Connect with us

Relationship

Perlunya “Support System” untuk Ibu Baru

Published

on

Seorang ibu baru sangat membutuhkan dukungan dari orang terkenal, meski tidak selalu memberikan solusi namun bisa menjadi sosok yang mendengarkan.

Femme.id, Jakarta – Support system bagi ibu baru sangatlah penting guna menambah informasi dan relaksasi, menurut psikolog klinis Monica Sulistiawati.

Monika mengatakan, seorang ibu baru sangat membutuhkan dukungan dari orang terkenal, meski tidak selalu memberikan solusi namun bisa menjadi sosok yang mendengarkan.

Menurut dia, 80 persen ibu baru mengalami stres yang berpotensi membahayakan anak, bahkan kelangsungan rumah tangga.

“Stres kalau enggak diatasi jadi baby blues. Studi mengatakan kalo 80 persen ibu baru mengalami baby blues, kalau dua minggu enggak ditangani bisa bahaya, bisa melukai anak, dirinya sendiri atau rumah tangga berantakan,” ujar Monica dalam bincang-bincang kampanye Mothercare “Senangnya Jadi Ibu” di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Orang-orang di sekitar ibu baru juga harus selalu memberikan dukungan terhadapnya. Sebab, menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya sangat menantang karena banyaknya perubahan dalam hidupnya yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

“Support system sebenarnya enggak cuma teman tapi ada suami, keluarga, forum online, komunitas. Dengan bercerita, ini akan menumbuhkan rasa happy, waras. Ngobrol sebentar sama teman, nanti ngelihat anak lagi udah happy,” jelasnya.

“Dari teman-teman, kami dapat info banyak banget sehingga ketika hal itu terjadi seperti anak sakit, kami jadi enggak panik lagi setidaknya paniknya wajar,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, support system juga bisa menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi para ibu baru sehingga mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi berbagai pengalaman yang sangat baru di dunia parenting. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relationship

Balita Boleh Bersekolah Asal Pengajaran Layak

Published

on

Pengalaman bersekolah untuk anak di bawah lima tahun harus menjadi sesuatu yang menyenangkan, proses bermain itu akan membantu tumbuh kembang sang anak.

Femme.id, Jakarta – Anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita) tetap diperbolehkan bersekolah secara formal selama pemilihan sekolah dan materi pengajaran tepat seusia mereka.

“Kalau (pengajaran) di rumah tidak bisa mencukupi stimulasi yang dibutuhkan anak, (anak balita) bisa mulai disekolahkan. Tapi, pilih sekolah yang memang tepat untuk stimulasinya,” ujar psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam bincang-bincang #NiveaSentuhanIbu – Mendongeng untuk Indonesia di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Anak balita, menurut Vera, tidak perlu diajarkan untuk membaca dan menulis karena mereka masih harus bermain.

“Pada dasarnya, anak di bawah lima tahun ya bermain. Jadi kalau mau cari sekolah, (pilih sekolah) yang metodenya bermain, tidak calistung (baca, tulis, hitung), tidak ada pekerjaan rumah untuk dia,” kata Vera.

Vera mengatakan pengalaman bersekolah untuk anak di bawah lima tahun harus menjadi sesuatu yang menyenangkan. Proses bermain itu akan membantu tumbuh kembang sang anak.

“Kalau anak masuk sekolah, jangan sampai sekolah itu menjadi beban untuknya. Sekolah itu akan mengajarkan anak tentang aturan, sosialisasi, interaksi, dan kreativitas,” ujarnya.

Vera menegaskan orang tua harus menentukan sistem pengajaran di sekolah untuk anak-anak mereka jika memilih untuk menyekolahkannya.

“Kesalahannya (orang tua) bukan keputusan menyekolahkan anak. Tapi, mungkin milih sekolahnya yang tidak tepat. Belajar calistung itu adanya di sekolah dasar bukan taman kanak-kanak,” katanya.

Vera menambahkan sejumlah sekolah dasar juga tidak mengharuskan siswa-siswa kelas satu untuk dapat membaca dengan lancar. “Hanya, memang tidak banyak,” ujar Vera tentang sekolah-sekolah dasar yang tidak mewajibkan baca tulis bagi siswa kelas satu. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Kedekatan dengan Orangtua Pengaruhi Masa Depan Anak

Published

on

Anak yang memiliki kerekatan yang baik dengan orangtua cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah bergaul, mandiri, bisa berinteraksi dengan orang dewasa dan bisa memimpin.

Femme.id, Jakarta – Kedekatan antara anak dengan orang tua sangat penting dijalin sejak usia dini, sebab akan mempengaruhi tumbuh kembang anak di masa depan.

Psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan kerekatan (bonding) adalah hubungan emosional antara orang tua dan anak di mana satu sama lain membutuhkan kontak yang konsisten dan merasa cemas atau tidak nyaman bila terpisah.

Menurut Vera, kerekatan ini baiknya dilakukan dengan intens pada usia anak 0-2 tahun. Dari sini, akan terlihat bagaimana sikap anak tersebut kepada lingkungan sekitarnya.

“Kerekatan itu dimulainya dua tahun pertama. Itu bisa dilihat dari respon orangtua. Misalnya waktu anak nangis, orang tua harus respon dia meski cuma jawab, “Iya sayang, nunggu sayang”.

“Dia akan merasa orang tuanya merespon dia, dia akan merasa aman. Orang tuanya peduli sama dia, menyayangi dia,” jelas Vera dalam bincang-bincang “Nivea Sentuhan Ibu – Mendongeng untuk Indonesia” di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

“Kalau sebaliknya yang terjadi, dia akan merasa kehadirannya tidak diharapkan. Begitu dua tahun atau tiga tahun akan kelihatan dari sikapnya ke orang lain. Dia akan testing ke orang lain, berhati-hati, kira-kira orang ini sayang enggak sama dia, respon enggak ke dia,” lanjutnya.

Menurut Vera kerekatan antara orangtua dan anak dapat dibentuk melalui kepekaan orangtua terhadap kebutuhan anak, respon orangtua terhadap kebutuhan anak serta mengajak anak bicara dan bermain untuk menstimulasi perkembangannya.

Anak yang memiliki kerekatan yang baik dengan orangtua cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah bergaul, mandiri, bisa berinteraksi dengan orang dewasa dan bisa memimpin.

Sedangkan jika kerekatannya buruk akan lebih bergantung pada orang lain, menuntut perhatian, agresif, gelisah, menarik diri dan sulit percaya orang lain.

“Ngotot-ngototan dengan anak itu positif. Jangan dikira bonding time itu cuma yang happy-happy aja dan senyum-senyum. Tapi berantem-berantem juga bonding time, kita jadi tahu sifat anak,” jelasnya. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Baca Dongeng, Cara Manfaatkan Gawai dan Jalin Kedekatan dengan Anak

Published

on

Kegiatan membacakan dongeng memiliki manfaat luar biasa untuk anak seperti menjalin kedekatan, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kreativitas serta menanamkan nilai-nilai positif.

Femme.id, Jakarta – Di era teknologi seperti sekarang, penggunaan gawai memang tidak bisa dipisahkan dari anak-anak. Namun para orang tua tidak harus menghentikannya secara paksa, Anda bisa menyiasatinya dengan mengajaknya membaca dongeng menggunakan gawai tersebut.

“Anak-anak zaman sekarang sudah sangat mengenal gawai sejak kecil. Sebenarnya selama digunakan dengan benar, gawai bisa dimanfaatkan untuk kebaikan,” kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak dalam bincang-bincang Nivea Sentuhan Ibu – Mendongeng untuk Indonesia” di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Kegiatan membacakan dongeng memiliki manfaat luar biasa untuk anak seperti menjalin kedekatan, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kreativitas serta menanamkan nilai-nilai positif.

Begitu juga saat membaca dongeng menggunakan gawai, ada interaksi yang akan terjalin apalagi jika ditambah dengan memberikan sentuhan kepada anak.

“Saat membacakan sebuah dongeng di gawai, ibu sebaiknya tetap menemani anak, menciptakan interaksi dengan anak dan mengajaknya menikmati membaca dongeng bersama. Jangan lupa berikan anak sentuhan ibu dengan menggendong, memangku ataupun membelainya untuk meningkatkan kelekatan dengan anak,” jelas Vera.

Namun ada yang harus diperhatikan saat mengajak anak membaca dongeng dengan gawai seperti tidak membiarkannya membaca sendirian dan juga mengatur waktu berapa lama kegiatan tersebut dijalankan.

“Anak enggak boleh buka atau membacanya sendiri, harus tetap ada interaksinya. Fokus pada dongeng yang dibaca, matikan dulu notifikasi-notifikasi lain. Kan kalau baca e-book bisa download dulu baru baca,” ujar Vera.

Dia melanjutkan, “Tentukan dongeng apa yang mau dibaca dan aktivitasnya apa. Kita tentukan dulu berapa lama, 30 menit misalnya. Jadi kita sama anak main gadget 30 menit. Setelah baca dongeng, gadget-nya dimatikan lagi, bukan malah jadi pintu untuk buka-buka ke yang lain.”

Vera juga menyampaikan jika orangtua bisa memberikan tantangan pada anak untuk bergantian menceritakan apa yang dia baca.

“Bisa gantian ceritanya, si anak. Kita tantang si anak untukmengubah cerita. Tapi ada masa si anak mau cerita yang itu-itu saja. Intinya aktivitas membaca dongeng ini interaksinya,” kata Vera. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.