Connect with us

True Story

16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Momentum Sahkan RUU P-KS

Published

on

Kampanye internasional 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang setiap tahun dilaksanakan mulai 25 November hingga 10 Desember.

Femme.id, Jakarta – Kampanye internasional 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang setiap tahun dilaksanakan mulai 25 November hingga 10 Desember bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Komnas Perempuan telah mendorong percepatan pembahasan dan pengesahan RUU P-KS guna memutus mata rantai kekerasan seksual terhadap perempuan dan mendukung pemulihan korban.

“Namun Panja Komisi 8 RUU P-KS DPR RI terkesan memperlambat pembahasan dan pengesahan di DPR,” kata Komisioner Komnas Perempuan Azriana di Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Ia mengatakan kekosongan aturan khusus mengenai perlindungan masyarakat, khususnya perempuan, dari kekerasan seksual membuat penyelesaian hukum kasus kekerasan seksual hanya bergantung pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Proses hukum yang bergantung pada KUHP dan KUHAP, menurut dia, masih mendiskualifikasi pengalaman perempuan korban sehingga membuat korban rentan dipojokkan, hak-hak mereka menjadi terabaikan, dan akses mereka pada keadilan menjadi terbatas sementara laporan kasus kekerasan seksual terus meningkat.

Komnas Perempuan mengamati perkembangan tren kekerasan seksual, dan menilai kasus-kasus kekerasan seksual di institusi pendidikan belum ditangani sebagaimana mestinya. Kasus yang dialami mahasiswi UGM misalnya, menurut Komnas, tidak ditangani sebagai pelanggaran berat di kalangan civitas akademika dan belum ada prioritas bagi pemulihan korban.

Komnas Perempuan meminta DPR segera membahas dan mengesahkan RUU P-KS tanpa mengabaikan hal prinsip terkait pencegahan, hukum acara pembuktian, pemulihan dan perlindungan hak korban. (akf)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

True Story

Pramugari Dipecat karena Emoh “Digini-gini” Bos, Hotman Paris Sentil Menhub

Published

on

Dr. Hotman Paris Hutapea, S.H., LL.M., M.Hum, adalah seorang Pengacara Indonesia.

Femme.id, Jakarta – Pengacara Hotman Paris Hutapea menyentil Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi lewat pesan video di akun jejaring sosial Instagram miliknya, @hotmanparisofficial.

Dalam video yang diunggah pada Sabtu (27/7/2019), pengacara flamboyan itu mengaku mendapatkan aduan dari pramugari saat berada di Bali.

Kata Hotman Paris, pramugari tersebut mengatakan ada temannya yang mendapatkan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dari oknum pimpinan di sebuah maskapai penerbangan tempat dirinya bekerja.

Disampaikan Hotman Paris, ancaman tersebut dilayangkan gara-gara sang pramugari enggan diajak oknum pimpinannya melakukan hubungan badan.

“Halo saya lagi ngopi di Pantai Kuta Bali. Saat aku lagi ngopi, ada dua lagi pramugari yang ngadu karena temannya terima surat PHK, karena tidak mau terima ajakan bosnya gini-gini (berhubungan badan–RED),” ujar Hotman Paris dalam video itu.

Bukan cuma itu, Hotman Paris juga mengaku, sekira dua pekan lalu sejak video tersebut diunggah, ada pramugari yang mengadu ke dirinya. Soalnya pun sama. Pramugari itu tidak dibawa terbang karena enggan diajak ‘berhubungan’.

“Dua minggu lalu, ada juga dua pramugari yang ngadu ke saya karena sudah berbulan-bulan standby nggak dikasih terbang karena bosnya melalui kapten kapal disuruh harus gini-gini sama pimpinannya,” ujar Hotman yang mengenakan kemeja biru dan topi ‘buaya darat’ di video itu.

Melihat banyaknya korban, Hotman Paris juga menyentil Menhub Budi Karya Sumadi. Dia juga mengajak pemerintah melalui menhub untuk memberantas oknum tersebut.

“Menteri perhubungan come on, ini udah banyak korban. Masa kita biarkan putri-putri yang cantik begitu harus menjadi… ah udah deh. Enak banget itu oknum, dapat jabatan, dapat cewek cantik. Ayo kita berantas dia, turunkan dia, okey. Salam Hotman Paris,” ujar Hotman Paris, seperti dikutip Suara.com. (*)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

True Story

Miris, Anak Usir Ibu Kandung Demi Membela Istri yang Berbohong

Published

on

Hubungan ibu dan anak terkadang rumit. sebagai orang tua, Ibu terbiasa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.

Femme.id, Jakarta – Kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya adalah sepanjang hayat. Sebaliknya, kasih sayang anak-anak terhadap ibu hanya sepanjang tidak merepotkan.

Dalam sebuah video yang viral baru-baru ini, seorang wanita paruh baya di Malaysia menangis tersedu-sedu di dalam sebuah mobil.

Wanita yang tidak diketahui identitasnya itu menceritakan betapa anak laki-laki dan istrinya bersikap durhaka terhadapnya.

Dia mengatakan anak laki-laki dan menantunya telah mengusirnya hanya karena masalah popok cucunya. Padahal permintaannya itu demi kebaikan cucunya alias darah daging dari anak laki-laki dan menantunya sendiri.

Video berdurasi enam menit tersebut menjadi viral setelah dibagikan oleh akun Facebook, Tik Tok Viral.

Berawal Dari Pertengkaran Dengan Menantu

Semuanya berawal dari pertengkaran wanita itu dengan menantunya yang kabarnya berasal dari Indonesia.

Wanita itu mengatakan dia menyuruh menantunya untuk segera membuang popok cucunya yang sudah penuh.

Dia beralasan popok yang penuh bisa menyebabkan masalah kesehatan kepada cucunya jika tidak segera dibuang.

Bukannya menuruti permintaan wanita itu. Menantunya itu malah marah-marah sambil berteriak, ” Kotoran Ibu lebih bau!”

Menantunya bahkan terus mengomel dan mulai melakukan penganiayaan terhadap ibu mertuanya sendiri.

Wanita malang itu bahkan ditendang, dan bajunya ditarik-tarik hingga terlepas.

Perlakuan Makin Tambah Parah

Saat insiden penganiayaan tersebut, tidak ada orang di rumah. Tapi saat putranya pulang, muncul harapan baginya untuk melaporkan kelakuan menantunya.

Tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Menantunya lebih cepat melaporkan apa yang terjadi di rumah saat itu.

Bagaikan di sinetron, menantunya itu memutarbalikkan fakta. Dia bilang ibu mertuanya telah memperlakukan dirinya dengan buruk.

Sayangnya, anak laki-lakinya lebih percaya istri daripada ibu kandungnya sendiri. Anak laki-lakinya justru marah kepada ibunya.

Begitu marahnya sampai dia tega mengusir ibu kandungnya sendiri dari rumah tersebut.

Tak Menyangka dengan Kelakuan Anak Sendiri

Dalam video, wanita itu mengungkapkan kekecewaannya yang sangat dalam. Dia tidak menyangka dengan kelakuan anaknya sendiri.

Anaknya lebih percaya kepada istri daripada ibunya sendiri. Parahnya lagi, anaknya malah mengusirnya dari rumahnya sendiri.

Wanita itu juga bercerita hidup bersama anak dan menantunya penuh dengan penderitaan.

Ketika sakit, wanita itu mengaku harus mengurus dirinya sendiri, termasuk masak bubur sendiri.

Wanita itu menambahkan bahwa dia hanya makan bubur dengan kecap di kamarnya sendirian.

Mengancam Ibunya Sendiri

Wanita itu mengaku anaknya lebih membela istri daripada dirinya ketika menantunya itu berbuat salah.

Anaknya bahkan menebar ancaman jika ibunya berani menyakiti istrinya.

“Jika Ibu memukulnya, maka aku tak segan-segan membalasnya,” kata sang anak mengancam ibunya.

Nampaknya wanita itu mengalami lebam dan lecet akibat penganiayaan menantunya.

Orang yang merekam video kemungkinan adalah teman wanita itu. Dia yang membawa wanita itu ke klinik untuk berobat.

Baru diunggah 24 jam, video tersebut langsung viral setelah dibagikan lebih dari 23.000 kali. Demikian, seperti dikutip Islamidia.com (*)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

True Story

KPAI : Anak Harus Dihindarkan dari Paham Radikal

Published

on

Keluarga adalah benteng pertama karena anak itu akan meniru apa yang dilihat dan apa yang dirasakan.

Femme.id, Jakarta – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait meminta kepada semua pihak untuk bersama-sama membentengi anak-anak agar terhindar dari paham radikal ataupun doktrin kebencian yang dapat menimbulkan aksi terorisme di kemudian hari.

Dikutip dari siaran pers di Jakarta, Jumat (27/7/2019), Arist mengatakan bahwa penanaman paham radikal saat ini sudah merata dan sudah menyebar, baik di sekolah maupun lingkungan.

“Sekarang ini anak dieksploitasi demi kepentingan keyakinan politik orang dewasa dan sebagainya. Dengan adanya penanaman paham itu, anak dapat berpotensi menjadi pelaku kekerasan, seperti aksi terorisme,” ujar Arist.

Arist mengamati fenomena penyebaran paham radikal kepada anak saat ini sudah parah. Kepada anak-anak itu ditunjukkan simbol-simbol kekerasan dan doktrin bahwa mereka berbeda dengan kelompok yang lain.

“Kalau misalnya sekarang ini ada anak yang sudah tidak menghormati bendera, tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, tidak mau tahu konten atau isi dari Pancasila, hal itu adalah bagian dari penanaman penolakan dari ideologi bangsa,” ujarnya.

Menurut dia, penanaman paham radikal dan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang dekat dari anak tersebut tentunya menambah panjang daftar anak yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan, baik di sekolah, lingkungan tempat tinggalnya, maupun lingkungan sosialnya.

“Kejadian bom di Surabaya dan Sibolga lalu turut melibatkan anak. Orang tua tentunya juga sudah tidak dapat lagi berpikir rasional,” ujarnya.

Menurut Arist, untuk menghindarkan anak dari pengaruh paham radikal, pertama tentunya dari lingkungan rumah, orang tua harus dapat melindungi anaknya. Keluarga adalah benteng pertama karena anak itu akan meniru apa yang dilihat dan apa yang dirasakan.

Selain itu, lembaga pendidikan harus dapat menanamkan pendidikan deradikalisasi. Untuk itu, wajib ada kurikulum deradikalisasi mulai dari tingkat SD sampai jenjang pendidikan menengah atas.

Yang tidak kalah penting, menurut Arist, adalah lingkungan yang ramah anak. Lingkungan harus bisa mengembangkan nilai-nilai positif, seperti gotong royong, toleransi, dan budaya timur lainnya. (sig)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.