Connect with us

Hiburan

Pemkot Sosialisasi Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Published

on

Ambon Menuju Kota Musik.

Femme.id, Ambon – Badan Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Kota Ambon melakukan sosialisasi kepada berbagai pihak di daerah itu untuk mewujudkan Ambon sebagai kota musik dunia.

Sosialisasi difokuskan kepada kepala desa, raja, lurah, camat di lima kecamatan di Ambon serta guru kesenian dan pimpinan sanggar seni di Ambon, Rabu (11/7/2018).

Deputi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi Bekraf Ari Juliano Gema saat membuka kegiatan itu mengatakan substansi sosialisasi tersebut merupakan bagian dari dukungan Bekraf kepada Ambon untuk menjadi kota musik dunia versi UNESCO.

Pada 2016, Bekraf bersama Pemkot Ambon bertekad menjadikan Ambon sebagai kota musik dunia, melalui deklarasi bersama.

Mewujudkan Ambon sebagai kota musik dunia versi UNESCO, katanya, harus mendapat dukungan bersama, bukan hanya pembangunan infrstruktur pendukung, tetapi dukungan masyarakat, terutama komunitas di Ambon.

“Selama ini kami telah membantu pembangunan studio musik berstandar internasional, gedung pertunjukan musik etnis dan sebagainya, tetapi yang terpenting harus ada dukungan dari masyarakat dalam hal ini komunitas di daerah, agar ada partisipasi mendukung upaya mewujudkan Ambon menjadi kota musik dunia,” katanya.

Ia menjelaskan tentang keterlibatan perangkat pemerintah, guru, dan komunitas terkait dengan persiapan maupun ketika nanti Ambon ditetapkan oleh UNESCO sebagai kota musik dunia berstandar internasional.

Setelah ditetapkan, katanya, tentunya banyak pihak akan datang ke Ambon untuk melihat kondisi Ambon sehingga diperlukan kesiapan masyarakat.

“Tentunya ketika tamu datang ke Ambon, masyarakat harus bisa menyambutnya dengan baik dan hangat. Seperti kepala desa, ketika orang akan datang setiap desa harus bisa mempersiapkan misalnya kawasan untuk kuliner, kerajinan, tentunya untuk peningkatan perekonomian masyarakat,” katanya.

Wakil Wali Kota Ambon Syarif Hadler menegaskan musik merupakan identitas diri serta anugerah dari Tuhan yang diberikan bagi masyarakat Maluku, khususnya Kota Ambon.

Musik, kata dia, menjadi instrumen penting bagi pembangunan kota untuk mendatangkan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat Ambon pada umumnya.

“Saya berharap melalui sosialisasi ini aparatur pemerintahan di tingkat desa maupun kelurahan, dapat melihat dan mengembangkan potensi wilayah sehingga dapat meningkatakan perekonomian masyarakat,” kataya.

Dia mengatakan upaya membangun kota yang besar bermula dari suatu mimpi besar dan tindakan yang luar biasa, sesuai potensi daerah, sebagaimana upaya mewujudkan Kota Ambon sebagai kota musik dunia.

“Hal ini tujuannya bukan untuk mencari popularitas semata, tetapi sejarah ini mencatat bahwa insan musik bangsa ini banyak lahir dan berasal dari Kota Ambon,” kata Wawali Syarif. (pfm)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hiburan

Festival Kuliner Betawi Digelar di Jaksel

Published

on

Festival Kuliner Betawi 2018 di Pelatihan Seni Budaya (PPSB), Kecamatan Tebet Jakarta Selatan.

Femme.id, Jakarta – Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Selatan akan menggelar Festival Kuliner Betawi pada 24 Juli 2018 di Pelatihan Seni Budaya (PPSB), Kecamatan Tebet.

“Festival (Kuliner Betawi) ini terakhir diselenggarakan pada 2013,” kata Plt Kepala Seksi Kebudayaan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Selatan Yuyu Wahyudin saat ditemui di kantornya, Kamis (19/7/2018).

Yuyu menerangkan, Festival Kuliner Betawi akan diselenggarakan di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Selatan di Jalan Asem Baris, Tebet, Jakarta Selatan pada 24 Juli. Kegiatan dimulai sejak pukul sembilan pagi.

Ia menjelaskan, pemerintah kota memutuskan menghidupkan kembali kegiatan tersebut, karena festival dianggap sebagai bentuk acara yang efektif untuk mempromosikan panganan khas berikut kebudayaan Betawi.

Wisatawan dalam negeri dan mancanegara, menurut Yuyu, perlu diperkenalkan lebih lanjut mengenai kekayaan kuliner khas Betawi.

“Banyak yang sudah kenal dan mencicipi panganan Betawi, salah satunya kerak telor. Tapi, kuliner khas Betawi itu beragam, diantaranya ada Pecak Ikan Mas, Soto Betawi,” terang Yuyu.

Dengan begitu, adanya festival diharapkan dapat memperkenalkan ragam panganan khas Betawi tidak hanya untuk masyarakat Jakarta, tetapi juga para pendatang.

“Jika turis datang ke sini, khususnya Jakarta Selatan, mereka tahu panganan khasnya apa,” tambahnya.

Selama festival berlangsung, acara diisi dengan lomba masak dari perwakilan 10 kecamatan di Jakarta Selatan, demo memasak, stan pameran, dan acara hiburan.

“Juri lomba masaknya berasal dari akademisi, pemerhati budaya Betawi, dan praktisi kuliner,” terang Yuyu.

Ia menambahkan, untuk acara lomba tiap kecamatan akan mengirim perwakilan.

“Sekarang di tiap kecamatan, ada satu unit UMKM (usaha mikro, kecil, menengah) OK OCE (Satu Kecamatan, Satu Pusat Kewirausahaan), nanti para peserta akan digerakkan dari sana,” tambahnya.

Festival Kuliner Betawi merupakan rangkaian dari acara Gebyar Budaya Betawi yang diadakan pada tahun ini oleh Suku Dinas Pariwisata dan Budaya Jakarta Selatan.

“Dalam rangkaian itu ada empat acara, diantaranya Festival Batik, Festival Kuliner Betawi, Festival Pencak Silat, dan Festival Kerak Telor,” kata Yuyu.

Festival Batik telah diselenggarakan lebih dulu pada 5 Juni di Pal Batu, Kelurahan Menteng Dalam. Kegiatan itu bertujuan memperkenalkan motif Batik Pal Batu ke masyarakat.

“Antusiasme pengunjung cukup baik. Festival itu sengaja dibuat karena walau motif Batik Pal Batu sudah lama diciptakan, tetapi belum banyak yang kenal,” tambahnya. (gtm)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Hiburan

Yuk, Bantu Angklung Muhibah Tampil di Eropa

Published

on

Penampilan Angklung Muhibah di Budapest, Hongaria, dalam misi budaya ke Eropa mempromosikan angklung.

Femme.id, Jakarta – Angklung Muhibah, yang mendeskripsikan diri mereka sebagai sekumpulan orang yang gemar bermain angklung, saat ini sedang ikut festival folklor di Eropa, juga akan berkeliling ke beberapa negara di benua tersebut untuk mempopulerkan angklung dan musik tradisional Indonesia.

Tim dari Bandung yang berisi pelajar ini menurut rencana akan bermain di Eropa hingga akhir bulan ini, dengan jadwal terakhir di Amsterdam, Belanda pada 28-29 Juli.

Sayangnya, perjalanan mereka mengalami hambatan karena salah satu sponsor menarik pendanaan sehingga mereka terancam tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Muhibah Angklung akhirnya membuka donasi di laman Kickstarter agar mereka bisa terus mempromosikan musik tradisional Indonesia di benua Eropa, mengatakan mereka membutuhkan sekitar 10.000 euro yang akan digunakan untuk transportasi.

Unggahan yang dibuat oleh Adrian Janitra Putra ini mencantumkan alamat email japutraa@gmail.com untuk korespondensi. (nat)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Hiburan

“Buffalo Boys” Suguhkan Aksi Koboi Gaya Indonesia

Published

on

Artis pemeran Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, dan Daniel Adnan (dari kiri ke kanan) berpose disela wawancara promo film Buffalo Boys di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Senin (9/07/2018).

Femme.id, Jakarta – “Koboi itu naik kuda, bukan kerbau…”, demikian salah satu penggalan dialog dalam film besutan Mike Wiluan, Buffalo Boys.

Berangkat dari sana, mungkin bisa ditebak seperti apa gaya para jagoan dalam film, mengenakan topi khas koboi di Amerika pada abad ke-19 lengkap dengan rompi kulit dan senjata di sisi kanan-kiri celana.

Hanya bedanya, mereka tak mengendarai kuda untuk  menggembala ternak. Mereka juga tak bermusuhan dengan suku Indian seperti dalam beberapa film fiksi Barat dan bukan hanya senjata api yang mereka punya.

Berlatarkan era penjajahan Belanda di pulau Jawa dan wild west tahun 1860-an, film ini menyuguhkan kisah tiga pribumi, duo kakak beradik Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso), serta paman mereka, Arana (Tio Pakusadewo) yang diasingkan ke Amerika Serikat.

Mereka kembali ke tanah air untuk satu tujuan, yakni balas dendam pada residen Belanda bernama Van Trach (Reinout Bussemaker) yang sudah membunuh ayah mereka, seorang sultan.  

Di tengah perjalanan, ketiganya bertemu Suroyo (El Manik), lalu dua cucunya, Sri (Mikha Tambayong) dan Kiona (Pevita Pearce) yang ternyata membawa mereka mendekat pada sang musuh sekaligus sosok yang sempat menghilang dari sisi Arana.

Soal suguhan action sepanjang film, cukup banyak adegan berkelahi yang bisa penonton nikmati dan ini terasa nyata baik dari sisi teknik beladiri mereka serta efek visual dan efek suara yang mumpuni. Walau memang terkesan relatif brutal untuk sebagian orang.

Mike dan tim tak main-main untuk urusan kebutuhan artistik cerita seperti efek visual pada luka robekan, memar di wajah, cambukan di punggung hingga riasan para karakter.

Dari sisi cerita, usaha pria yang mengaku penggemar film Barat itu menggabungkan dua kultur berbeda yakni Asia dan Barat bisa terlihat, salah satunya melalui senjata yang para “pria penunggang kerbau”.  

Lebih dari itu, Mike akan mengingatkan penonton kembali soal luka penindasan, kekejian yang masyarakat Indonesia alami terutama kaum hawa serta penolakan kebijakan tak berhati yang berujung kematian di era penjajahan.

Lalu, bagaimana kerasnya usaha masyarakat pada masa lalu melawan dan mengusir pendatang yang tak diundang itu. Ada semacam pesan yang dia tanamkan, yakni di tengah ketidakberdayaan, masih ada pribumi yang berjuang menentang ketidakadilan.

Untuk penonton dewasa yang berharap ada drama percintaan di sini, sebaiknya harus membuang harapan itu. Mike tak begitu ngotot menghadirkannya, karena bukan merupakan ide utama cerita dan pertimbangan durasi.

Karena ada unsur sadisme, mereka yang tak tahan dengan darah dan unsur kekerasan seperti penyiksaan secara seksual dan lainnya sebaiknya siap-siap menutup mata.

Sisanya, silahkan penonton nikmati dan nilai sendiri.

“Buffalo Boys”, sebuah film bergenre action fantasy dan berdurasi sekitar 110 menit keluaran Infinite Studios tayang hari ini di bioskop Tanah Air. (lws)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.