Connect with us

Relationship

Enam Tipe Teman yang Harus Dihindari

Published

on

Pertemanan mempengaruhi perilaku kita, Jika berkumpul dengan orang-orang yang positif, maka kita juga akan mendapatkan energinya.

Femme.id, Jakarta – Tahun baru tiba, saatnya untuk membuat hal yang lebih baik untuk kemajuan diri, salah satunya bisa dimulai dari lingkungan pertemanan.

Secara tidak langsung, lingkungan pertemanan mempengaruhi perilaku kita. Jika berkumpul dengan orang-orang yang positif, maka kita juga akan mendapatkan energinya. Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang negatif, akan membawa dampak buruk pada kebiasaan kita.

Untuk itu, 2019 ini baiknya menghindari orang-orang yang dapat membawa pengaruh buruk pada hidup Anda, seperti enam tipe yang akan dibahas berikut ini menurut Huffpost, Kamis (3/1/2019).

1. Menghilang tiba-tiba

Tipe seperti ini biasanya akan pergi jika sudah menemukan teman baru. Awalnya mereka akan penuh perhatian dan mampu menarik rasa simpati. Namun kemudian, mereka bisa menghilang begitu saja tanpa ada komunikasi.

2. Tidak dewasa

Berteman dengan seseorang yang memiliki sifat kekanak-kanakan atau tidak dewasa memang sangat merepotkan. Biasanya, mereka terus-menerus meminta pertolongan Anda untuk menyelesaikan masalahnya. Selalu ada drama baru yang mereka ciptakan untuk menarik simpati.

3. Narsis

Teman yang narsis cenderung memiliki sifat egois atau memikirkan diri sendiri. Oleh karenanya, lebih baik kita menghindari tipe teman ini.

“Orang-orang yang hanya menerima berpikir bahwa dunia adalah semua tentang mereka. Mereka akan membuat kesal secara emosional. Jangan biarkan mereka ada di ruang dalam hidupmu,” ujar Talia Wagner, seorang terapis pernikahan dan keluarga di Los Angeles.

4. Tukang kritik

Saling bertukar pendapat dan pandangan memang bagus dalam pertemanan. Namun, jika ia terus-menerus mengkritik semua yang Anda pilih, mungkin sudah waktunya untuk mengevaluasi kembali tempat mereka di hidup Anda.

5. Pencari perhatian

Orang yang mencari perhatian biasanya akan mendominasi percakapan dan mendikte semua rencana Anda.

“Mereka merasa tahu apa yang terbaik untuk semua orang dan akan memberitahumu apa itu, meski Anda tidak pernah bertanya. Jika Anda tidak menyukai atau bosan, mereka akan beralih ke orang lain yang akan mendukung kejenakaan mereka,” ujar Becky Whetstone, terapis pernikahan dan keluarga di Little Rock, Arkansas.

6. Penghasut

Dalam hidup, pasti Anda akan menemukan tipe teman yang seperti ini. Jika sedang ada gosip terbaru, Anda pasti mendengarnya dari orang-orang tipe ini. Bahayanya adalah Anda juga bisa jadi bahan gosipnya.

“Biasanya mereka tidak dapat dipercaya dan tidak setia dalam hubungan, dan mereka menunjukkan ini dalam cara-cara kecil yang tak terhitung jumlahnya. Ingatlah bahwa penghasut benar-benar berkembang ketika menciptakan perpecahan, menimbulkan keraguan dan ketidakpastian,” kata Becky. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relationship

Perlunya Persiapan Matang Sebelum Memiliki Anak

Published

on

Memiliki seorang anak juga membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak dari suami dan istri.

Femme.id, Jakarta – Para calon orang tua diharapkan mempersiapkan segala hal secara matang sebelum memiliki anak karena akan muncul tantangan besar dalam membesarkan hingga mendidik sang buah hati, menurut psikolog klinis keluarga, Monica Sulistiawati.

Ia mengatakan, memiliki seorang anak juga membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak dalam hal ini suami dan istri. Apabila salah satunya tidak siap, akan berpengaruh pada psikologis anak di kemudian hari.

“Orang tua itu sebenarnya enggak siap jadi orang tua. Karena rata-rata kalau sudah menikah ya punya anak, tiba-tiba jadi ibu. Makanya sebelum punya anak harus disiapkan matang-matang,” ujar Monica dalam kampanye Mothercare “Senangnya Jadi Ibu” di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

“Punya anak itu banyak sebabnya, ada yang tuntutan umur, tuntutan orang tua atau omongan orang karena dianggap jelek kalau enggak punya anak. Ketidaksiapan si ibu ini akan mempengaruhi anak di kemudian hari,” lanjut Monica.

Menurut Monica, suami istri harus saling berkomunikasi apakah keduanya sudah siap memiliki anak atau belum. Jangan sampai, hanya satu pihak saja yang menginginkan kehadiran anak.

“Harus ada kesepakatan, sudah siap belum untuk memiliki anak. Jangan sampai yang suaminya mau punya anak, istrinya belum mau. Jadi orang tua memang tidak ada sekolahnya tapi memiliki anak itu butuh persiapan yang sangat matang. Kalau enggak siap lebih baik enggak punya anak,” jelas Monica.

Ketika sudah menjadi orang tua, Monica juga menyarankan agar tidak perlu menjadi perfeksionis. Sebab, orangtua juga bisa melakukan kesalahan.

“Makanya saya enggak bilang mengurus anak itu, enggak gampang tapi bukan berarti susah juga. Saya lebih senang bilang challenging. Santai saja, asuh anak sebaik-baiknya dan tidak perlu jadi perfeksionis untuk anak. Direktur perusahaan besar saja enggak bisa kok mengurus semua hal. Jadi rileks saja,” kata Monica. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Perlunya “Support System” untuk Ibu Baru

Published

on

Seorang ibu baru sangat membutuhkan dukungan dari orang terkenal, meski tidak selalu memberikan solusi namun bisa menjadi sosok yang mendengarkan.

Femme.id, Jakarta – Support system bagi ibu baru sangatlah penting guna menambah informasi dan relaksasi, menurut psikolog klinis Monica Sulistiawati.

Monika mengatakan, seorang ibu baru sangat membutuhkan dukungan dari orang terkenal, meski tidak selalu memberikan solusi namun bisa menjadi sosok yang mendengarkan.

Menurut dia, 80 persen ibu baru mengalami stres yang berpotensi membahayakan anak, bahkan kelangsungan rumah tangga.

“Stres kalau enggak diatasi jadi baby blues. Studi mengatakan kalo 80 persen ibu baru mengalami baby blues, kalau dua minggu enggak ditangani bisa bahaya, bisa melukai anak, dirinya sendiri atau rumah tangga berantakan,” ujar Monica dalam bincang-bincang kampanye Mothercare “Senangnya Jadi Ibu” di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Orang-orang di sekitar ibu baru juga harus selalu memberikan dukungan terhadapnya. Sebab, menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya sangat menantang karena banyaknya perubahan dalam hidupnya yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

“Support system sebenarnya enggak cuma teman tapi ada suami, keluarga, forum online, komunitas. Dengan bercerita, ini akan menumbuhkan rasa happy, waras. Ngobrol sebentar sama teman, nanti ngelihat anak lagi udah happy,” jelasnya.

“Dari teman-teman, kami dapat info banyak banget sehingga ketika hal itu terjadi seperti anak sakit, kami jadi enggak panik lagi setidaknya paniknya wajar,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, support system juga bisa menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi para ibu baru sehingga mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi berbagai pengalaman yang sangat baru di dunia parenting. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Cara Ajak Remaja Bicara soal Narkoba

Published

on

Media sosial, program televisi, film dan lagu dapat mengagungkan atau mengkitisi penggunaan narkoba pada remaja.

Femme.id, Jakarta – Orangtua mungkin akan melakukan beberapa percakapan dengan anak remaja mereka tentang penggunaan narkoba, tapi pastikan waktunya yang tepat dan tidak mengganggu aktivitas mrreka.

Seperti dilansir dari Mayo Clinic, Sabtu (2/2/2019), ada sejumlah cara untuk berbicara dengan anak remaja tentang narkoba, yakni:

1. Tanyakan pandangan mereka

Hindari cara menjelaskan seperti dalam kelas kuliah. Alih-alih itu, dengarkan pendapat dan pertanyaan remaja Anda tentang narkoba. Yakinkan mereka bahwa mereka bisa jujur kepada Anda.

2. Diskusikan alasan untuk tidak menggunakan narkoba

Hindari taktik menakut-nakuti. Tekankan bagaimana penggunaan narkoba dapat memengaruhi hal-hal yang penting bagi anak remaja Anda – seperti olahraga, mengemudi, kesehatan dan penampilan.

3. Pertimbangkan pesan media

Media sosial, program televisi, film dan lagu dapat mengagungkan atau mengkitisi penggunaan narkoba. Bicarakan tentang apa yang dilihat dan didengar anak remaja Anda.

4. Diskusikan cara untuk menolak tekanan teman sebaya. Lakukan dengar pendapat dengan anak remaja Anda tentang cara menolak tawaran narkoba.

5. Pikirkan bagaimana Anda akan merespons jika anak remaja Anda bertanya tentang penggunaan narkoba. Jika Anda memilih untuk tidak menggunakan narkoba, jelaskan alasannya. Jika Anda pernah menggunakan narkoba, beri tahu mereka soal pelajaran berharga dari pengamalan itu.

Hal yang bisa Anda curigai

Waspadai kemungkinan tanda bahaya, seperti :

1. Perubahan tiba-tiba atau ekstrem pada kebiasaan makan, pola tidur, penampilan fisik, koordinasi atau kinerja sekolah anak Anda.

2. Muncul perilaku yang tidak bertanggung jawab, penilaian yang buruk dan kurangnya minat secara umum.

3. Melanggar aturan atau menarik diri dari keluarga.

4. Ada wadah obat-obatan, padahal tidak menderita penyakit serius atau ada obat-obatan di kamar remaja Anda. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.