Connect with us

Health

Kurangi Kecanduan Anak pada Gadget, Saint John’s School Gelar Pekan Literasi Media

Published

on

Anak yang terlalu nyaman bermain gadget cenderung kurang aktif melakukan gerakan tubuh.

Femme.id, Jakarta – Anak-anak dan remaja saat ini seperti “dicekoki” berbagai informasi dalam bentuk berita bohong atau hoax, gambar dan foto yang tidak sesuai dengan usia serta video tak mendidik melalui gadget atau gawai yang setiap hari mereka gunakan.

Untuk mencegah pengaruh buruk gawai dan konten-konten yang negatif tersebut, orangtua dan guru serta orang terdekat harus terus mengingatkan.

Dalam konteks Hari Anak Nasional dan literasi media itulah, lembaga pendidikan Saint John’s School Meruya, yang beralamat di Taman Villa Meruya Blok D1 No 1, Jakarta Barat mengelar kegiatan positif Pekan Literasi Media, Rabu (25/7/2018).

Topik Pekan Literasi Media yang digelar dari 23 hingga 27 Juli ini adalah “Digital Savvy Using Social Media.” Dalam kegiatan ini diadakan berbagai acara bagi pelajar dari usia Taman Kanak-kakan hingga SMA dan juga orangtua.

Kegiatan sangat positif ini terjalin berkat kerja sama Saint John’s School Meruya dan Akademi Televisi Indonesia (ATVI) – Indosiar dan diikuti ratusan pelajar mulai TK-SMA yang secara teknis dibagi dalam beberapa kelompok.

Paulus Pontoh dari Sekolah Saint John’s menjelaskan, tujuan utama acara ini adalah membuat anak-anak lebih bijak dalam menggunakan gawai serta meningkatkan kesadaran anak untuk membaca buku dan menjadikan kebiasaan membaca buku sebagai hal yang menyenangkan.

Seorang dosen ATVI yang mengisi acara Pekan Literasi Media, Safrudiningsih, Msi mengatakan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi keresahan orangtua murid pada umumnya terhadap kegiatan anak-anak yang lebih asyik terhadap gadget dan totontan televi. Karena itu ATVI sebagai lembaga pendidikan yang dimiliki yayasan Indosiar merasa terpanggil untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan literasi media tersebut

Safrudiningsih mengatakan, pada hari pertama Pekan Literasi ditujukan pada usia taman kanak-kanak, yaitu Pre K, K1 dan K2 yang jumlahnya sekitar 100 anak dan Anak sekolah dasarnya jumlahnya hampir 200 ini dibagi dalam 2 kategori.

Kategori pertama anak kelas 1-3 diajak juga mendongeng. Strata ini masih dianggap bisa mennggunakan media dongeng untuk mengedukasi anak-anak.

Sedangkan kelompok kedua klas 4-6 sekolah dasar akan diberika pelatiha berkaitan menulis dan mencerna informasi dalam rumus 5 W 1 H atau biasanya dalam bahasa Indonesia disebut Adik Simba (apa, dimana, kapan, siapa, mengapa dan bagaimana).

Perempuan yang akrab disapa Ibu Ning ini mengatakan, melalui media dongeng anak-anak diajak untuk meninggalkan gawai dan tidak menonton televisi. Anak-anak diajak untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan yaitu mendongeng.

Anak-anak pun dibagikan boneka tangan. Dari boneka tangan itu, anak-anak diajak berimajinasi dan bermain dengan asyik. Pola dan pendekatan seperti itu berhasil menarik anak anak untuk ikut terlibat dalam dongeng.

“Mendongeng jarang dilakukan lagi di sekolah maupun di rumah, padahal mendongeng itu penting sebagai sarana hiburan anak, membangun imajinasi anak, meningkatkan keinginan membaca dan secara tidak langsung kita dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan yang bisa dipraktikkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ibu Ning yang juga aktif dalam Komunitas Dongeng ini. (sri)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Health

Kurang Vitamin D Berisiko Kena Skizofrenia

Published

on

Mereka yang lahir dengan kekurangan vitamin D memiliki risiko 44 persen lebih tinggi terkena skizofrenia di kemudian hari.

Femme.id, Jakarta – Bayi yang lahir dengan kekurangan vitamin D berisiko lebih tinggi mengalami skizofrenia di masa depan, menurut studi dari Universitas Aarhus di Denmark dan Universitas Queensland di Brisbane, Australia.

“Sebagian besar perhatian dalam penelitian skizofrenia fokus pada faktor-faktor yang dapat dimodifikasi pada awal kehidupan dengan tujuan mengurangi beban penyakit ini,” kata penulis studi Prof. John McGrath seperti dilansir Medical News Today, pekan lalu.

BACA JUGA : Enam Tanda Kekurangan Vitamin D

Untuk sampai pada temuan ini, para peneliti menganalisis kadar vitamin D dalam sampel darah dari bayi yang lahir di Denmark pada 1981-2000.

McGrath dan tim lalu membandingkan sampel-sampel ini dengan sampel tambahan dari individu-individu bebas skizofrenia.

Hasilnya, mereka yang lahir dengan kekurangan vitamin D memiliki risiko 44 persen lebih tinggi terkena skizofrenia di kemudian hari.

“Kami berhipotesis bahwa kadar vitamin D yang rendah pada wanita hamil karena kurangnya paparan sinar matahari selama musim dingin mungkin mendasari risiko ini, dan [kami] menyelidiki hubungan antara kekurangan vitamin D dan risiko skizofrenia,” papar McGrath.

Mencegah kekurangan vitamin D pada wanita yang sedang hamil, mencegah risiko skizofrenia nantinya pada anak-anak mereka.

“Karena janin yang sedang berkembang sepenuhnya bergantung pada penyimpanan vitamin D ibu, temuan kami menunjukkan bahwa memastikan ibu hamil memiliki tingkat vitamin D yang cukup dapat menyebabkan pencegahan beberapa kasus skizofrenia,” tutur McGrath.

Skizofrenia memiliki gejala seperti halusinasi, delusi dan masalah kognitif. Sejauh ini, para peneliti belum dapat menemukan dengan tepat apa yang menyebabkan kondisi ini.

Walau begitu, ada beberapa faktor risiko munculnya skizofrenia – seperti adanya set gen tertentu atau paparan beberapa virus. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Kenali Gejala Kanker Mulut dengan SAMURI

Published

on

Kanker mulut, adalah sulit menguyah, sulit menelan, kekakuan lidah, trimsus, lesi (keadaan tidak normal).

Femme.id, Jakarta – Kanker mulut bisa dicegah sedini mungkin, yang termudah adalah dengan cara mengenali gejala-gejalanya dan melakukan pemeriksaan sendiri atau SAMURI (periksa mulut sendiri).

Ada beberapa gejala kanker mulut yang perlu diwaspadai seperti perubahan warna mukosa, sariawan yang tidak sembuh, rasa sakit yang menetap di tempat yang sama, benjolan yang tidak lazim, pembengkakan kelenjar getah bening, gejala disfungsi, pendarahan tidak normal serta berat badan turun tanpa sebab.

BACA JUGA : Stress Ringan Dapat Memicu Terjadinya Kanker Mulut

Selain itu, gejala lain yang bisa ditemui dari kanker mulut adalah sulit menguyah, sulit menelan, kekakuan lidah, trimsus, lesi (keadaan tidak normal) yang tidak sakit pada awalnya, lesi yang berindurasi dan gigi goyang tanpa sebab.

“Kanker mulut bisa dicegah karena awalnya dari lesi pra kanker. Kita bisa menekannya. Ciri-cirinya bisa berupa lesi merah, lesi putih atau lesi merah putih. Bisa juga berupa sariawan atau tonjolan,” ujar drg. Rahmi Amtha, MDS. Sp.PM PhD dalam bincang-bincang “Cegah Kanker Mulut” di Jakarta, Kamis (13/12/2018).

Dokter gigi tersebut mengatakan jika gejala lesi bisa diketahui dengan mudah dan dilakukan sendiri di rumah lewat SAMURI. Pertama-pertama, cucilah tangan dan berdirilah di depan cermin.

Kemudian, periksalah bibir bagian atas dan bawah, gusi atas dan bawah, pipi bagian kanan dan kiri, lidah bagian atas dan bawah, rongga mulut atas dan bawah serta lidah sisi kanan dan kiri.

“Bisa ditambahkan periksa juga kelincahan lidah, kekakuan lidah serta pergerakan lidah,” kata Dr. drg. Hananto Seno, Sp. BM., MM, Ketua Perhimpunan Persatuan Dokter Gigi Indonesia. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Health

Stress Ringan Dapat Memicu Terjadinya Kanker Mulut

Published

on

Manker mulut juga dapat dicegah, caranya adalah menghindari rokok, minuman alkohol.

Femme.id, Jakarta – Kanker mulut terbilang masih jarang ditemukan di Indonesia. Meski demikian, penyakit ini sangat mematikan dan salah satu penyebabnya adalah stres.

Kanker mulut disebabkan oleh banyak hal seperti merokok, iritasi kronis, minuman keras/alkohol, genetik, makanan pengawet, makanan yang dibakar, sinar UV, gizi buruk, penyedap makanan serta stres.

BACA JUGA : Plus dan Minus Mengalami Stress

Tanpa diduga, stres ternyata memiliki peran untuk menimbulkan kanker, salah satunya adalah kanker mulut. Dr. drg. Hananto Seno, Sp. BM., MM, Ketua Perhimpunan Persatuan Dokter Gigi Indonesia, mengatakan bahwa stres berkepanjangan akan membuat sel bermutasi.

“Stres itu akan mengubah sistem pertahanan tubuh dan imun. Ini menyebabkan iritasi sel dan bermutasi. Yang tadinya aman-aman saja berubah, salah satunya menyerang mukosa mulut,” ujar drg. Hananto dalam bincang-bincang “Diskusi Kanker Rongga Mulut” di Jakarta, Kamis (13/12/2018).

drg. Hananto menceritakan bahwa ia memiliki beberapa pasien penderita kanker mulut yang salah satu pemicunya adalah stres. Kebanyakan dari mereka, mengalami stres ringan namun berlangsung dalam jangka waktu lama.

“Rata-rata ada masalah pribadi yang tidak bisa diungkapkan, itu yang setahun-dua tahun. Ada kasus menarik, ada orang India udah ke mana-mana berobat tapi dibilang sariawan. Datang ke saya, saya bilang ini tumor ganas. Dia kemudian berobat ke Singapura tapi balik lagi ke saya,” kata drg. Hananto.

“Saya akhirnya nanya ke dia, bapak ada masalah pribadi apa sebenarnya. Dia bilang di Indonesia ada bisnis dan mandek. Dia pakai uang istri dan anaknya untuk investasi. Dia mau ngomong takut, akhirnya saya yang cerita ke istrinya. Akhirnya saya dan teman-teman di Amerika menyimpulkan bahwa stres yang minimal tapi jangka panjang akan menyebabkan iritasi sel,” lanjut.

Meski demikian, kanker mulut juga dapat dicegah. Caranya adalah menghindari rokok, minuman alkohol, menjaga kesehatan rongga mulut, melakukan pemeriksaan rutin, menjaga pola makan serta melakukan SAMURI (periksa mulut sendiri). (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.