun (78%) dan remaja 12-17 tahun (72%).

Setelah kondom, alat Intrauterine Device (IUD) menjadi pilihan kedua responden (8,9%) dengan tingkat efektivitas yang hampir sempurna, yaitu 99,8 persen.

Sementara itu, pil KB yang memiliki tingkat efektivitas hingga 98 persen menjadi alat kontrasepsi ketiga yang paling populer di Indonesia (7,4%). Sisanya, responden memilih berbagai alat kontrasepsi lain, seperti suntik KB (5%), tubektomi/sterilisasi (3,1%), KB implan (1,5%), ejakulasi di luar (1,1%), vasektomi pria (0,6%), spermisida (0,6%), dan diafragma (0,6%).

Setiap alat kontrasepsi memiliki kelebihan, kekurangan, dan tingkat efektivitas yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi semua pasangan di Indonesia untuk mengetahui informasi lengkap tentang alat kontrasepsi yang dipilih.

Didirikan pada tahun 2017, kini platform HonestDocs telah melayani lebih dari 20 juta pengguna aktif setiap bulannya. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Health

Kebanyakan Makan Daging Olahan Berisiko Rusak Retina

Published

on

Lemak jenuh pada daging olahan bisa berbahaya karena mengganggu pembuluh darah kecil di mata.

Femme.id, Jakarta – Orang-orang yang terlalu banyak mengonsumsi daging merah, daging olahan, makanan yang digoreng dan susu tinggi-lemak berisiko tiga kali lipat mengalami kondisi mata yang merusak retina dan mempengaruhi penglihatannya, menurut hasil penelitian. dari University at Buffalo.

Kondisi tersebut, seperti dilansir Science Daily disebut degenerasi makula terkait usia lanjut (AMD). AMD tidak dapat dipulihkan dan mempengaruhi penglihatan sentral seseorang.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti mempelajari kejadian AMD selama sekitar 18 tahun pada peserta studi yang tergabung dalam Komunitas Berisiko Atherosclerosis (ARIC).

Shruti Dighe, dari departemen Epidemiologi UB’s School of Public Health and Health Professions dan koleganya menggunakan 66 makanan berbeda yang dikonsumsi partisipan antara 1987 dan 1995.

Mereka mengidentifikasi dua pola diet dalam kelompok ini sebagai diet Barat dan apa yang biasa disebut oleh para peneliti sebagai diet sehat.

Diet Barat diidentikan dengan konsumsi daging merah dan olahan, makanan yang digoreng dan produk susu tinggi lemak.

“Orang yang tidak memiliki AMD atau AMD awal pada awal penelitian melaporkan sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat, lebih mungkin mengembangkan penyakit tahap akhir yang mengancam penglihatan, sekitar 18 tahun kemudian,” kata Amy Millen, salah satu peneliti studi.

AMD tahap awal tidak menunjukkan gejala sehingga membuat penderita seringkali tidak menyadarinya. Untuk mendeteksinya, dokter harus meninjau foto retina orang tersebut, mencari perubahan pigmen atau endapan kuning yang terbuat dari lipid.

“Ketika tahapnya lanjut, mereka akan mulai melihat gejala visual. Penglihatan mereka akan mulai berkurang,” kata Dighe.

Tetapi tidak semua orang yang memiliki AMD awal berkembang ke tahap akhir.

Sampai saat ini, penelitian telah memfokuskan pada nutrisi spesifik – seperti antioksidan dosis tinggi – yang tampaknya memiliki efek perlindungan terhadap AMD.

Tapi, Dighe menjelaskan, orang mengkonsumsi berbagai makanan dan nutrisi, bukan hanya satu atau dua, dan itulah sebabnya melihat pola diet membantu.

“jika Anda memiliki AMD dini, ada baiknya Anda membatasi konsumsi daging olahan, makanan yang digoreng, biji-bijian olahan dan susu tinggi-lemak untuk menjaga penglihatan Anda dari waktu ke waktu,” saran Millen. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Musim Hujan Tiba, Cegah Pilek dengan Rajin Cuci Tangan

Published

on

Mencuci tangan juga menjadi salah satu langkah pencegahan infuenza akibat virus influenza.

Femme.id, Jakarta – Serangan virus ditambah hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir dan pertahanan tubuh yang rendah bisa saja membuat Anda terkena berbagai penyakit, salah satunya pilek.

Beberapa virus penyebab pilek dapat hidup di permukaan benda selama berjam-jam dan mencuci tangan secara teratur adalah salah satu strategi terbaik agar virus ini tidak masuk ke dalam tubuh Anda.

Tak hanya pilek, Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF), dokter Cissy B. Kartasasmita dalam sebuah acara menekankan kebiasaan mencuci tangan juga menjadi salah satu langkah pencegahan infuenza akibat virus influenza.

Selain itu, seperti dilansir WebMD, dan kalaupun Anda terlanjur terserang pilek dan influenza, mencuci tangan dan membersihkan permukaan berkuman itu akan mencegah penyebaran kuman ke orang lain.

Sebuah program “Operation Stop Cough: di pusat komando pelatihan rekrutmen militer di Illinois, Amerika pernah merekrut orang dan meminta mereka mencuci tangan setidaknya lima kali sehari.

Setelah dua tahun, laporan menunjukkan, kasus terkait penyakit pernapasan 45 persen lebih sedikit dibandingkan sebelum program dimulai.

Lalu bagaimana cara mencuci tangan yang benar?

Cara terbaik untuk mencuci tangan: Pertama, basahi tangan Anda dengan air. Lalu gunakan sabun.

Dokter spesialis anak, dr. Kanya Fidzuno, Sp.A pernah mengatakan Anda tak perlu menggunakan sabun khusus. Namun ingatlah prinsipnya mencuci tangan menggunakan air yang mengalir dan sabun sebelum makan, setelah makan dan setelah dari toilet.

Ingatlah untuk menggosok seluruh bagian kedua tangan selama 20 detik. Pastikan untuk menggosok pergelangan tangan, di antara jari-jari, dan di bawah kuku. Ketika Anda punya waktu, gunakan sikat kuku, karena kuman sering bersembunyi di bawah kuku.

Kemudian, bilas tangan Anda sampai bersih dan keringkan dengan handuk, tisu bersih atau pengering udara.

Jika Anda berada di toilet umum, matikan keran dengan tisu toilet dan cobalah mendorong pintu hingga terbuka dengan bahu Anda, atau gunakan tisu atau kertas toilet untuk memutar kenop pintu. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Empat Mitos Melahirkan Caesar yang Harus Diketahui

Published

on

Ketika melahirkan secara caesar, ibu akan menjalani proses anestesi dengan obat bius. Meski jarang terjadi, efek samping obat bius, seperti pusing dan mati rasa yang bertahan lama.

Femme.id, Jakarta – Ada anggapan bahwa perempuan yang melahirkan dengan proses sesar bukanlah ibu yang sempurna, hal ini kemudian membuat para calon ibu ragu untuk menjalani operasi. Faktanya, anggap tersebut hanyalah sebuah mitos.

Pada kondisi tertentu seperti letak bayi sungsang, bayi terlalu besar, kembar lebih dari dua dan plasenta yang ada di bawah (plasenta previa), melahirkan secara sesar merupakan jalan terbaik untuk ibu dan anak.

Sebelum berpikir macam-macam tentang melahirkan sesar, berikut ini ada empat mitos dan fakta yang harus Anda ketahui mengenai operasi sesar seperti yang dijabarkan oleh dr. Merry Dame Cristy Pane dari tim dokter ALODOKTER melalui keterangan yang diterima, Jumat (6/12/2019).

1. Operasi sesar menunda proses menyusui

Anggapan ini tentunya kurang tepat, karena saat melahirkan dengan operasi sesar, ada pilihan metode pembiusan yang akan dilakukan. Jika dilakukan bius total, mungkin pemberian ASI baru bisa dilakukan saat ibu sadar penuh.

Sebagian besar operasi sesar biasanya menggunakan bius sebagian atau epidural yang hanya membuat area pinggang ke bawah mati rasa. Bius epidural akan membuat bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar boleh langsung ditaruh di dada ibu, untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) layaknya melahirkan normal.

IMD yang dilakukan pada operasi sesar memang sedikit berbeda dengan melahirkan normal. Pada persalinan normal, bayi akan diletakkan di perut ibu. Sedangkan pada operasi sesar, bayi akan diletakkan di dada.

2. Gagal jadi ibu karena tidak merasakan sakit

Mitos ini tentu tidak benar, karena baik melahirkan normal atau sesar sama-sama merasakan sakit. Bedanya, sakit melahirkan normal terjadi saat proses persalinan, sedangkan sakit melahirkan sesar dirasakan setelah proses persalinan atau setelah efek bius hilang.

Ibu yang melahirkan normal dan sesar tetap mengalami nifas dan memiliki risiko baby blues syndrome, depresi pascamelahirkan dan infeksi.

3. Sekali sesar, selamanya sesar

Anggapan ini tidaklah benar, jika tidak ada masalah kesehatan baik pada ibu maupun janin, Anda tetap masih bisa melahirkan normal setelah operasi sesar.

Namun, memang ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, seperti jarak kehamilan, alasan dilakukan operasi sesar sebelumnya, kondisi janin dan ibu, serta riwayat kesehatan ibu.

4. Bayi yang lahir sesar rentan sakit

Keyakinan ini tak sepenuhnya salah. Bayi yang lahir secara sesar memang lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan, terlebih jika proses persalinannya dilakukan sebelum usia kehamilan 39 minggu.

Hal ini karena proses pematangan paru dan proses persalinan normal bisa membantu bayi mengeluarkan cairan dari paru-parunya.
Namun, kesehatan bayi tidak sepenuhnya bergantung pada pilihan proses persalinan yang dilakukan, karena ada banyak faktor lain yang juga memengaruhi, mulai dari proses menyusui, imunisasi, hingga gaya dan pola hidup sehat yang dijalani bayi ke depannya.

Baik melahirkan normal maupun sesar, sama-sama memiliki keuntungan dan kerugian. Jika Anda masih ragu dan bingung, berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan proses persalinan yang terbaik. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.