Connect with us

Relationship

Mendongeng Bisa Dimulai Sejak Anak Masih di Kandungan

Published

on

Orangtua bisa memilih dari ragam varian buku yang ramah untuk bayi, misalnya buku yang bahannya dari kain atau buku bantal.

Femme.id, Jakarta – Tak usah menunggu lama untuk menceritakan kisah-kisah menarik pada anak. Mendongeng rupanya dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak buah hati masih menjadi janin di dalam kandungan.

“Mulailah dari 0 bulan, bahkan sejak trimester terakhir kehamilan di mana organ pendengaran janin sudah terbentuk sempurna,” kata penerjemah buku “Read Aloud” Rossie Setiawan di gelar wicara “Mempererat Ikatan Ibu dan Anak dengan Metode Read Aloud”, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

BACA JUGA : Mendongeng dan Membaca Nyaring, Apa Bedanya?

Pada trimester akhir kehamilan, janin sudah bisa mendengarkan suara ibu. Pada saat ini, ibu sudah mulai bisa membiasakan diri membaca buku cerita secara nyaring pada janin.

Beda usia, beda kebutuhan. Rossie menjelaskan tipe-tipe buku yang tepat untuk anak sesuai dengan usia masing-masing.

Pada tahap pertama usia 0-3 tahun, anak-anak berada pada tahap pramembaca.

Mereka seolah-olah sedang membaca, tapi yang “dibaca” sebetulnya gambar-gambar. Buku yang tepat untuk anak usia ini adalah buku yang didominasi gambar.

Orangtua bisa memilih dari ragam varian buku yang ramah untuk bayi, misalnya buku yang bahannya dari kain atau buku bantal hingga buku yang terbuat dari plastik hingga bisa dibacakan meski anak sedang mandi.

Ketika anak sudah mencapai usia 3-6 tahun, kenalkan dengan buku gambar sederhana. Buku masih didominasi gambar, tapi dihiasi dengan sedikit kata-kata, biasanya satu kalimat.

Pada tahap ini, anak baru mulai membaca. Carilah buku dengan gambar yang mudah dipahami meski anak belum bisa mengerti apa kata-kata yang tertera.

Pada anak usia 6-9 tahun yang sudah belajar membaca, berikan buku berisi kalimat-kalimat yang lebih panjang. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relationship

Perlunya Persiapan Matang Sebelum Memiliki Anak

Published

on

Memiliki seorang anak juga membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak dari suami dan istri.

Femme.id, Jakarta – Para calon orang tua diharapkan mempersiapkan segala hal secara matang sebelum memiliki anak karena akan muncul tantangan besar dalam membesarkan hingga mendidik sang buah hati, menurut psikolog klinis keluarga, Monica Sulistiawati.

Ia mengatakan, memiliki seorang anak juga membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak dalam hal ini suami dan istri. Apabila salah satunya tidak siap, akan berpengaruh pada psikologis anak di kemudian hari.

“Orang tua itu sebenarnya enggak siap jadi orang tua. Karena rata-rata kalau sudah menikah ya punya anak, tiba-tiba jadi ibu. Makanya sebelum punya anak harus disiapkan matang-matang,” ujar Monica dalam kampanye Mothercare “Senangnya Jadi Ibu” di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

“Punya anak itu banyak sebabnya, ada yang tuntutan umur, tuntutan orang tua atau omongan orang karena dianggap jelek kalau enggak punya anak. Ketidaksiapan si ibu ini akan mempengaruhi anak di kemudian hari,” lanjut Monica.

Menurut Monica, suami istri harus saling berkomunikasi apakah keduanya sudah siap memiliki anak atau belum. Jangan sampai, hanya satu pihak saja yang menginginkan kehadiran anak.

“Harus ada kesepakatan, sudah siap belum untuk memiliki anak. Jangan sampai yang suaminya mau punya anak, istrinya belum mau. Jadi orang tua memang tidak ada sekolahnya tapi memiliki anak itu butuh persiapan yang sangat matang. Kalau enggak siap lebih baik enggak punya anak,” jelas Monica.

Ketika sudah menjadi orang tua, Monica juga menyarankan agar tidak perlu menjadi perfeksionis. Sebab, orangtua juga bisa melakukan kesalahan.

“Makanya saya enggak bilang mengurus anak itu, enggak gampang tapi bukan berarti susah juga. Saya lebih senang bilang challenging. Santai saja, asuh anak sebaik-baiknya dan tidak perlu jadi perfeksionis untuk anak. Direktur perusahaan besar saja enggak bisa kok mengurus semua hal. Jadi rileks saja,” kata Monica. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Perlunya “Support System” untuk Ibu Baru

Published

on

Seorang ibu baru sangat membutuhkan dukungan dari orang terkenal, meski tidak selalu memberikan solusi namun bisa menjadi sosok yang mendengarkan.

Femme.id, Jakarta – Support system bagi ibu baru sangatlah penting guna menambah informasi dan relaksasi, menurut psikolog klinis Monica Sulistiawati.

Monika mengatakan, seorang ibu baru sangat membutuhkan dukungan dari orang terkenal, meski tidak selalu memberikan solusi namun bisa menjadi sosok yang mendengarkan.

Menurut dia, 80 persen ibu baru mengalami stres yang berpotensi membahayakan anak, bahkan kelangsungan rumah tangga.

“Stres kalau enggak diatasi jadi baby blues. Studi mengatakan kalo 80 persen ibu baru mengalami baby blues, kalau dua minggu enggak ditangani bisa bahaya, bisa melukai anak, dirinya sendiri atau rumah tangga berantakan,” ujar Monica dalam bincang-bincang kampanye Mothercare “Senangnya Jadi Ibu” di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Orang-orang di sekitar ibu baru juga harus selalu memberikan dukungan terhadapnya. Sebab, menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya sangat menantang karena banyaknya perubahan dalam hidupnya yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

“Support system sebenarnya enggak cuma teman tapi ada suami, keluarga, forum online, komunitas. Dengan bercerita, ini akan menumbuhkan rasa happy, waras. Ngobrol sebentar sama teman, nanti ngelihat anak lagi udah happy,” jelasnya.

“Dari teman-teman, kami dapat info banyak banget sehingga ketika hal itu terjadi seperti anak sakit, kami jadi enggak panik lagi setidaknya paniknya wajar,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, support system juga bisa menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi para ibu baru sehingga mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi berbagai pengalaman yang sangat baru di dunia parenting. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Relationship

Cara Ajak Remaja Bicara soal Narkoba

Published

on

Media sosial, program televisi, film dan lagu dapat mengagungkan atau mengkitisi penggunaan narkoba pada remaja.

Femme.id, Jakarta – Orangtua mungkin akan melakukan beberapa percakapan dengan anak remaja mereka tentang penggunaan narkoba, tapi pastikan waktunya yang tepat dan tidak mengganggu aktivitas mrreka.

Seperti dilansir dari Mayo Clinic, Sabtu (2/2/2019), ada sejumlah cara untuk berbicara dengan anak remaja tentang narkoba, yakni:

1. Tanyakan pandangan mereka

Hindari cara menjelaskan seperti dalam kelas kuliah. Alih-alih itu, dengarkan pendapat dan pertanyaan remaja Anda tentang narkoba. Yakinkan mereka bahwa mereka bisa jujur kepada Anda.

2. Diskusikan alasan untuk tidak menggunakan narkoba

Hindari taktik menakut-nakuti. Tekankan bagaimana penggunaan narkoba dapat memengaruhi hal-hal yang penting bagi anak remaja Anda – seperti olahraga, mengemudi, kesehatan dan penampilan.

3. Pertimbangkan pesan media

Media sosial, program televisi, film dan lagu dapat mengagungkan atau mengkitisi penggunaan narkoba. Bicarakan tentang apa yang dilihat dan didengar anak remaja Anda.

4. Diskusikan cara untuk menolak tekanan teman sebaya. Lakukan dengar pendapat dengan anak remaja Anda tentang cara menolak tawaran narkoba.

5. Pikirkan bagaimana Anda akan merespons jika anak remaja Anda bertanya tentang penggunaan narkoba. Jika Anda memilih untuk tidak menggunakan narkoba, jelaskan alasannya. Jika Anda pernah menggunakan narkoba, beri tahu mereka soal pelajaran berharga dari pengamalan itu.

Hal yang bisa Anda curigai

Waspadai kemungkinan tanda bahaya, seperti :

1. Perubahan tiba-tiba atau ekstrem pada kebiasaan makan, pola tidur, penampilan fisik, koordinasi atau kinerja sekolah anak Anda.

2. Muncul perilaku yang tidak bertanggung jawab, penilaian yang buruk dan kurangnya minat secara umum.

3. Melanggar aturan atau menarik diri dari keluarga.

4. Ada wadah obat-obatan, padahal tidak menderita penyakit serius atau ada obat-obatan di kamar remaja Anda. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.