Connect with us

Fashion

Kemenperin Tingkatkan Kapasitas IKM Fesyen Muslim Ikuti Industri 4.0

Published

on

Pelaku IKM fesyen muslim harus memiliki strategi yang tepat baik dalam aspek bisnis, desain, dan branding, sehingga para pelaku IKM fesyen muslim dapat mengembangkan usahanya.

Femme.id, Bandung – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) saat ini sedang merumuskan konsep implementasi Industri 4.0 untuk industri fesyen muslim agar Industri Kecil Menengah (IKM) di sektor tersebut dapat merasakan manfaatnya.

“Revolusi industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun menjadi peluang baru, sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri,” kata Direktur IKM Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka Kementerian Perindustrian E Ratna Utarianingrum, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/3/2019).

Ditemui seusai membuka pelatihan pengembangan kapasitas bagi IKM Fesyen Muslim di Kota Bandung, Ratna mengatakan dunia industri dan manufaktur tengah bersiap menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang mengintegrasikan dunia daring dengan lini produksi di industri.

Dia mengatakan Industri 4.0 mengacu pada peningkatan otomatisasi, komunikasi antar-mesin dan antar-manusia dan mesin, artificial intelligence, serta pengembangan teknologi berkelanjutan.

Kemenperin, kata dia, terus berupaya mempersiapkan para pelaku IKM fesyen muslim di Indonesia untuk bisa menghadapi persaingan pasar global dan era Industri 4.0, salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan capacity building bagi IKM fesyen Muslim di Kota Kembang, Bandung.

Berbeda dengan pelatihan yang biasa diberikan bagi para pelaku IKM pemula yang berfokus pada teknik dasar produksi, kegiatan capacity building yang diikuti oleh 25 pelaku IKM fesyen muslim tersebut menitikberatkan pada pengembangan soft skill para pelaku IKM fesyen muslim dalam mengelola bisnis mereka.

Materi yang disampaikan meliputi perkiraan tren, pengembangan produk, strategi bisnis dan merek, dan bisnis fesyen.

“Peluang pasar fesyen muslim yang sangat besar mendorong para desainer-desainer dari negara yang bukan mayoritas penduduk muslim untuk turut menjajal meluncurkan lini produk fesyen muslim. Hal ini tentunya harus diperhatikan oleh para pelaku industri fesyen muslim di Indonesia,” kata Ratna.

Ia menambahkan pelaku IKM fesyen muslim harus memiliki strategi yang tepat baik dalam aspek bisnis, desain, dan branding, sehingga para pelaku IKM fesyen muslim dapat mengembangkan usahanya serta mampu bersaing di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Peserta pelatihan yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cimahi, dan Kota Tasikmalaya. sebagian peserta juga merupakan alumni dari Islamic Fashion Institut Indonesia (IFI), peserta Kegiatan Inkubator Bisnis Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung, serta desainer peserta kegiatan Modest Fashion Project (MOFP).

Para peserta adalah para pelaku usaha IKM fesyen muslim yang sudah memiliki merk atau brand, para peserta pelatihan tersebut sebelumnya telah diseleksi berdasarkan kualitas produk dan merek yang dibangun, sehingga diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini peserta dapat mengembangkan bisnis mereka lebih mandiri dan berdaya saing. (asd)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fashion

Koleksi Spring Summer Anggia Handmade Didominasi Warna Monokrom

Published

on

Salah satu Koleksi Spring Summer 2019 Anggia Handmade.

Femme.id, Jakarta – Perancang busana Anggia Mawardi melalui label Anggia Handmade mengeluarkan koleksi terbaru Spring Summer bertajuk “Revolution” di salah satu hotel kawasan Bandung, Kamis (21/3/2019).

Dalam pagelaran Annual Show Anggia Handmade kali kedua setelah 2016 itu, sang perancang memamerkan sekitar 75 koleksi busana berwarna monokrom dan coral dan tak semata evening wear seperti koleksi biasanya.

Anggia memperkenalkan karyanya untuk daily wear, syar’i, batik hingga baju koko dan menargetkan semua segmen pasar.

Dia menyiapkan semua koleksinya selama setahun terakhir, di masa kehamilan ketiganya. Inspirasinya bermula dari ide menciptakan busana yang sederhana, dengan cutting yang clean.

Untuk daily wear, ada sekitar 20 koleksi busana yang rata-rata menggunakan simple cut, clean dan menonjolkan warna monokrom dominan putih dengan aksen motif kotak. Material yang digunakan 100 persen cotton.

Setiap busana terdiri dari satu hingga tiga item yang bisa dipadupadankan dan menyasar mereka yang berusia 20-50 tahunan.

“Main styling saja untuk busana ready to wear, bisa dipadu padan sendiri. Tidak main banyak warna, dominasi putih, biru, mocca dengan aksen kotak-kotak dan cutting tak biasa,” kata Anggia di Bandung.

“Target Anggi bukan hanya di Indonesia tetapi untuk penjualan di luar negeri, jadi cari warna-warna monokrom, yang orang Indonesia dan luar suka. Anggi cari yang wearable, bahannya nyaman dan bisa dipakai sehari-hari,” sambung dia.

Dia juga mengeluarkan 10 koleksi busana wanita syar’i yang didominasi warna coral dan mocca. Semua koleksi ini merupakan gaun panjang dengan cutting A Line, dan detail lebih terfokus di bagian bawah berupa kombinasi bis dan kristal.

Busana bermaterial chiffon itu menurut Anggi ringan, sederhana dan tidak membentuk tubuh terlalu banyak.

“Bordir enggak full, simple. Bajunya bisa dipakai taklim atau umroh. Warnanya dominasi coral dan mocca. Untuk detail hanya bis dan kristal tetapi bukan Swarovski supaya harganya terjangkau. Lalu, Anggi menggunakan khimar,” tuturnya.

Selain itu, ada juga 10 koleksi busana batik menggunakan pewarna alam indigo berupa blouse dan outer dengan pallazo dan kain sarung yang dapat digunakan sebagai koleksi office wear atau acara resmi.

Untuk pria, Anggia berkolaborasi dengan label Intresse, menghadirkan baju muslim koko berwarna monokrom dan coral dengan aksen motif tenun kontemporer. Material cotton dan polyesther mendominasi koleksi koko ini.

“Baju koko, Anggi menambahkan unsur tenun karena Anggi banyak mengambil detail tradisional. Bordir campur tenun,” ujar Anggi yang berprofesi sebagai dokter gigi di Bandung.

Terakhir, ada juga koleksi luxurious yang masih menghadirkan detail bordir bermotif floral 3D berwarna pastel dengan aksen di bagian bawah. Koleksi ini menggunakan kombinasi warna coral dan mocca, dengan cutting A Line yang bisa dikenakan sebagai koleksi syar’i ataupun evening wear. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Fashion

Berburu Pakaian Bermerk di Pasar Senen

Published

on

Pembeli dapat menemukan berbagai jenis pakaian bekas mulai dari celana, baju, topi, sepatu, tas, dan masih banyak lagi.

Femme.id, Jakarta – Siapa bilang bergaya trendi dan berbusana dengan merk terkenal melulu mahal? Di pasar Senen, Anda bisa berburu pakaian bekas bermerek tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Di pasar tersebut, pembeli dapat menemukan berbagai jenis pakaian bekas mulai dari celana, baju, topi, sepatu, tas, dan masih banyak lagi dengan harga yang lebih murah. Barang-barang tersebut berasal dari berbagai negara seperti Korea, Singapura, hingga Jepang.

“Kalau dibandingkan sama tempat jual baju bekas lain emang Pasar Senen kurang nyaman, tapi harga di sini paling murah jadi masih banyak pembeli yang datang,” kata Ikin (26), pedagang baju bekas di Pasar Senen, Senin (25/2/2019).

Harga barang bekas tersebut bervariasi, mulai dari Rp5.000 sampai jutaan rupiah. Harga produk-produk tersebut ditentukan oleh jenis barang yang dijual, kualitas, hingga langkanya barang itu.

Meskipun penataan kios di Pasar Senen cenderung tidak teratur dan fasilitas yang tidak terlalu nyaman untuk pembeli karena tidak ada AC, namun Pasar Senen tetap menjadi idaman bagi pemburu baju bekas.

Hal ini terbukti dari ramainya pengunjung yang datang. Pedagang mampu meraup keuntungan sekitar Rp1,5 juta pada hari biasa dan Rp5 juta pada Sabtu dan Minggu.

“Kalau omset hari biasa sampai lah Rp1,5 juta kalau hari Sabtu dan Minggu bisa sampai 5 juta,” kata Hendrik (21), penjaga kios baju bekas di Pasar Senen.

Irit hingga gaya hidup di antara alasan konsumen berbelanja barang bekas daripada barang baru.

“Saya seorang mahasiswa yang uangnya pas-pasan, di sini juga masih bisa ditawar meskipun enggak semua pedagang mau ditawar. Lumayan banget kan Rp50.000 di sini bisa dapat tiga baju kalau di mall kan enggak bisa,” ujar salah satu pembeli baju bekas, Nindy (23).

Selain banyak barang bekas yang masih berkualitas baik, ada pembeli yang memilih barang bekas karena kecintaannya terhadap berbagai merek terkenal namun mempunyai modal sedikit sehingga mereka memilih membeli yang bekas.

“Saya suka beli topi yang mereknya jarang ada yang jual di sini, sekalinya ada mereka enggak tahu kalau itu mahal. Dijual aja gitu murah banget bisa sampai 90 persen bedanya sama harga aslinya,” tutur Andi (31), pembeli di Pasar Senen.

Nesya (31), seorang ibu rumah tangga yang berbelanja untuk anaknya, memilih beli baju bekas di Pasar Senen karena kualitas barangnya bagus dan harganya yang jauh lebih murah dibanding tempat lain.

“Harganya jauh lebih murah di sini meskipun banyak tempat jual baju bekas lainnya apalagi di mal. Bisa lah saya habisin uang gopek sampe 800 untuk sekali belanja,” kata Nesya. (mon)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Fashion

Itang Yunasz dan Dian Pelangi Berpartisipasi di New York Fashion Week

Published

on

Dian Pelangi dan Itang Yunasz merupakan dua desainer Indonesia yang memiliki fokus pada koleksi siap pakai modest wear.

Femme.id, Jakarta – Wardah untuk ketiga kalinya berpartisipasi dalam New York Fashion Week (NYFW) 2019 The Shows “Indonesian Diversity” pada 7 Februari 2019, berkolaborasi dengan perancang Itang Yunasz dan Dian Pelangi.

“Wardah Fashion Journey merupakan program kolaborasi Wardah bersama pelaku industri mode. Kami menilai bahwa industri kecantikan tidak akan bisa lepas dari mode, begitu pula sebaliknya,” kata Elsa Maharani selaku Manager Public Relations Wardah, dalam keterangan pers, Kamis (21/2/2019).

Mereka berada di New York pada tanggal 3-10 Februari 2019.

Rangkaian agenda Wardah untuk NYFW 2019 ini dimulai dari audisi pemilihan model, lokakarya riasan untuk 20 make up artist asal Amerika yang terlibat di backstage beserta dengan pengenalan rangkaian produk Wardah yang digunakan dalam tampilan make-up NYFW 2019, pembuatan video campaign Wardah Fashion Journey di New York, hingga kunjungan resmi ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), New York.

Dian Pelangi dan Itang Yunasz merupakan dua desainer Indonesia yang memiliki fokus pada koleksi siap pakai modest wear.

Pada 2018, mereka mendapat apresiasi secara internasional dari Metropolitan Museum of Art di New York dan berkesempatan untuk melakukan pameran di de Young Museum untuk “Contemporary Muslim Fashions”.

Itang Yunasz menampilkan koleksinya yang berjudul Tribal Diversity, melalui koleksi ini Itang memperkenalkan keindahan pola-pola kain tenun ikat Sumba dan menunjukan kemajuan tren busana muslim di Indonesia.

Selain itu, Dian Pelangi menampilkan koleksi yang diberi nama #Socialove, merepresentasikan tren halal lifestyle melalui busana muslim dan hijab yang modern, anggun, dinamis, dan bersifat universal.

“Saya ingin keindahan kain tenun ikat tradisional Indonesia dikenali secara internasional melalui koleksi saya. Selain itu saya ingin semakin banyak orang mengetahui bahwa Indonesia merupakan pusat tren busana muslim yang harus menjadi referensi bagi gaya busana muslim dunia,” tutur Itang.

Sementara Dian mengatakan koleksinya diharap bisa mengupah anggapan tentang busana hijab, bukan lagi gaya konservatif, tapi dinamis.

“Koleksi ini merepresentasikan gaya hidup halal masa kini yang modern, dinamis dan penuh semangat. Akulturasi mode ini juga bersifat universal dan bisa digunakan siapa saja, tidak terbatas bagi orang yang berhijab,” ujar Dian. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.