Connect with us

Health

Benarkah Ginjal Bisa Rusak karena Hipertensi

Published

on

Penyakit ginjal pada awalnya tidak menunjukkan gejala khas sehingga sering terlambat diketahui. Untuk itu, penting untuk mengenali faktor risiko penyakit ini.

Femme.id, Jakarta – Di antara sederet faktor risiko seseorang terkena penyakit ginjal, hipertensi adalah salah satunya, menurut Dokter spesialis ginjal dari PERNEFRI, dr. Aida Lydia, PhD., SpPD-KGH.

Menurut Aida, hipertensi mengganggu pembuluh darah ginjal (nefron) sehingga menyebabkan kerusakan filtrasi ginjal dan berakhir dengan terganggunya fungsi ginjal.

“Hipertensi menganggu pembuluh darah, terjadi kerusakan filtrasi dan lama-lama menganggu fungsi ginjal,” ujar dia dalam konferensi pers “World Kidney Day 2019” di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Selain hipertensi, masalah ginjal juga disebabkan faktor lain seperti diabetes melitus, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang melakukan aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat.

Riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, usia tua juga menjadi faktor risiko seseorang terkena penyakit ginjal.

Penyakit ginjal pada awalnya tidak menunjukkan gejala khas sehingga sering terlambat diketahui. Untuk itu, penting untuk mengenali faktor risiko penyakit ini.

Saat ini diperkirakan sekitar 10 persen penduduk dunia menderita penyakit ginjal kronik dan prevalensi penyakit ini cenderung lebih tinggi di negara berkembang.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi PGK mencapai 3,8 persen atau naik 1,8 persen dari tahun 2013. Sementara survei PERNEFRI 2009 di empat area urban dan suburban memperlihatkan angka 12,5 persen.

“Lebih dari 20 ribu pasien belum mendapatkan akses pelayanan ginjal. Masih banyak yang datang terlambat, saat fungsi ginjal sangat menurun, sudah gagal ginjal,” kata Aida. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Health

Apakah Meja Berdiri Bisa Bantu Turunkan Berat Badan?

Published

on

Efek meja kerja berdiri melalui enam parameter yakni perilaku misalnya waktu duduk dan berdiri, fisiologis, psikologis, performa kerja, postur dan rasa tak nyaman.

Femme.id, Jakarta – Sebagian orang berpendapat meja yang dirancang untuk bekerja sambil berdiri bisa membantu menurunkan berat badan, namun sebuah studi dalam jurnal Applied Ergonomics membantah pendapat itu.

Seperti dilansir Medical News Today, yang dikutip Jumat (22/3/2019), peneliti mengamati 53 studi yang berfokus pada manfaat meja kerja yang dirancang untuk digunakan sambil berdiri.

“Dengan latar belakang saya di bidang pencegahan cedera dalam bidang kerja, saya ingin mengumpulkan apa yang selama orang tahu mengenai manfaat meja berdiri di tempat kerja,” kata April Chambers, asisten profesor bioengineering di University of Pittsburgh, Pennsylvania.

Dari 53 studi yang didalami, ada 47 studi berbasis eksperimen dan rata-rata melibatkan 6-231 orang partisipan yang diamati selama setahun.

Chambers memeriksa efek meja kerja berdiri melalui enam parameter yakni perilaku –misalnya waktu duduk dan berdiri–, fisiologis, psikologis, performa kerja, postur dan rasa tak nyaman.

Asisten profesor terapi okupasi di Tufts University, Medford, MA, Nancy A. Baker yang juga terlibat dalam penelitian, mengatakan dampak terkuat dari penggunaan meja berdiri ada pada perubahan perilaku dan rasa tak nyaman.

Dengan kata lain, orang yang menggunakan meja kerja khusus ini berkurang waktunya untuk duduk dan lebih banyak berdiri dibandingkan mereka yang menggunakan meja biasa.

Dari sisi efek fisiologis, peneliti melaporkan bahwa meja kerja berdiri tidak berdampak signifikan untuk penderita obesitas.

“Ada berbagai manfaat kesehatan menggunakan meja kerja berdiri, misalnya berkurangnya tekanan darah, nyeri tulang belakang bagian bawah, tetapi tidak ada pembakaran kalori yang cukup untuk menurunkan berat badan,” kata Chambers.

Secara spesifik, penelitian lanjutan di tempat kerja diperlukan untuk mengetahui hal lainnya termasuk soal variasi penggunaan barang secara tepat di tempat kerja. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Sering Berkemih di Malam Hari? Mungkin Ini Penyebabnya

Published

on

Infeksi Saluran Kemih (ISK) menyebabkan seseorang buang air kecil di siang dan malam hari, bahkan bisa disertai rasa sakit dan demam dalam beberapa kasus.

Femme.id, Jakarta – Orang normal buang air kecil setiap enam hingga delapan jam per hari, dan adakalanya beberapa orang harus terbangun tengah malam untuk berkemih.

Ketika kencing pada larut malam sering terjadi, bisa jadi karena nokturia atau ada penyebab lainnya.

Dikutip dari laman Medical Daily, Kamis (20/3/2019), berikut ini penyebab paling umum buang air kecil pada malam hari.

Kandung kemih kecil

Ada dua kemungkinan alasan seseorang sering buang kencing, salah satunya memiliki kandung kemih kecil yang tidak bisa menampung cukup cairan. Alasan lainnya, tubuh memproduksi terlalu banyak urine.

Namun, jika kebutuhan untuk buang air kecil sering terjadi pada waktu tidur, Anda mungkin minum terlalu banyak cairan pada malam hari, menurut WebMD.

Infeksi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) menyebabkan seseorang buang air kecil di siang dan malam hari, bahkan bisa disertai rasa sakit dan demam dalam beberapa kasus.

Usia dan jenis kelamin

Seiring bertambahnya usia, tubuh menghasilkan lebih sedikit hormon antidiuretik yang memungkinkan orang menahan cairan sampai pagi.

Namun, mereka yang mengalami masalah kesehatan seperti memiliki pembesaran prostat untuk pria atau menopause untuk wanita, kemungkinan besar akan buang air kecil lebih banyak di malam hari.

Wanita juga memiliki panggul yang lebih lemah setelah melahirkan. Hal ini menyebabkan saluran kemih menjadi lebih kecil, membuat mereka lebih sering berkemih.

Obat

Beberapa dokter merekomendasikan obat yang membuat Anda buang air kecil berlebih. Berkemih di malam hari bisa dicegah jika obat itu diminum lebih awal.

Nokturia

Penyebab paling umum kencing lebih banyak di malam hari adalah nokturia. Ini adalah efek samping dari kurang tidur di antara orang dewasa.

Beberapa orang yang menderita nokturia memiliki tumor di prostat atau kandung kemih yang memengaruhi kendali sfingter mereka.

Biasanya, mereka buang air kecil sekali setiap malam. Mereka yang buang air kecil dua kali atau lebih ditemukan menderita kelelahan di siang hari, menurut Sleep Foundation.

Nokturia adalah kondisi umum saat seseorang bertambah tua. Tubuh memproduksi lebih sedikit hormon antidiuretik dan ini membuatnya mempertahankan cairan tubuh. Berkurangnya konsentrasi hormon ini menyebabkan sering buang air kecil di malam hari. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Gigi Sehat Bisa Jadi Kunci Percaya Diri

Published

on

29 persen anak yang mengalami masalah gigi juga juga sulit tidur, dan 37 persen anak absen setidaknya dua hari per tahun karena sakit gigi.

Femme.id, Jakarta – Gigi yang sehat bisa membuat seseorang merasa nyaman pada dirinya sehingga kepercayaan diri pun muncul.

Menurut survei global yang dilakukan Pepsodent pada 2018 dan melibatkan 4.094 anak berusia 6-17 tahun, sebanyak 48 persen anak yang sakit gigi mengalami kehilangan kepercayaan diri.

Survei yang dilakukan di delapan negara, Indonesia, Ghana, Chile, Vietnam, Prancis, Italia, Amerika Serikat dan Mesir itu menyebut, anak-anak itu enggan berbicara di depan kelas karena memiliki masalah pada gigi dan mulut.

“Anak-anak yang bermasalah dengan gigi dan mulut cenderung dua kali lebih rentan mengalami krisis kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi bahkan menolak untuk memperlihatkan senyum mereka,” kata Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc. selaku Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Selain itu, 29 persen anak yang mengalami masalah gigi juga juga sulit tidur, dan 37 persen anak absen setidaknya dua hari per tahun karena sakit gigi.

“Secara global dibandingkan anak yang tidak punya masalah gigi dan mulut, anak yang sakit merasa tidak perform baik di sekolah,” tutur Mirah.

Sementara itu, psikolog keluarga Ayoe Sutomo menambahkan, rasa percaya diri bisa timbul dari rasa nyaman terhadap kondisi fisik.

“Individu yang merasa nyaman secara fisik cenderung memiliki self esteem yang baik, lebih mampu menghadapi segala tantangan, jadi lebih percaya diri,” katanya.

Dengan begitu, mereka yang memiliki masalah pada gigi cenderung mengalami krisis kepercayaan diri? Jawabannya iya dan ini berlaku juga pada anak-anak. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.