Connect with us

Health

Olahraga Tepat Agar Nyeri Pinggang Tak Kembali

Published

on

Olahraga sebaiknya tak dilakulan lebih dari satu jam karena bisa menimbulkan kelelahan dan memancing munculnya nyeri baru.

Femme.id, Jakarta – Siapa yang mau merasakan nyeri pinggang untuk kali kedua, ketiga dan seterusnya, tidak ada, dan agar nyeri ini tak muncul kembali, olahraga rutin bisa menjadi pilihan.

“Jalan cepat dan berenang gaya bebas, bukan gaya punggung. Jalan cepat bagus asalkan berat badan dikendalikan,” ujar Spesialis bedah saraf Brain & Spine Bunda Neuro Center, Dr.dr. Wawan Mulyawan, SpBS (K), SpKP di Jakarta, Jumat (2/11/2018).

BACA JUGA : Posisi Duduk untuk Penderita Nyeri Pinggang

Berjalanlah 150 menit per minggu atau 3-5 kali dalam seminggu dengan kecepatan 5-6 km/jam.

Pada bulan pertama nyeri mungkin masih bisa terasa. Namun kondisi ini akan membaik pada bulan-bulan berikutnya, karena otot-otot bagian pinggang semakin menguat.

“Sebulan pertama masih akan terasa nyeri, tetapi pada bulan kedua, ketiga, makin terasa lebih baik karena otot-otot pinggang semakin kuat. Otot yang terlatih dengan jalan cepat bisa kuat,” kata Wawan.

Olahraga sebaiknya tak dilakulan lebih dari satu jam karena bisa menimbulkan kelelahan dan memancing munculnya nyeri baru.

“Jangan lupa tetap lakukan peregangam dan pelepasan agar otot tak kaku dan muncul nyeri. Tujuan olahraga untuk memperkuat otot dan relaksasi otot,” tutur Wawan.

Nyeri punggung dan pinggang menjadi salah satu masalah yang paling banyak dialami orang-orang di seluruh dunia, setelah sakit kepala. Nyeri ini muncul bisa karena berbagai penyebab, salah satunya kekakuan otot.

90 persen kasus akan membaik dalam enam minggu, 5 persen akan membaik dalam tiga bulan dan 5 persen perlu mendapatkan pengobatan intensif. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Health

Dokter Gigi : Tidak Semua Orang Memerlukan Veneer dan Kawat Gigi

Published

on

Veneer merupakan tindakan memberikan lapisan luar pada gigi agar terlihat lebih putih.

Femme.id, Jakarta – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Diono Susilo mengatakan bahwa kini sedang tren veneer dan kawat gigi.

“Veneer merupakan tindakan memberikan lapisan luar pada gigi agar terlihat lebih putih,” ujar drg. Diono saat ditemui usai konferensi pers peluncuran IDEC 2019 di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

BACA JUGA : Teknologi Baru untuk Perawatan Gigi dan Mulut

Namun, ia mengingatkan mengenai risiko yang timbul pada gigi yang di-veneer, yakni gigi dalam menjadi rusak.

“Veneer itu dilakukan pada era 1990-an itu dengan memertimbangkan terdapat satu indikasi tertentu, seperti warna gigi tidak putih karena antibiotik,” imbuh drg. Diono.

Demikian pula mengenai tren kawat gigi yang juga memengaruhi pada fungsi pengunyahan.

“Bila pemasangan kawat gigi tidak tepat, maka gigi akan keluar,” ucap drg. Diono.

Oleh karena itu, ia mengingatkan,“Tidak semua orang memerlukan veneer dan kawat gigi dan jangan menjadikan sebagai tren. (ang)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Teknologi Baru untuk Perawatan Gigi dan Mulut

Published

on

CBCT (Cone Beam Computed Tomography), teknik pengambilan gambar radiografi yang menggunakan sinar X.  

Femme.id, Jakarta – Perkembangan teknologi berkontribusi penting bagi perawatan gigi dan mulut, terutama memberikan pasien keamanan dan kenyamanan, menurut Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Diono Susilo.

Dokter gigi Diono menuturkan bahwa pada akhir tahun lalu, negara-negara maju menggunakan CBCT (Cone Beam Computed Tomography), teknik pengambilan gambar radiografi yang menggunakan sinar X.  

BACA JUGA : Gula Berperan Penting sebagai Penyebab Gigi Berlubang

“Hasil rontgen gigi ini dapat dilihat beberapa sudut pandang, dari samping atau depan. Kita bisa melihat dari bawah, sehingga kita dapat menganalisa lebih tepat,” ujar drg. Diono saat berbincang dalam konferensi pers peluncuran IDEC 2019 di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Ketua IDEC 2019 ini mengatakan bahwa CBCT adalah teknologi mutakhir yang dapat diterapkan untuk mendiagnosis implan gigi. 

“Dalam beberapa kasus, terdapat gigi ‘tertanam’ yang tidak kelihatan. Melalui CBCT dapat dilihat kasusnya sehingga diperoleh diagnosis yang tepat sehingga memberikan pelayanan yang safety bagi pasien,” imbuh drg Diono. 

Kemudian, sambungnya, teknik anestesi yang terbagi dalam beberapa golongan yang lebih aman kandungannya. 

“Di era digital ini alat-alat yang digunakan pada industri kedokteran gigi juga akan mengarah ke robotik dan digital. Contohnya, dahulu pemasanhan implan secara manual sekarang robotik digital. Panduannya jelas,” ungkap Ketua PB PDGI Dr. drg Hananto Seno, SpBM, MM. (ang)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Peneliti : Hubungan Genetik Antara Obesitas dan Depresi Terkuak

Published

on

Depresi, dan efeknya lebih kuat pada perempuan dibanding lelaki.

Femme.id, Jakarta – Kelebihan berat badan dapat menyebabkan depresi, kata para peneliti, yang sebagian besar berdampak pada psikologis seseorang, menurut laporan The Guardian yang dilansir Rabu (14/11/2018).

Sementara itu, penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang yang mengalami obesitas cenderung mengalami depresi, namun belum jelas apakah depresi mendorong perubahan berat badan atau sebaliknya.

BACA JUGA : Jangan Pendam Pikiran Negatif Terus Agar Tak Depresi

Sekarang, dalam penelitian sejenis yang lebih besar, para ahli mengatakan memiliki varian genetik berhubungan dengan IMT yang tinggi menyebabkan depresi, dan efeknya lebih kuat pada perempuan dibanding lelaki. Apalagi, mereka mengatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut berpengaruh pada citra tubuh mereka.

“Orang-orang dengan kelebihan berat badan di dalam masyarakat itu merasa lebih tertekan, dan hal itu setidaknya bagian dari dampak timbal balik dari IMT pada depresi,” ujar penulis-pembantu penelitian dari sekolah kedokteran University of Exeter Prof Tim Frayling.

Dalam tulisan di International Journal of Epidemiology, para peneliti dari Inggris dan Australia menjelaskan bagaimana mereka menggunakan data dari UK Biobank, sebuah penelitian yang melibatkan 500.000 partisipan dengan usia antara 37 tahun hingga 73 tahun yang direkrut pada tahun 2006-2010.

Para peneliti mengamati 72 varian genetik yang berkaitan dengan IMT yang tinggi juga berhubungan dengan beragam penyakit berisiko tinggi seperti diabetes dan penyakit jantung. Mereka juga melihat 14 varian genetik yang berkaitan dengan persentase lemak tubuh yang tinggi namun berkaitan dengan risiko lebih rendah terhadap masalah kesehatan tersebut.

Kelompok yang pertama dapat dikaitkan dengan depresi melalui mekanisme biologis atau psikologis, sedangkan kelompok yang kedua diharapkan hanya memiliki dampak psikologis.

Secara keseluruhan, tim menemukan bahwa orang dengan IMT yang tinggi itu cenderung mengalami depresi.

Terfokus pada 73 varian genetik, dan dengan memertimbangkan faktor-faktor termasuk usia dan jenis kelamin, mereka menemukan bahwa setiap peningkatan sebanyak 4,7 poin dalam IMT, kemungkinan depresi meningkat sebesar 18 persen secara keseluruhan, dan 23 persen di antaranya perempuan.

Ketika tim peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber, mereka menemukan 14 varian genetik yang meningkatkan lemak tubuh tetapi tidak terkait dengan gangguan kesehatan metabolik termasuk juga berhubungan dengan meningkatnya seseorang mengalami depresi.

“Ini menunjukkan komponen psikologis sama kuatnya dengan komponen fisiologis apa pun, jika [yang terakhir] ada di sana,” kata Frayling, yang menunjukkan citra tubuh yang buruk berperan sebagai mekanisme.

Naveed Sattar, seorang profesor pengobatan metabolik di Universitas Glasgow, menyambut baik penelitian tersebut.

“Temuan baru ini mungkin yang terkuat sejauh ini untuk menunjukkan bahwa kelebihan berat badan sebenarnya dapat berkontribusi terhadap depresi. Tentu saja, banyak faktor lain yang dapat menyebabkan depresi, tetapi, meskipun demikian, menurunkan berat badan mungkin membantu meningkatkan kesehatan mental pada beberapa individu, sedangkan menjaga seseorang tetap langsing secara umum akan membantu mengurangi kemungkinan depresi,” katanya. (ang)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.