Connect with us

Health

Ada Risiko Memiliki Hewan Peliharaan bagi Lansia

Published

on

Hampir 1.700 orang dewasa berusia 65 dan lebih tua masuk ruang gawat darurat karena patah tulang yang terkait kegiatan berjalan-jalan dengan hewan peliharaan.

Femme.id, Jakarta – Mereka yang memelihara hewan peliharaan – terutama anjing – telah terbukti memilki harapan hidup lebih lama, lebih sehat daripada orang yang tidak memelihara hewan peliharaan karena merawat anjing juga memerlukan aktivitas yang membuat tubuh terus bergerak.

Namun, seperti dilansir dari Time, Rabu (6/3/2019), sebuah studi dalam JAMA Surgery menunjukkan para lansia yang memiliki anjing dan sering mengajaknya jalan-jalan berpotensi patah tulang.

Para peneliti memeriksa data dari National Electronic Injury Surveillance System, yang mencatat cedera yang dilaporkan oleh pasien dari 100 ruang gawat darurat rumah sakit Amerika Serikat.

Pada tahun 2014, hampir 1.700 orang dewasa berusia 65 dan lebih tua masuk ruang gawat darurat karena patah tulang yang terkait kegiatan berjalan-jalan dengan anjing peliharaan. Pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi hampir 4.500.

“Orang-orang secara intuitif mengetahui banyak manfaat memelihara hewan. Tidak mengherankan, kepemilikan hewan peliharaan meningkat dari waktu ke waktu, termasuk di antara para manula, yang hidup lebih lama dan berupaya hidup lebih sehat,” kata Dr. Jaimo Ahn, seorang profesor bedah ortopedi di University of Pennsylvania School of Medicine.

Hampir 30 persen senior yang terluka dan dirawat di rumah sakit, dan hampir 20 persen menderita patah tulang pinggul.

Jenis patah tulang ini terkait dengan penurunan jangka panjang dalam kualitas hidup dan kemampuan fungsional, serta tingkat kematian mendekati 30 persen.

“Seiring bertambahnya usia, kita harus mempertimbangkan baik risiko maupun manfaat dari aktivitas fisik yang kita inginkan,” ujar Ahn.

Berjalan dengan anjing bisa meningkatkan kekuatan lansia, kemampuan berjalan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Namun, jangan abai pada risiko yang menyertainya, yakni patah tulang. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Health

Makanan Pemicu dan Penangkal Kanker

Published

on

Sebagian besar dari kasus kanker tersebut mencapai 84 persen terjadi karena pasien terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan dan gula.

Femme.id, Jakarta – Sebuah studi dalam JNCI Cancer Spectrum mengungkapkan sejumlah makanan yang berhubungan dengan meningkatnya risiko seseorang terkena kanker, salah satunya makanan olahan dan mengandung gula.

Untuk sampai pada temuan itu, para peneliti menganalisis data nasional di Amerika Serikat pada tahun 2015 tentang jumlah makanan yang orang berusia 20 tahun-an konsumsi. Mereka juga mengamati kejadian berbagai jenis kanker pada saat itu.

Seperti dilansir Healthline, peneliti menemukan, diet buruk menyumbang sekitar 80.110 diagnosa kanker pada tahun 2015. Sebagian besar dari kasus tersebut atau 84 persen terjadi karena pasien terlalu banyak mengonsumsi daging dan gula.

Mereka juga kurang mengonsumsi biji-bijian, produk susu.

Di sisi lain, profesor bedah dari John Wayne Cancer Institute Dr. Anton Bilchik mencatat, jumlah kasus baru kanker usus besar telah meroket karena konsumsi berlebihan gula dan makanan olahan serta kurangnya olahraga.

Kadar gula yang tinggi meningkatkan produksi insulin yang diyakini merangsang pertumbuhan sel kanker.

Pimpinan peneliti studi, Dr Fang Fang Zhang mengatakan pilihan makanan yang buruk saja dapat menyebabkan kanker seperti kanker payudara, mulut, uterus, ginjal, perut dan hati terlepas dari perilaku lain yang berisiko seperti merokok.

Agar risiko terkena kanker berkurang, ahli kesehatan menyarankan Anda mengonsumsi biji-bijian (contohnya adalah makanan yang mengandung gandum, jagung, beras, atau gandum) sekitar 9 porsi per hari, produk susu dua hingga tiga porsi.

Lalu, sayuran empat porsi, buah-buahan tiga porsi serta daging rendah lemak, telur, kacang-kacangan sebanyak dua pors dengan total 6 ons per hari. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Olahraga saat Puasa, Lebih Baik Sore atau Malam?

Published

on

Jika ingin berolahraga berat, sebaiknya Anda menunggu hingga waktu berbuka puasa. Setelah minum air secukupnya dan menyantap hidangan manis yang ringan seperti kurma atau buah.

Femme.id, Jakarta – Berpuasa Ramadhan bukan alasan bagi seseorang untuk tidak berolahraga demi menjaga tubuh tetap bugar dan lemak tidak menumpuk walau seharian tidak makan dan minum.

“Ada yang badannya jadi segar dan tubuhnya jadi nyaman untuk beraktivitas, ada yang jadi lelah dan lebih mudah untuk tidur,” kata konsultan nutrisi Jansen Ongko di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jansen mengatakan setiap orang merasakan efek olahraga yang berbeda-beda.

Bagi orang yang tubuhnya merasa lebih segar dan justru terjaga setelah berolahraga, Jansen menyarankan untuk tidak berolahraga terlalu malam.

“Ganti jadi sore, kalau terlalu malam nanti malah aktif dan tidak bisa tidur,” ujarnya.

Jansen menyarankan seseorang untuk memilih olahraga dengan intensitas rendah bila ingin dilakukan menjelang berbuka puasa.

“Seperti jalan kaki. Itu tidak apa-apa sebelum berbuka puasa,” katanya.

Jika ingin berolahraga berat, sebaiknya Anda menunggu hingga waktu berbuka puasa. Setelah minum air secukupnya dan menyantap hidangan manis yang ringan seperti kurma atau buah, olahraga dengan intensitas berat bisa dilakukan.

“Jeda antara berbuka dengan yang manis 15-20 menit, baru setelah itu berolahraga,” katanya. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Kanker Getah Bening, Gejala Hingga Pencegahan

Published

on

Gaya hidup dan pola makan sehat menjadi kunci agar terhindar dari risiko kanker kelenjar getah bening.

Femme.id, Jakarta – Ustaz Arifin Ilham menghembuskan nafas terakhir, Rabu (22/5/2019), setelah menderita kanker getah bening. Kanker kelenjar getah bening atau limfoma menyerang sel darah putih yang merupakan sistem kekebalan tubuh.

Serangan terhadap sel darah putih itu dapat menyebar lewat aliran darah atau sistem limfatik dan tumbuh di bagian tubuh, seperti limpa, sumsum tulang belakang, hati dan organ lain.

Kanker yang menyerang getah bening terbagi atas dua yakni Limfoma Hodgkin dan Non Hodgkin dengan perbedaan terletak pada sudut patologinya.

Di Indonesia, angka kejadian Limfoma Hodgkin pada 2012 mencapai 1.168 dengan jumlah kematian sebesar 687. Penderita kanker Limfoma Hodgkin rata-rata berusia 35 tahun, sedangkan Non Hodgkin umumnya berusia 54 tahun.

Data Globocan dari International Agency for Research on Cancer (IARC) memperkirakan akan terjadi peningkatan kasus kanker Limfoma Hodgkin pada 2020 dengan kasus baru sebanyak 1.313 penderita serta angka kematian sebesar 811 kasus.

Apa saja gejala kanker getah bening?

Anda perlu waspada bila ada benjolan di sekitar leher yang disertai demam dan berat badan turun. Benjolan yang ada di leher, ketiak, dan pangkal paha itu biasanya tidak terasa nyeri.

Namun, Anda tidak perlu khawatir bila ada benjolan di leher yang diikuti rasa nyeri. Bisa saja nyeri itu berasal dari peradangan yang memicu pembengkakan pada tubuh.

Gejala lain yang harus diperhatikan adalah penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab selama enam bulan.

Gejala lain dari kanker kelenjar getah bening adalah gatal-gatal, lelah berlebihan, mudah berkeringat pada malam hari, kurang energi, kehilangan nafsu makan, batuk berkepanjangan, serta pembesaran limpa alias hati.

Segera periksakan diri pada dokter bila mengalami gejala-gejala tersebut.

Siapa berisiko?

Dilansir Webmd, risiko terkena kanker limfoma non-Hodgkin lebih besar dialami orang dengan usia di atas 60 tahun. Sedangkan limfoma Hodgkin rentan terjadi pada usia 15-40 tahun atau di atas 55 tahun.

Orang dengan imunitas rendah karena HIV/AIDS atau transplantasi organ punya risiko lebih besar.

Orang yang pernah terkena kanker getah bening juga bisa kambuh lagi akibat penambahan usia yang membuat daya tahan tubuh menurun.

Kanker yang umum ditemukan di Indonesia itu seringkali ditangani dengan kemoterapi dan radiasi. Namun, pencegahan tentu lebih baik daripada mengobati.

Gaya hidup dan pola makan sehat menjadi kunci agar terhindar dari risiko kanker kelenjar getah bening. Biasakan makan hidangan penuh nutrisi dan olahraga rutin setiap hari.

Selain itu, Anda perlu menghindari makanan yang dibakar, gorengan pinggir jalan, serta hidangan yang menggunakan penyedap serta pengawet. (nna)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.