Connect with us

Relationship

Menetapkan Tujuan Hidup Realistis Jadi Kunci Kepuasan, Kata Studi

Published

on

Pentingnya tujuan ternyata kurang relevan untuk kesejahteraan kemudian dari yang diharapkan.

Femme.id, Jakarta – Menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai mungkin menjadi kunci bagi kesejahteraan dan kepuasan hidup Anda, kata para peneliti dari University of Basel di Swiss.

Tujuan dapat berkontribusi secara substansial pada seberapa puas orang dalam hidup – atau betapa tidak puasnya jika tujuan penting tidak dapat dicapai.

Seperti dilansir dari Indian Express, Kamis (21/2/2019), para peneliti melakukan pemeriksaan terperinci tentang bagaimana tujuan hidup tertanam pada orang dewasa.

Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Personality ini memasukkan data dari 973 orang yang berusia antara 18-92 di Swiss; lebih dari setengah partisipan disurvei lagi setelah dua dan empat tahun.

Para partisipan harus menilai pentingnya dan pencapaian yang dirasakan dari tujuan hidup di sepuluh bidang antara lain kesehatan, komunitas, hubungan sosial, ketenaran, citra, kekayaan, keluarga, tanggung jawab atau perawatan untuk generasi muda, dan pekerjaan.

Hasilnya, menganggap tujuan pribadi sebagai hal yang dapat dicapai adalah indikator untuk kesejahteraan kognitif dan efektif di kemudian hari. Ini menyiratkan bahwa orang paling puas jika mereka memiliki perasaan kontrol dan pencapaian.

Menariknya, pentingnya tujuan ternyata kurang relevan untuk kesejahteraan kemudian dari yang diharapkan.

Tujuan hidup juga memiliki kekuatan prediksi untuk domain tertentu. Mereka yang menetapkan tujuan hubungan sosial atau tujuan kesehatan, lebih puas dengan hubungan sosial atau kesehatan mereka sendiri. Hal ini tak tergantung pada usia. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relationship

Balita Boleh Bersekolah Asal Pengajaran Layak

Published

on

Pengalaman bersekolah untuk anak di bawah lima tahun harus menjadi sesuatu yang menyenangkan, proses bermain itu akan membantu tumbuh kembang sang anak.

Femme.id, Jakarta – Anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita) tetap diperbolehkan bersekolah secara formal selama pemilihan sekolah dan materi pengajaran tepat seusia mereka.

“Kalau (pengajaran) di rumah tidak bisa mencukupi stimulasi yang dibutuhkan anak, (anak balita) bisa mulai disekolahkan. Tapi, pilih sekolah yang memang tepat untuk stimulasinya,” ujar psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam bincang-bincang #NiveaSentuhanIbu – Mendongeng untuk Indonesia di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Anak balita, menurut Vera, tidak perlu diajarkan untuk membaca dan menulis karena mereka masih harus bermain.

“Pada dasarnya, anak di bawah lima tahun ya bermain. Jadi kalau mau cari sekolah, (pilih sekolah) yang metodenya bermain, tidak calistung (baca, tulis, hitung), tidak ada pekerjaan rumah untuk dia,” kata Vera.

Vera mengatakan pengalaman bersekolah untuk anak di bawah lima tahun harus menjadi sesuatu yang menyenangkan. Proses bermain itu akan membantu tumbuh kembang sang anak.

“Kalau anak masuk sekolah, jangan sampai sekolah itu menjadi beban untuknya. Sekolah itu akan mengajarkan anak tentang aturan, sosialisasi, interaksi, dan kreativitas,” ujarnya.

Vera menegaskan orang tua harus menentukan sistem pengajaran di sekolah untuk anak-anak mereka jika memilih untuk menyekolahkannya.

“Kesalahannya (orang tua) bukan keputusan menyekolahkan anak. Tapi, mungkin milih sekolahnya yang tidak tepat. Belajar calistung itu adanya di sekolah dasar bukan taman kanak-kanak,” katanya.

Vera menambahkan sejumlah sekolah dasar juga tidak mengharuskan siswa-siswa kelas satu untuk dapat membaca dengan lancar. “Hanya, memang tidak banyak,” ujar Vera tentang sekolah-sekolah dasar yang tidak mewajibkan baca tulis bagi siswa kelas satu. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Kedekatan dengan Orangtua Pengaruhi Masa Depan Anak

Published

on

Anak yang memiliki kerekatan yang baik dengan orangtua cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah bergaul, mandiri, bisa berinteraksi dengan orang dewasa dan bisa memimpin.

Femme.id, Jakarta – Kedekatan antara anak dengan orang tua sangat penting dijalin sejak usia dini, sebab akan mempengaruhi tumbuh kembang anak di masa depan.

Psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan kerekatan (bonding) adalah hubungan emosional antara orang tua dan anak di mana satu sama lain membutuhkan kontak yang konsisten dan merasa cemas atau tidak nyaman bila terpisah.

Menurut Vera, kerekatan ini baiknya dilakukan dengan intens pada usia anak 0-2 tahun. Dari sini, akan terlihat bagaimana sikap anak tersebut kepada lingkungan sekitarnya.

“Kerekatan itu dimulainya dua tahun pertama. Itu bisa dilihat dari respon orangtua. Misalnya waktu anak nangis, orang tua harus respon dia meski cuma jawab, “Iya sayang, nunggu sayang”.

“Dia akan merasa orang tuanya merespon dia, dia akan merasa aman. Orang tuanya peduli sama dia, menyayangi dia,” jelas Vera dalam bincang-bincang “Nivea Sentuhan Ibu – Mendongeng untuk Indonesia” di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

“Kalau sebaliknya yang terjadi, dia akan merasa kehadirannya tidak diharapkan. Begitu dua tahun atau tiga tahun akan kelihatan dari sikapnya ke orang lain. Dia akan testing ke orang lain, berhati-hati, kira-kira orang ini sayang enggak sama dia, respon enggak ke dia,” lanjutnya.

Menurut Vera kerekatan antara orangtua dan anak dapat dibentuk melalui kepekaan orangtua terhadap kebutuhan anak, respon orangtua terhadap kebutuhan anak serta mengajak anak bicara dan bermain untuk menstimulasi perkembangannya.

Anak yang memiliki kerekatan yang baik dengan orangtua cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah bergaul, mandiri, bisa berinteraksi dengan orang dewasa dan bisa memimpin.

Sedangkan jika kerekatannya buruk akan lebih bergantung pada orang lain, menuntut perhatian, agresif, gelisah, menarik diri dan sulit percaya orang lain.

“Ngotot-ngototan dengan anak itu positif. Jangan dikira bonding time itu cuma yang happy-happy aja dan senyum-senyum. Tapi berantem-berantem juga bonding time, kita jadi tahu sifat anak,” jelasnya. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Baca Dongeng, Cara Manfaatkan Gawai dan Jalin Kedekatan dengan Anak

Published

on

Kegiatan membacakan dongeng memiliki manfaat luar biasa untuk anak seperti menjalin kedekatan, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kreativitas serta menanamkan nilai-nilai positif.

Femme.id, Jakarta – Di era teknologi seperti sekarang, penggunaan gawai memang tidak bisa dipisahkan dari anak-anak. Namun para orang tua tidak harus menghentikannya secara paksa, Anda bisa menyiasatinya dengan mengajaknya membaca dongeng menggunakan gawai tersebut.

“Anak-anak zaman sekarang sudah sangat mengenal gawai sejak kecil. Sebenarnya selama digunakan dengan benar, gawai bisa dimanfaatkan untuk kebaikan,” kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak dalam bincang-bincang Nivea Sentuhan Ibu – Mendongeng untuk Indonesia” di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Kegiatan membacakan dongeng memiliki manfaat luar biasa untuk anak seperti menjalin kedekatan, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kreativitas serta menanamkan nilai-nilai positif.

Begitu juga saat membaca dongeng menggunakan gawai, ada interaksi yang akan terjalin apalagi jika ditambah dengan memberikan sentuhan kepada anak.

“Saat membacakan sebuah dongeng di gawai, ibu sebaiknya tetap menemani anak, menciptakan interaksi dengan anak dan mengajaknya menikmati membaca dongeng bersama. Jangan lupa berikan anak sentuhan ibu dengan menggendong, memangku ataupun membelainya untuk meningkatkan kelekatan dengan anak,” jelas Vera.

Namun ada yang harus diperhatikan saat mengajak anak membaca dongeng dengan gawai seperti tidak membiarkannya membaca sendirian dan juga mengatur waktu berapa lama kegiatan tersebut dijalankan.

“Anak enggak boleh buka atau membacanya sendiri, harus tetap ada interaksinya. Fokus pada dongeng yang dibaca, matikan dulu notifikasi-notifikasi lain. Kan kalau baca e-book bisa download dulu baru baca,” ujar Vera.

Dia melanjutkan, “Tentukan dongeng apa yang mau dibaca dan aktivitasnya apa. Kita tentukan dulu berapa lama, 30 menit misalnya. Jadi kita sama anak main gadget 30 menit. Setelah baca dongeng, gadget-nya dimatikan lagi, bukan malah jadi pintu untuk buka-buka ke yang lain.”

Vera juga menyampaikan jika orangtua bisa memberikan tantangan pada anak untuk bergantian menceritakan apa yang dia baca.

“Bisa gantian ceritanya, si anak. Kita tantang si anak untukmengubah cerita. Tapi ada masa si anak mau cerita yang itu-itu saja. Intinya aktivitas membaca dongeng ini interaksinya,” kata Vera. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.