Connect with us

Relationship

Saran Psikolog agar Anak Bijak Bermedsos

Published

on

Anak-anak umumnya belum memiliki kontrol impuls untuk memantau apa yang mereka "pajang" di media sosial.

Femme.id, Jakarta – Orangtua perlu memberikan kesadaran tentang pemanfaatan media sosial kepada anak dan remaja agar tidak memunculkan persoalan perundungan (bullying), demikian disampaikan psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo.

“Anak perlu disadarkan bahwa sosmed itu adalah ranah publik meskipun dia mengakses dari perangkat pribadinya. Anak merasa hak untuk mem-posting apapun karena melalui perangkatnya,” kata Vera di Jakarta, Rabu (10/4/2019), melalui surat elektronik.

Orangtua, lanjut Vera, perlu mengajak anak untuk membayangkan media sosial sebagaimana pusat perbelanjaan dengan berbagai karakter orang di dalamnya, seperti orang jahat ataupun baik. Dengan demikian, anak akan berhati-hati menggunakan media sosial.

Vera juga meminta orangtua untuk tidak memberi hukuman fisik jika tidak berhasil mengajak diskusi kepada anak.

“Hukuman fisik tidak akan membawa hasil yang diharapkan. Justru anak hanya akan takut, tapi tidak paham mengapa dia tidak boleh sembarangan menggunakan media sosial,” katanya.

Jika anak terlanjur menjadi korban perundungan di media sosial, seperti yang dialami siswi Sekolah Menengan Pertama (SMP) di Pontianak bernama Audrey (14), orangtua bisa saja meminta anak menutup akun media sosialnya.

“Hal yang paling bijak adalah tidak membalas. Jika membalas, artinya kita sama buruknya dengan si pelaku bullying. Orangtua boleh menyimpan bukti bullying yang diterima anak melalui media sosial (screen shot dan sebagainya) sebagai bukti jika suatu saat nanti diperlukan,” ujar Vera. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Relationship

Psikolog Sarankan Perundung Audrey Direhabilitasi

Published

on

Bullying, adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Femme.id, Jakarta – Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi menilai para perundung Audrey (14), siswi SMP di Pontianak perlu mendapatkan rehabillitasi secara psikologis.

Menurut Vera, tak tampak penyesalan para pelaku pada korban. Padahal korban mengalami luka di sejumlah organ tubuhnya sehingga mendapatkan perawatan di rumah sakit.

“Perlu ada konseling rutin dan melibatkan mereka dalam aktivitas sosial yang dapat menumbuhkan empati mereka,” ujar dia, Rabu (10//2019).

Vera mengatakan usia para pelaku yang tergolong remaja masih riskan melakukan tindakan tanpa pertimbangan matang.

“Karenanya, perlu ada bimbingan dari orang-orang di sekitarnya agar mereka dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang baik-baik saja,” kata dia.

Sebelumnya, para pelaku yang masih berstatus siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) mengeroyok Audrey di sebuah bangunan di jalan Sulawesi, Pontianak, Kalimantan Barat pada 29 Maret lalu.

Mereka menginjak perut Audrey dan membenturkan kepala korban ke bebatuan. Akibat pengeroyokan itu, Audrey mengalami trauma dan dirawat di rumah sakit.Pemicu pengeroyokan diduga akibat masalah asmara dan saling komentar di media sosial.

Kemudian, menyoal asmara masa remaja, Vera menyarankan orangtua perlu bersikap bijak yakni tidak perlu terlalu mengekang namun juga tidak seharusnya membebaskan anak mereka menjalin suatu hubungan.

Mereka harus menetapkan batasan dan ini perlu didiskusikan dan disepakati bersama anak.

“Perubahan hormonal dalam diri remaja saat masuk masa pubertas, antara lain memunculkan perasaan suka terhadap lawan jenis, ini wajar-wajar saja sepanjang remaja tetap dibimbing agar tidak berlebihan dan melewati batas,” kata Vera. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Alasan Wajah Pasangan Mirip Walau Tidak Sedarah

Published

on

Ada beberapa sifat yang bisa menonjol dalam suatu hubungan ketika seseorang hidup bersama pasangannya seperti dominasi dan kepatuhan.

Femme.id, Jakarta – Wajah seseorang lambat laun akan mirip dengan pasangannya meskipun secara ilmiah kedua orang orang itu tidak ada hubungan darah atau genetik.

Para ilmuwan dari Universitas Michigan, pada 1987, meneliti fenomena kemiripan dari pasangan yang menikah. Mereka “menelurkan” teori pasangan yang berbagi emosi selama puluhan tahun jadi lebih mirip karena kesamaan kerutan wajah dan ekspresi.

Psikolog sosial yang berkantor di Indianapolis Justin Lehmiller, sekaligus seorang peneliti di Kinsey Institute dan penulis “Tell Me What You Want”, mengatakan orang secara alami cenderung menyerupai orang yang dekat dengan mereka meskipun seluruh tindakan mereka berlangsung di bawah sadar.

Ada beberapa sifat yang bisa menonjol dalam suatu hubungan ketika seseorang hidup bersama pasangannya seperti dominasi dan kepatuhan. Tapi Lehmiller mengatakan, “apa yang akrab bagi kita cenderung menjadi apa yang kita sukai dan tertarik pada kita,” bahkan jika kita tidak secara eksplisit menyadarinya.

Fenomena itu meluas hingga ke penampilan. “Anda terbiasa dengan penampilan Anda sendiri, jadi melihat orang lain yang memiliki sifat yang sama dapat menyebabkan Anda lebih menyukainya karena alasan itu,” ujarnya.

Sebuah kajian pada 2013 membenarkan pernyataan Lehmiller. Dalam percobaan, orang diperlihatkan gambar wajah pasangan romantis mereka yang telah diubah secara digital untuk memasukkan beberapa fitur dari wajah lain – baik wajah acak lain, atau wajah peserta studi itu sendiri.

Peserta laki-laki dan perempuan secara konsisten menilai fitur wajah mereka sendiri sebagai yang paling menarik.

Sebuah studi sebelumnya mencapai temuan serupa tentang gambar komposit, unsur dari fitur seseorang. Studi itu juga menemukan orang-orang secara bawah sadar tertarik pada fitur-fitur dari orang tua lawan jenis mereka.

Peserta studi menilai gambar orang lain sebagai lebih menarik ketika gambar orang tua lawan jenis mereka dengan cepat melintas di layar terlebih dahulu. Temuan itu menunjukkan mereka secara tidak sadar dipersiapkan oleh wajah yang dikenalnya.

Penelitian lain pada 2018 mengamati orang-orang biracial atau keturunan dua ras cenderung tertarik dan berpasangan dengan orang-orang yang menyerupai orang tua mereka, tanpa memandang jenis kelamin.

“Preferensi orang tua itu mungkin tampak sedikit menyeramkan, tetapi itu tidak bermasalah atau bahkan sangat mengejutkan,” kata Lehmiller.

Banyak penelitian telah menemukan bahwa pasangan cenderung lebih mirip secara genetik daripada orang asing, mulai dari tinggi tubuh hingga pencapaian pendidikan.

Ada juga beberapa bukti awal bahwa orang mungkin tertarik pada pasangan potensial yang berasal dari keturunan yang sama – setidaknya untuk pasangan kulit putih, karena mereka telah menjadi fokus sebagian besar penelitian awal.

Kedua kecenderungan ini dapat secara layak diterjemahkan ke kesamaan fisik dalam pasangan. (ida)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Menetapkan Tujuan Hidup Realistis Jadi Kunci Kepuasan, Kata Studi

Published

on

Pentingnya tujuan ternyata kurang relevan untuk kesejahteraan kemudian dari yang diharapkan.

Femme.id, Jakarta – Menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai mungkin menjadi kunci bagi kesejahteraan dan kepuasan hidup Anda, kata para peneliti dari University of Basel di Swiss.

Tujuan dapat berkontribusi secara substansial pada seberapa puas orang dalam hidup – atau betapa tidak puasnya jika tujuan penting tidak dapat dicapai.

Seperti dilansir dari Indian Express, Kamis (21/2/2019), para peneliti melakukan pemeriksaan terperinci tentang bagaimana tujuan hidup tertanam pada orang dewasa.

Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Personality ini memasukkan data dari 973 orang yang berusia antara 18-92 di Swiss; lebih dari setengah partisipan disurvei lagi setelah dua dan empat tahun.

Para partisipan harus menilai pentingnya dan pencapaian yang dirasakan dari tujuan hidup di sepuluh bidang antara lain kesehatan, komunitas, hubungan sosial, ketenaran, citra, kekayaan, keluarga, tanggung jawab atau perawatan untuk generasi muda, dan pekerjaan.

Hasilnya, menganggap tujuan pribadi sebagai hal yang dapat dicapai adalah indikator untuk kesejahteraan kognitif dan efektif di kemudian hari. Ini menyiratkan bahwa orang paling puas jika mereka memiliki perasaan kontrol dan pencapaian.

Menariknya, pentingnya tujuan ternyata kurang relevan untuk kesejahteraan kemudian dari yang diharapkan.

Tujuan hidup juga memiliki kekuatan prediksi untuk domain tertentu. Mereka yang menetapkan tujuan hubungan sosial atau tujuan kesehatan, lebih puas dengan hubungan sosial atau kesehatan mereka sendiri. Hal ini tak tergantung pada usia. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.