Connect with us

Relationship

Mendongeng dan Membaca Nyaring, Apa Bedanya?

Published

on

Bercerita pada anak adalah cara mengembangkan kemampuan otaknya yang sedang berkembang, yakni lewat rangsangan berupa kata-kata.

Femme.id, Jakarta – Mendongeng dan membaca nyaring adalah aktivitas yang sangat disarankan para ahli untuk orangtua dengan buah hati.

Ada perbedaan mencolok antara mendongeng dan membaca nyaring, kata penerjemah buku “Read Aloud” Rossie Setiawan.

“Mendongeng biasanya tidak menggunakan buku, tetapi membaca nyaring itu memakai buku,” kata Rossie di gelar wicara “Mempererat Ikatan Ibu dan Anak dengan Metode Read Aloud”, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Rossie mengatakan anak mendapatkan dua pengetahuan ketika orangtua membacakan cerita padanya, berupa huruf dan bunyi.

Bercerita pada anak adalah cara mengembangkan kemampuan otaknya yang sedang berkembang, yakni lewat rangsangan berupa kata-kata.

Proses ini juga dapat membangun ketertarikan anak pada buku. Ketika melihat dia dan orangtua bisa bersenang-senang dengan buku, anak lama-kelamaan akan gemar membaca setelah memahami banyak kosa kata.

Sama seperti mendongeng, sebaiknya orangtua menyampaikan cerita secara ekspresif. Mainkan intonasi agar cerita tidak membosankan, bila perlu gunakan beberapa suara yang berbeda untuk setiap karakter.

“Disarankan gunakan tanda baca yang ada, jadi anak tahu bagaimana intonasi bertanya ketika ada tanda tanya,harus berhenti sejenak ketika ada tanda koma dan harus berhenti saat bertemu tanda titik. Ini adalah salah satu cara mengajari anak cara membaca,” tutur dia.

Manfaat lain yang tak kalah berharga adalah mempererat hubungan dengan anak. Mendengar suara orangtua, melihat ekspresi anak ketika terpesona dengan cerita, kontak fisik selama proses bercerita adalah proses memperkuat ikatan antara orangtua dan anak.

Membacakan cerita secara nyaring untuk anak bisa dilakukan kapan pun, yang pasti seluruh fokus harus dicurahkan untuk kegiatan tersebut sehingga tercipta waktu berkualitas bersama anak.

Tidak perlu waktu terlalu lama dalam bercerita, selama orangtua bisa berkomitmen menjadikan hal itu sebagai rutinitas. Orangtua yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah juga bisa mempraktikannya.

“Sepuluh menit sehari, tapi rutin,” kata Rossie soal durasi bercerita. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relationship

Wanita Karir Rentan Ditinggal Selingkuh Suami

Published

on

Hasil penelitian This Is Insider, menunjukkan alasan pria berselingkuh karena semata-mata tidak mendapatkan kepuasan biologis dari pasangannya.

Femme.id, Jakarta – Pakar seksolog dokter Boyke Dian Nugraha mengatakan wanita karir yang sibuk dengan pekerjaan rentan ditinggal selingkuh oleh suami kalau tidak pandai membangun gariah seks dalam rumah tangganya.

“Semakin sibuk seorang wanita, makin tinggi jabatan seorang wanita, makin sedikit frekuensi (hubungan) seks. Itu juga menyebabkan terjadinya perselingkuhan dari pihak si pria-nya,” kata dr Boyke Dian Nugraha di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Perempuan yang memiliki pekerjaan, apalagi jika sebagian besar waktunya tersita oleh pekerjaannya, menurut Boyke, akan menghabiskan lebih banyak energi. Faktor itu mengakibatkan intensitas hubungan seks dengan pasangan berkurang.

“Jadi, saya selalu mengatakan kepada wanita-wanita yang sibuk bekerja, kadang sampai malam, tolong jangan lupa tetap berhubung seks dengan pasangannya,” katanya.

Hasil penelitian This Is Insider, lanjut Boyke, menunjukkan alasan pria berselingkuh karena semata-mata tidak mendapatkan kepuasan biologis dari pasangannya.

Kemudian survei Crisianna Northrup menunjukkan sebanyak 70 persen pria yang berselingkuh beralasan karena emosi, geliat romansa dan kehidupan seks yang kurang dari pasangannya.

Dokter Boyke memberikan tips untuk menghindari perselingkuhan akibat kesibukan kerja yakni dengan membangun komunikasi yang baik dengan pasangan.

Pasangan suami istri juga harus meluangkan waktu untuk kehidupan seks mereka, bahkan bisa dengan menjadwalkan waktu-waktu tertentu untuk lebih fokus bersama pasangannya saja.

“Ambil cuti, harus ada bulan madu perkawinan yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Jangan sok menjadi karyawan hebat yang tidak pernah mengambil cuti,” ujarnya. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Hati-Hati, Kebiasaan Panggil Mesra Teman Kerja Picu Perselingkuhan

Published

on

Sebanyak 20-30 persen perselingkuhan kering akhirnya berujung pada perselingkuhan basah.

Femme.id, Jakarta – Seksolog dokter Boyke Dian Nugraha menyebutkan, sebaiknya berhati-hati dengan kebiasaan memanggil teman kerja dengan panggilan mesra, karena bisa menjadi pintu masuk perselingkuhan.

“Ke teman (lawan jenis) seperti panggilan cin, say, beb, sebagian orang memang sudah biasa memanggil atau menulis di aplikasi messenger apalagi sudah akrab kerja satu kantor, misalnya ‘cin tungguin dong’ atau ‘mau makan di mana’,” kata dr Boyke di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Tapi lama-lama, kata dr Boyke kebiasaan memanggil rekan kerja dengan panggilan tersebut bisa berubah menjadi “perselingkuhan kering”.

“Perselingkuhan kering itu, perselingkuhan menggunakan kata-kata mesra berkomunikasi sehari-hari dan juga di aplikasi perpesanan,” kata dia.

Sementara, perselingkuhan kering ini terjadi ketika salah satu pasangan suami istri mengalami permasalahan ketidakharmonisan dalam rumah tangga dan berujung curhat kepada rekan kerja.

“Ketika salah satu mengalaminya permasalahan seks di rumahnya, atau kadang orang yang bekerja membawa permasalahan ke rumah, misalnya capek atau kesal. Dan akhirnya curhat dengan rekan kerja dia lagi ribut sama pasangan, nah ini lama-lama menjurus pada perselingkuhan basah,” ucapnya.

Perselingkuhan basah yaitu perselingkuhan yang dilakukan dengan cara kencan bertemu langsung, jalan-jalan, mengobrol berdua, atau sampai melakukan hubungan seks dengan pasangan selain suami atau istri.

Menurut penelitian dokter Boyke, sebanyak 20-30 persen perselingkuhan kering akhirnya berujung pada perselingkuhan basah.

“Mereka mengatakan, sebenarnya kita awalnya tidak ada niat kok dok buat selingkuh, paling banyak loh begitu mengatakan, ini gara-garanya cara ngobrol dengan teman kantor,” ujarnya. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Balita Boleh Bersekolah Asal Pengajaran Layak

Published

on

Pengalaman bersekolah untuk anak di bawah lima tahun harus menjadi sesuatu yang menyenangkan, proses bermain itu akan membantu tumbuh kembang sang anak.

Femme.id, Jakarta – Anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita) tetap diperbolehkan bersekolah secara formal selama pemilihan sekolah dan materi pengajaran tepat seusia mereka.

“Kalau (pengajaran) di rumah tidak bisa mencukupi stimulasi yang dibutuhkan anak, (anak balita) bisa mulai disekolahkan. Tapi, pilih sekolah yang memang tepat untuk stimulasinya,” ujar psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam bincang-bincang #NiveaSentuhanIbu – Mendongeng untuk Indonesia di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Anak balita, menurut Vera, tidak perlu diajarkan untuk membaca dan menulis karena mereka masih harus bermain.

“Pada dasarnya, anak di bawah lima tahun ya bermain. Jadi kalau mau cari sekolah, (pilih sekolah) yang metodenya bermain, tidak calistung (baca, tulis, hitung), tidak ada pekerjaan rumah untuk dia,” kata Vera.

Vera mengatakan pengalaman bersekolah untuk anak di bawah lima tahun harus menjadi sesuatu yang menyenangkan. Proses bermain itu akan membantu tumbuh kembang sang anak.

“Kalau anak masuk sekolah, jangan sampai sekolah itu menjadi beban untuknya. Sekolah itu akan mengajarkan anak tentang aturan, sosialisasi, interaksi, dan kreativitas,” ujarnya.

Vera menegaskan orang tua harus menentukan sistem pengajaran di sekolah untuk anak-anak mereka jika memilih untuk menyekolahkannya.

“Kesalahannya (orang tua) bukan keputusan menyekolahkan anak. Tapi, mungkin milih sekolahnya yang tidak tepat. Belajar calistung itu adanya di sekolah dasar bukan taman kanak-kanak,” katanya.

Vera menambahkan sejumlah sekolah dasar juga tidak mengharuskan siswa-siswa kelas satu untuk dapat membaca dengan lancar. “Hanya, memang tidak banyak,” ujar Vera tentang sekolah-sekolah dasar yang tidak mewajibkan baca tulis bagi siswa kelas satu. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.