Connect with us

Digital

Live Transcribe Google Permudah Penyandang Gangguan Pendengaran

Published

on

Google Live Transcribe versi beta saat ini hanya tersedia untuk Android, mereka belum merencanakan aplikasi ini ada di perangkat berbasis iOS.

Femme.id, Jakarta – Raksasa internet Google sedang mengembangkan teknologi pengenal suara yang dapat mengubah suara menjadi teks, Live Transcribe, untuk pengguna ponsel yang memiliki gangguan pendengaran.

Live Transcribe mirip dengan fitur speech-to-text, dari suara ke teks, namun, dilengkapi dengan kemampuan audio yang dapat mereduksi kebisingan (noise) di lingkungan sekitar.

Live Transcribe akan memunculkan teks sesuai dengan apa yang dikatakan pembicara, dalam waktu yang aktual atau bersamaan dengan saat berbicara.

Tampilan aplikasi Live Transcribe sangat sederhana, hanya berupa layar besar untuk menampilkan teks dan titik berwarna biru untuk menunjukkan proporsi audio suara yang berbicara dengan tingkat kebisingan di sekitar.

Volume suara akan ditunjukkan melalui lingkaran berwarna biru muda, sementara suara bising berwarna biru tua. Live Transcribe juga menyediakan kolom untuk mengetik.

Aplikasi terpisah Live Transcribe saat ini masih dalam versi beta, cara kerjanya, setelah memasang aplikasi tersebut di ponsel, pengguna cukup berbicara seperti biasa dan ponsel akan memuat transkripsi apa yang dibicarakan.

Manajer Produk Riset Kecerdasan Buatan Google, Sagar Savla, menjelaskan untuk menggunakan aplikasi ini, pengguna harus tersambung ke internet karena Live Transcribe membutuhkan koneksi ke pusat data Google untuk mengenali suara ke teks.

“Kami tidak merekam pembicaraan satu pun,” kata Sagar, dalam sambungan video kepada media di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Sagar memastikan apa yang dikatakan pengguna tidak akan terekam baik di ponsel maupun di server Google.

Google Live Transcribe versi beta saat ini hanya tersedia untuk Android, mereka belum merencanakan aplikasi ini ada di perangkat berbasis iOS.

Live Trancsribe tersedia dalam 70 bahasa, diantaranya bahasa Inggris, Indonesia, Sunda dan Jawa, dan dapat dipasang di sistem operasi minimum Android Lolipop hingga versi terbaru Pie. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Digital

Google Lacak Semua Aktivitas Belanja Online Penggunanya

Published

on

Google menyatakan pelacakan ini hanya dilihat oleh pemilik akun dan pengguna dapat menghapus informasi tersebut.

Femme.id, Jakarta – Google secara diam-diam mencatat semua aktivitas belanja online yang tersambung ke akun personal Gmail penggunanya.

Laman The Verge menulis catatan transaksi tetap ada meski pun dilakukan 10 tahun yang lalu. Bahkan sejumlah transaksi belanja langsung yang menggunakan kartu kredit juga tercatat.

Transaksi langsung dapat terlacak oleh Gmail jika mesin melihat nomor kartu kredit dan nama yang terhubung dengan email untuk mengirimkan tanda terima belanja, program penawaran dan dalam kasus tertentu mengumpulkan data belanja.

Google menyatakan pelacakan ini hanya dilihat oleh pemilik akun dan pengguna dapat menghapus informasi tersebut.

“Kami tidak menggunakan informasi dari pesan Gmail untuk mengirim Anda iklan, dan informasi tersebut termasuk email tanda terima dan konfirmasi yang ada di laman pembelian,” kata Google.

Dikutip dari laman Phone Arena, informasi ini bisa dihapus dari laman Pembelian atau Purchase, yang berada di laman myaccount.google.com.

Klik transaksi yang ingin dilihat dan pilih kolom hapus di bawah total transaksi. Pengguna akan diarahkan ke email tanda terima transaksi tersebut di Gmail. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Digital

Facebook Ubah Tampilan Konten di News Feed

Published

on

Facebook akan melatih algoritme mereka berdasarkan pola komunikasi tersebut untuk memprediksi siapa saja yang dekat dengan pemilik akun dan akan muncul di News Feed.

Femme.id, Jakarta – Facebook memperbaiki tampilan Kabar Berita atau News Feed berdasarkan interaksi pemilik akun dengan pengguna, tidak lagi menampilkan semua unggahan dari teman atau laman yang diikuti.

“Tujuan dari News feed adalah untuk menghubungkan orang-orang dengan unggahan yang paling relevan untuk mereka. Kami pernah menyatakan, penggunaan bukan berdasarkan jumlah waktu yang dihabiskan di Facebook, tapi, kualitas waktu yang dihabiskan,” kata Facebook dalam blog resmi mereka, dikutip Minggu (19/5/2019).

Facebook meminta pengguna mereka untuk menyusun daftar teman yang mereka anggap dekat. Mereka akan menganalisis pola komunikasi, misalnya berada dalam foto yang sama atau sering memberikan komentar atau reaksi di unggahan.

Facebook akan melatih algoritme mereka berdasarkan pola komunikasi tersebut untuk memprediksi siapa saja yang dekat dengan pemilik akun dan akan muncul di News Feed.

Pengguna akan melihat unggahan dari orang-orang terdekat di laman teratas News Feed, namun, tidak berarti mereka sama sekali tidak bisa melihat unggahan dari teman-teman lain yang tidak masuk ke daftar teman dekat mereka.

Algoritme serupa juga digunakan untuk menentukan unggahan atau tautan apa yang relevan dengan pengguna. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Digital

Banyak Warganet Indonesia Belum Pernah Belanja Online

Published

on

Warganet yang tidak pernah berbelanja online khawatir barang yang mereka beli tidak sampai ke tujuan (9,5 persen) dan merasa kesulitan karena harus membayar dengan cara transfer (9 persen).

Femme.id, Jakarta – Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2018 tentang penetrasi dan profil pengguna Internet menunjukkan lebih dari separuh responden mengaku tidak pernah berbelanja online.

Survei tersebut mengemukakan 56 persen responden menjawab tidak pernah berbelanja melalui platform online. Sebanyak 24 persen responden menjawab mereka belum tentu bertransaksi online dalam sebulan, sementara yang menjawab belanja online sebulan sekali berjumlah 7,6 persen.

Mereka beralasan lebih suka datang langsung ke toko karena akan langsung mendapatkan barang (18,8 persen) dan belum bisa menggunakan aplikasi belanja online (12,2 persen).

Warganet yang tidak pernah berbelanja online khawatir barang yang mereka beli tidak sampai ke tujuan (9,5 persen) dan merasa kesulitan karena harus membayar dengan cara transfer (9 persen).

Hasil serupa juga berlaku untuk pertanyaan barang yang pernah dibeli secara daring, 58,8 persen menjawab tidak pernah bertransaksi online, demikian menurut hasil survei yang dipublikasikan beberapa waktu lalu.

Sementara bagi yang menjawab pernah berbelanja online, mereka membeli pakaian (14,6 persen), buku (4 persen) dan aksesoris (3 persen).

APJII dalam survei tersebut memberikan pertanyaan platform yang mereka gunakan untuk berbelanja, hasilnya 53,4 persen menjawab tidak pernah berkunjung ke platform belanja daring.

Platform belanja Shopee berada di urutan pertama yang sering digunakan bertransaksi masyarakat Indonesia, berjumlah 11,2 persen, diikuti Bukalapak 8,4 persen, Lazada 6,7 persen dan Tokopedia 4,3 persen.

Jumlah pengguna Internet di Indonesia pada 2018 berjumlah 171,17 juta dari total populasi Indonesia 264,16 juta jiwa. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.