Connect with us

Health

Alasan Mengapa Mengantuk Sehabis Makan

Published

on

Ketika darah dipompa ke usus untuk memicu pencernaan, penurunan aliran darah yang ke otak dapat memicu perasaan kantuk.

Femme.id, Jakarta – Jika Anda merasa mengantuk setelah makan, berarti anda mengalami hal yang sama dengan kebanyakan orang, atau bahkan sama dengan hampir semua makhluk hidup.

Penelitian menemukan bukti adanya “kantuk postprandial” yang juga dikenal sebagai koma makanan pada serangga, ular, cacing dan tikus, demikian seperti dilaporkan Time, Rabu (30/1/2019).

“Konservasi perilaku ini di seluruh spesies menunjukkan bahwa itu sangat penting untuk sesuatu,” kata William Ja, seorang profesor ilmu saraf di Scripps Research Institute di Florida yang telah mempelajari fenomena koma makanan ini.

Beberapa ahli berhipotesis bahwa hewan — termasuk manusia — memiliki “sinyal kewaspadaan” bawaan yang membuat mereka tetap terjaga dan waspada saat lapar. Sinyal-sinyal ini membantu mereka menemukan dan memperoleh makanan. Oleh karena itu, begitu seekor binatang atau manusia makan banyak, sinyal kewaspadaan ini menghilang dan digantikan oleh perasaan lelah.

Yang lain berteori bahwa perubahan sirkulasi darah pasca-makan dapat menjelaskan mengapa makan membuat beberapa orang mengantuk. Aliran darah ke usus kecil “meningkat secara dramatis” setelah seseorang makan, kata Dr. Tomonori Kishino, seorang profesor ilmu kesehatan di Universitas Kyorin Jepang.

Dan ketika darah dipompa ke usus untuk memicu pencernaan, penurunan aliran darah yang ke otak dapat memicu perasaan kantuk, katanya.

Beberapa penelitian terdahulu terhadap hipotesis ini menyimpulkan bahwa aliran darah ke otak tidak berubah setelah seseorang makan. Tetapi Kishino menemukan bahwa, di antara orang-orang yang melewatkan sarapan, satu ukuran aliran darah ke otak anjlok setelah mereka makan siang.

“Karena itu melewatkan sarapan dapat membuat beban berat pada tubuh setelah makan siang dengan menyebabkan perubahan yang lebih besar dalam (aliran darah),” katanya. Ini bisa menyebabkan kantuk.

Sementara para ilmuwan masih mencari tahu persis mengapa koma makanan terjadi, mereka sudah mulai memikirkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan kelelahan setelah makan.

Makan makanan dalam porsi besar mungkin menjadi salah satu pemicu. Penelitian Ja pada lalat buah menunjukkan bahwa ukuran makanan adalah “pendorong kuat” kantuk pasca-makan. Begitu juga makanan yang sarat dengan garam atau protein.

Tapi kenapa? Dia mengatakan satu gagasan yang sudah lama dipegang adalah bahwa tidur entah bagaimana membantu pencernaan. Salah satu penelitiannya yang belum dipublikasikan — sekali lagi, tentang lalat buah — menemukan bahwa tidur mengubah cara serangga menyerap zat gizi makro tertentu, termasuk protein.

“Ini akan mendukung gagasan bahwa kantuk pasca makan mempengaruhi penyerapan nutrisi usus,” tambahnya.

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa makanan berlemak tinggi dan tinggi karbohidrat menyebabkan kantuk dan peningkatan pada beberapa penanda inflamasi, terutama di antara orang dewasa yang gemuk. Tetapi masih ada banyak ketidakpastian dan kontradiksi dalam hal makanan tertentu dan pengaruhnya terhadap kelelahan pasca makan.

“Beberapa penelitian pada manusia menunjukkan efek setelah makan, tetapi yang lain tidak,” kata Ja.

Jika Anda tak ingin mengalami koma makanan, saran terbaik adalah “makan makanan dalam porsi kecil,” katanya. Taktik ini mungkin sangat efektif saat makan siang. Pergeseran ritme sirkadian tubuh yang dapat diprediksi cenderung membuat orang merasa mengantuk di sore hari. (ida)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Health

Berniat Tahan Buang Air Kecil saat Nonton “Endgame”? Ini Bahayanya

Published

on

Menahan buang air kecil bisa menyebabkan nyeri pada saluran kemih.

Femme.id, Jakarta – Apakah Anda salah satu dari orang yang berniat menonton “Avengers: Endgame” dan rela menahan hasrat berkemih selama durasi tiga jam?

Hati-hati, menahan buang air kecil terlalu lama bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Situasi dingin, seperti bioskop, memang salah satu faktor yang menyebabkan orang ingin buang air kecil, seperti dikemukakan dokter umum Mulki Rakhmawati dari Pusat Kesehatan Masyarakat Pondok Pucung, Tangerang Selatan.

“Selain itu rasa kebelet terjadi pada orang yang mengalami infeksi saluran kemih, mengalami tekanan rongga panggul seperti kondisi hamil atau pelemahan otot dasar panggul yang dialami lansia,” ujar Mulki, Rabu (24/4/2019).

Menurut dokter umum Wiranty Ramadhani dari AP & AP Pediatric, Growth & Diabetes Cente, menahan buang air kecil bisa menyebabkan nyeri pada saluran kemih.

“Infeksi dan gangguan aliran urine yang berkelanjutan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal, akibatnya bisa berujung pada gagal ginjal,” kata Wiranty.

Infeksi dapat terjadi karena urine yang terendap lama bisa menjadi tempat bakteri berkembang biak.

“Gejalanya anyang-anyangan, tidak nyaman di panggul bawah, nyeri saat buang air kecil, terkadang meriang,” kata Mulki.

Kebiasaan menahan pipis juga bisa membuat fungsi kontrol buang air kecil terganggu, yang bisa berujung pada mengompol.

Tak cuma itu, menahan buang air kecil bisa menyebabkan batu saluran kemih. Menurut Mulki, orang yang biasa menahan pipis biasanya mengurangi asupan cairan, penyebab meningkatnya risiko terjadinya batu saluran kencing.

Lantas, seberapa lama manusia dapat menahan buang air kecil?

“Jika memang sangat dibutuhkan, menahan buang air kecil bisa sampai tiga jam, tapi itu sangat tidak dianjurkan,” tutur Mulki.

Salah satu cara mengurangi risiko kebelet adalah menghindari asupan makanan dan minuman yang bisa meningkatkan produksi urine, di antaranya makanan dan minuman manis, teh atau kopi yang mengandung kafein, alkohol serta soda. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Stress Bisa Tingkatkan Risiko Kena Penyakit Jantung

Published

on

Hubungan antara stres dan penyakit kardiovaskular sangat kuat pada orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun.

Femme.id, Jakarta – Stres bisa meningkatkan risiko seseorang terutama mereka di bawah usia 50 tahun terkena penyakit jantung, menurut sebuah studi dalam jurnal BMJ.

Seperti dilansir dari Indian Express, Minggu (21/4/2019), dalam studi itu, para peneliti mengevaluasi data 136.637 orang di Swedia yang terdiagnosis mengalami stres, gangguan stres pasca-trauma dan lainnya.

Peneliti lalu membandingkan data mereka dengan 171.314 saudara kandung yang tidak mengalami stres dan 1.366.370 orang dalam populasi umum, yang belum didiagnosis stres. Kesehatan para partisipan diteliti hingga 27 tahun.

Hasil studi memperlihatkan penderita stres 29 persen lebih mungkin mengalami penyakit kardiovaskular daripada saudara kandung yang tak menderita stres.

Mereka juga 37 persen lebih rentan menderita penyakit jantung daripada orang-orang pada populasi umum.

Pada tahun pertama setelah diagnosis, risikonya bahkan meningkat, yaitu 64 persen lebih tinggi dari saudara kandung dan 71 persen lebih tinggi dari populasi umum.

Hubungan antara stres dan penyakit kardiovaskular sangat kuat pada orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun.

“Studi kami hanya melibatkan orang yang didiagnosis gangguan stres,” kata Huan Song, penulis utama dan peneliti postdoctoral di University of Iceland.

“Orang-orang yang mengalami depresi dan kecemasan juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular. Faktanya, siapa pun yang terkena stres berada pada risiko lebih tinggi,” ujar dia. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Durasi Keramas Ideal agar Kepala Tidak Gatal

Published

on

Frekuensi keramas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rambut orang. Begitupula, pemijatan lembut untuk menguatkan akar rambut.

Femme.id, Tangerang – Kegiatan keramas semestinya berlangsung tiga hingga lima menit agar tidak terdapat sisa partikel yang menyebabkan kulit kepala gatal, demikian disampaikan pakar perawatan kulit PT Paragon Technology & Innovation Meti Fatmawati di Tangerang, Senin (15/4/2019).

“Jika keramas terlalu lama, banyak partikel yang dapat mengendap di rambut. Jika partikel itu terlalu lama bertahan di rambut, justru rambut akan lepek.” kata Meti.

Meti juga menyarankan frekuensi keramas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rambut orang. Begitupula, pemijatan lembut untuk menguatkan akar rambut.

Pembilasan rambut, lanjut Meti, perlu dipastikan secara menyeluruh agar busa sampo tidak tertinggal di rambut. Busa sampo menyebabkan rambut lepek dan kulit kepala terasa gatal.

“Selepas keramas, pembilasan harus sempurna. Jadi, penyebab rambut lepek atau kadang ada putih-putih itu berasal dari residu atau busa sampo yang belum dibilas. Sisa busa itu menumpuk dan menyebabkan gatal,” kata Meti.

“Kadang pakai sampo beberapa hari masih ada putih-putih. Itu belum tentu ketombe. Pembentukan ketombe enggak terjadi secara cepat. Jadi, pastikan busa ketika keramas tidak ada lagi di rambut,” ujarnya. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.