Connect with us

Kuliner

Bosan Makan Ramen? Coba Resep Kakiage Soba

Published

on

Kakiage soba, adalah mie berwarna kecokelatan yang terbuat dari gandum.

Femme.id, Jakarta – Ingin menikmati mie khas dari Negeri Sakura tapi bosan dengan ramen? Coba santap soba, mie berwarna kecokelatan yang terbuat dari gandum.

Masato Tsuki, Chef of Ambassador of the Mission of Japan to Asean, berbagi resep kakiage soba yang bisa dipraktikkan di dapur Anda.

BACA JUGA : Soba Mewarnai Peringatan 45 Tahun Kemitraan Jepang-ASEAN

Kakiage adalah tempura yang berisi potongan sayuran. Dalam hidangan ini, semangkuk mi soba diguyur dengan kuah panas kemudian disajikan dengan tempura kakiage.

Bahan:

Soba kering
Sup untuk soba (versi instan dijual di supermarket)
Udang
Cumi
Bawang bombay
Ubi
Wortel
Jamur shiitake
Gobo
Daun mitsuba (Japanese wild parsley, daun kecil seperti seledri dengan ujung bergerigi)
Jahe
Minyak goreng
Tepung terigu

Cara membuat:

1. Kupas kulit udang, bersihkan bagian punggung. Potong memanjang 1 cm. Cuci dengan air garam, keringkan dengan kertas tisu.

2. Bersihkan cumi, kupas kulitnya dan potong seukuran 1×3 cm.

3. Cuci gobo dan ubi, kerat bagian yang tidak diinginkan, keringkan. Iris semua sayuran (bawang bombay, ubi, wortel, jamur, gobo) sepanjang 3 cm. Potong daun mitsuba sepanjang 2 cm. Iris jahe tipis dan pendek.

4. Campur semua bahan yang telah dipotong dengan tepung terigu, aduk rata. Tambah air sesuai takaran yang tertulis pada kemasan (setiap produk punya perbandingan takaran tepung terigu dan air yang berbeda).

5. Panaskan minyak goreng hingga 170 derajat celcius. Masukkan satu centong adonan ke dalam minyak, goreng selama 30 detik. Balik dan goreng sisi lainnya selama 1-1,5 menit. Tiriskan.

6. Masukkan soba ke air mendidih dan rebus sesuai panduan yang tertulis pada kemasan soba. Sesekali aduk perlahan agar soba tidak saling menempel. Setelah matang, angkat, tiriskan dan bilas dengan air dingin untuk menghilangkan sisa pati pada soba.

7. Tuang sup soba ke dalam panci, tambahkan air, panaskan hingga hampir mendidih.

6. Untuk menyajikan soba panas, tuang air panas untuk menghangatkan soba, lalu tiriskan. Masukkan soba ke mangkuk, tuang supnya. Letakkan kakiage di atas soba, tambah topping sesuai selera, seperti taburan daun bawang, cabe bubuk, telur, tempura atau bakwan jagung. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kuliner

Pedagang Harapkan Bakso Mendunia

Published

on

Bakso, adalah jajanan khas nusantara pada umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka.

Femme.id, Jakarta – Para pedagang bakso mengharapkan kuliner bakso khas nusantara dapat masuk ke pasar dunia karena memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kuliner dari negara lain.

Ari (26), seorang pedagang bakso rusuk yang mengikuti Festival Bakso di Mangga Dua Square, Jakarta Barat, Rabu (12/12/2018) mengatakan bakso rusuk masih jarang ditemui di luar negeri.

Ia mengatakan pemasaran kuliner ini cukup bagus karena cukup diminati oleh pengunjung selama festival yang berlangsung 10-13 Desember 2018.

Dalam sehari, Ari bisa menjual 30 sampai 40 porsi bakso rusuk kepada pengunjung atau pecinta bakso. Satu porsi bakso terdiri satu bakso besar seukuran mangkok yang terdapat satu tulang rusuk sapi. Kuliner ini disajikan tanpa mie namun tetap berkuah.

“Daging rusuk yang empuk membuat bakso tersebut menjadi mudah untuk dikunyah,” kata Randy, seorang pembeli bakso rusuk.

Sementara itu, Erfan, pedagang bakso nyuknyang yang juga mengikuti festival berharap kuliner khas Kota Makassar bisa dikenal di mancanegara.

“Toh kalau bakso nyuknyang terkenal sampai ke luar negeri, kita juga kan yang bangga. Makanya, sebelum ‘go international’, saya kenalkan bakso nyuknyang dulu ke Jakarta,” ujarnya.

Bakso nyuknyang umumnya berbentuk kotak dengan cita rasa khas Makassar yang kaya dengan bumbu rempah-rempah. Linda, pedagang bakso granat dan mercon juga berharap kuliner khas Indonesia, khususnya bakso dapat dikenal di luar negeri.

“Mungkin saja, saya pribadi sebagai warga negara Indonesia akan merasa sangat bangga kalau makanan Indonesia, khususnya bakso mercon dan bakso granat dapat dikenal oleh masyarakat luar negeri,” tambahnya.

Festival Bakso diadakan pada 10-13 Desember 2018. Acara tersebut menghadirkan beragam kuliner khas nusantara, khususnya bakso.

Aneka bakso yang disajikan dalam festival antara lain bakso milano dari Kalimantan Tengah, bakso babat Salatiga, bakso kerikil, jamur, dan goreng bumbu rujak khas Sukabumi. (san/rez)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Kuliner

Chef Juna Promosikan Kuliner Indonesia di Brunei

Published

on

Juna Rorimpandey, adalah seorang chef indonesia.

Femme.id, Jakarta – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bandar Seri Begawan bekerja sama dengan Indonesian Chef Association (ICA) menghadirkan Chef Juna Rorimpandey untuk mempromosikan kuliner Indonesia kepada warga Brunei Darussalam.

Ratusan tamu menyaksikan aksi Chef Juna memasak makanan khas Bali di Parkview Hotel, Brunei Darussalam, pada 9 Desember 2018. Dengan bantua beberapa koki ICA, dia memasak sate lilit, serombotan, ayam suwir khas Bali dan sambal matah.

“Ciri khas kuliner Bali adalah kelengkapan rempahnya dan rasanya yang pedas, sederhana namun tidak mudah membuatnya karena harus memperhatikan kelengkapan rempah-rempahnya,” kata Chef Juna dalam siaran pers KBRI Bandar Seri Begawan pada Senin (10/12/2018).

Demo masak Chef Juna merupakan bagian dari rangkaian “Fabulous Indonesian Culinary Fest”, acara kolaborasi KBRI Bandar Seri Begawan dengan ICA untuk mempromosikan kuliner Indonesia kepada masyarakat Brunei Darussalam yang juga meliputi penyediaan angkringan dan ukir buah hasil kreasi ICA.

Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam Sujatmiko dalam sambutannya pada pembukaan acara tersebut menyampaikan bahwa KBRI Bandar Seri Begawan berupaya memperkenalkan ragam kuliner Indonesia di luar beberapa kuliner yang sudah sangat dikenal di Brunei Darussalam seperti bakso, sate, ayam penyet, dan nasi goreng.

“Selain itu kerja sama dengan ICA, yang memiliki sekitar 350 anggota di Brunei Darussalam, merupakan wujud nyata sinergi antara KBRI dan masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam dalam mempromosikan kuliner Indonesia,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa keberadaan sekitar 350 koki asal Indonesia yang bekerja di hotel-hotel top di Brunei, ditambah banyak restoran Indonesia dan para pekerja domestik di rumah-rumah warga Brunei secara otomatis ikut serta mempromosikan masakan Indonesia di Brunei Sarussalam.

Selain melakukan demo masak, dalam acara itu Chef Juna juga menjadi juri acara Fabulous Indonesian Culinary Challenge, tempat tidak kurang dari 25 juru masak restoran dan hotel di Brunei serta pelajar sekolah kuliner lokal berkompetisi dalam lomba bakso display, ukir buah dan black box cooking.

Acara kolaborasi KBRI Bandar Seri Begawan dan ICA tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Brunei December Festival, agenda Pemerintah Brunei Darussalam untuk menarik wisatawan domestik dan luar negeri ke Brunei pada masa liburan akhir tahun. (yas)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Kuliner

Marandang Satukan Perbedaan

Published

on

Rendang atau randang, adalah masakan daging bercita rasa pedas yang menggunakan campuran bahan rempah-rempah.

Femme.id, Jakarta – Uniknya memasak rendang menyatukan perbedaan suku di Nusantara saat Festival Nusantara Marandang di Area Parkir Timur Senayan pada Minggu (3/12/2018) sore.

Puluhan wajan berlomba-lomba menghadirkan aroma bumbu dan daging yang bersatu padu, membuat siapapun tergiur untuk segera mencicipinya.

Setiap meja terdiri dari tiga orang, umumnya wanita, lengkap dengan kostum daerah masing-masing. Tak lupa celemek menjadi atribut wajib karena kuah rendang biasanya selalu menyembur sebelum masak.

Sebuah meja yang diisi dengan wanita berbaju tradisional bali berwarna hijau tosca menyapa ramah sambil tersipu dan terus mengaduk rendang yang baru setengah masak.

“Iya, kami belajar mengenal masakan daerah lain selain daerah kita,” ujar peserta asal Bali bernama Ni Nyoman Trida Karyati.

Tak ada kecanggungan yang terasa dari para wanita ini, dengan ulet mereka terus mengaduk sampai adonan daging menghitam sehingga nantinya bisa disantap bersama.

Sebanyak lima kilogram daging dan bumbu-bumbu khusus rendang disiapkan panitia acara. Uniknya, para peserta tidak dibatasi kreativitasnya sehingga diperbolehkan memasak rendang dengan cara berbeda.

Karena latar belakang budaya khas masing-masing daerah, terlihat isi wajan rendang tiap peserta berbeda-beda, ada yang kelihatannya pedas, ada juga yang berminyak menyerupai “kalio” atau gulai.

Trida mengakui rendang buatan perwakilan daerahnya itu merupakan kolaborasi dia dan dua temannya mengandalkan informasi dari internet.

“Saya biasanya makan rendang di rumah makan Padang,” ucap Trida tergelak.

Di Bali, kata Trida, tidak ada makanan yang menyerupai rendang karena rata-rata masakan khas Pulau Dewata itu tidak menggunakan santan seperti makanan Minang.

Beberapa semburan rendang dari wajan Trida mengenai baju bila terlalu dekat, namun aroma rendang yang mengudara tak menyurutkan pengunjung untuk menahan liur.

Lain halnya dengan peserta dari Kalimantan Utara yang baru sekali ini mencoba memasak rendang di festival perdana yang digelar di Jakarta itu dengan tujuan memecahkan rekor muri.

“Baru sekali ini mencoba memasak, disini,” kata Suprianto Haseng yang juga merupakan Duta Anjungan Taman Mini Indonesia Indah.

Menggunakan kostum khas Kalimantan Utara dengan hiasan kepala yang didominasi warna hitam dan emas, Suprianto dibantu kedua temannya belajar memasak rendang pertama kali dengan bantuan internet.

Pemuda asli Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara itu tidak merasa kesulitan selagi tekun mempelajari hal baru, contohnya memasak makanan khas daerah lain seperti randang.

Ia bersama temannya Agus Toni yang berasal dari Malinau, Kaltara tergabung dalam kelompok Promosi Budaya Nusantara Kalimantan Timur-Utara tertarik mengikuti kegiatan memasak randang massal untuk pengalaman.

Karena pengalaman pertama, Suprianto mengaku kaget karena proses memasak rendang tidak semudah yang dibayangkan.

Jika zaman dahulu orang Minang menggunakan kayu bakar untuk “marandang”, maka sekarang berkat kecanggihan perkembangan teknologi, memasak rendang bisa menggunakan kompor gas atau listrik yang tentunya lebih efisien.

“Agak kaget juga, karena baru tau. Oh ternyata kayak gini masaknya,” kata Suprianto lagi.

Hal serupa juga dirasakan peserta perwakilan Papua Barat, Amsani yang merupakan warga asli Jakarta.

“Saya tertarik memasak rendang karena lebih awet, tahan lama. Kalau diolah dengan benar bisa seminggu tahannya. Kadang saya bisa tahan sampai sebulan, habis masak taruh di freezer,” tukas wanita berusia 44 tahun itu.

Amsani yang berpakaian khas Papua lengkap dengan bulu-bulu, walnya merasa susah memasak rendang sebab cara memasaknya berbeda dengan masakan pada umumnya.

“Saya kira sudah masak, tapi belum. Ternyata kalau hitam justru itu yang masak, saya pikir gosong,” ujarnya sambil tertawa.

Kegiatan masak rendang bersama itu ditinjau langsung oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno beserta istri di Area Parkir Timur Senayan.

Semua meja peserta marandang dihampiri oleh petinggi di Sumbar tersebut, Irwan yang mengenakan batik coklat berjalan mengitari meja peserta dengan wajah antusias.

Ibu Gubernur Sumbar, Nevi Zuairina berkomunikasi dengan peserta tiap daerah sambil mendukung agar dapat memenangkan hadiah utama perlombaan itu.

“Wah, ini sudah hampir jadi,” ucap Nevi ketika menghampiri meja peserta dari Kalimantan Tengah.

Rendang yang berwarna coklat tua menandakan bahwa rendang akan segera siap disantap, namun karena warnanya mencolok Nevi bertanya perihal bumbu yang dipakai.

Peserta Kalteng mengaku menggunakan gula merah pada campuran rendangnya sebagai variasi.

“Kami tidak pernah pakai gula merah, harus lebih pedas,” tambah Nevi kembali.

Tak lupa, peserta Nusantara Marandang menyempatkan diri untuk berfoto bersama Gubernur Sumbar dan istri sebagai kenang-kenangan. Raut kebahagiaan terpancar dari mereka meski berbeda suku dan budaya, namun rendang dapat menyatukan perbedaan itu.

Rendang masih populer di dunia

Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI menegaskan bahwa rendang, makanan khas Sumatera Barat, masih menjadi makanan terpopuler di dunia versi CNN.

“Randang ini sudah masuk di survey CNN, media yang termasuk populer di dunia, “the most delicious food in the world and planet”,” ujar Ketua Tim Percepatan Pengembangan Destinasi Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata Vita Datau.

Pengklaiman budaya seringkali menjadi masalah, sehingga Kemenparbud RI terus berupaya melakukan usaha pembelaan warisan budaya asli Nusantara.

Usaha-usaha yang diterapkan meliputi penetapan lima makanan nasional, ekspor rendang, hingga penganugerahan terhadap pejuang bisnis kuliner lokal di mancanegara.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno berharap makanan dan pariwisata menjadi perhatian bagi Kementerian Pariwisata sebagai suatu cara untuk mengajak wisatawan melalui pesona makanan.

Festival Nusantara Marandang itu diikuti oleh 34 provinsi di Indonesia yang berlomba-lomba untuk memasak rendang terenak untuk mendapatkan hadiah.

Hal positif yang dapat diambil, kata Irwan, bukan hanya orang Minang saja yang pandai memasak rendang, namun orang luar Sumbar juga.

“Ini Insya Allah memberikan kebaikan karena randang sehat dan juga lezat,” tukasnya.

Even Nusantara Marandang yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di ibukota negara, bukan saja mengundang minat utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, tetapi meraih piagam penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

Hasil Lomba Nusantara Marandang pada tahun 2018, Jura pertama diraih oleh provinsi Nusa Tenggara Barat, Juara kedua oleh provinsi Jawa Barat dan Juara ketiga oleh provinsi Maluku.

Sementara juara favorit I oleh provinsi Banten, juara faforit II dari provinsi Kalimantan Tengah dan juara faforit III dari provinsi Riau.

Penyerahan piala dan hadiah diserahkan langsung oleh Wakil Gubenur Sumbar Nasrul Abit. (tes)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.