Connect with us

Hiburan

SHINee Rayakan 10 Tahun dengan Album Baru

Published

on

Shinee adalah grup penyanyi pria asal Korea Selatan.

Femme.id, Seoul – Salah satu grup K-pop yang bertahan lama, SHINee, kini kembali dengan album keenam “The Story of Light” yang berisi tiga set lima lagu, menandai 10 tahun berdirinya grup tersebut sejak debut.

Episode kedua dari album baru mulai muncul di toko musik online besar Korea Selatan pada Senin (11/6/2018) malam, termasuk lagu “I Want You”.

BACA JUGA : SHINee Bersiap Kembali ke Jagat Musik Lewat Album “The Story of Light”

Episode pertama yang diwakili dengan lagu utama “Good Evening” diluncurkan pada 28 Mei, di mana SHINee membuat strategi untuk membuat album mereka makin menarik dengan meluncurkannya dalam tiga fase. Bagian ketiga, termasuk lagu “Our Page” akan dirilis pada 25 Juni.

Album baru itu diluncurkan untuk memperingati 10 tahun SHINee, awalnya berisi lima anggota, yang debut dengan lagu “Replay” pada 25 Mei 2008. Ini juga merupakan album pertama SHINee sejak kepergian Jonghyun yang meninggal akibat bunuh diri pada Desember 2017.

“Album baru ini adalah kompilasi dari semua kesan SHINee selama ini. Album ini juga untuk memperingati perayaan 10 tahun,” kata Key, salah satu anggota SHINee, dalam konferensi pers di Seoul, Senin.

Dilansir Kantor Berita Yonhap, mereka memutuskan untuk meluncurkannya dalam tiga bagian karena ingin fokus pada lebih banyak lagu.

“Episode pertama, seperti yang kami pikir, mencerminkan kesan apa yang dilihat orang lain terhadap SHINee, sementara episode kedua, termasuk ‘I Want You’, menunjukkan dari sudut pandng kami,” kata Key. “Episode ketiga punya rasa yang berbeda dengan lagu-lagu R&B tempo sedang.”

Mengenang 10 tahun perjalanan mereka di dunia musik, Minho mengatakan, “Kami ingin jadi lebih baru dan membuat tren setiap kali berkarya.”

“10 tahun dari sekarang, saya juga masih ingin aktif sebagai bagian dari SHINee, terus mengeluarkan rekaman baru,” katanya, mengungkapkan semua anggota sudah memperbarui kontrak mereka dengan agensi SM Entertainment.

“Saat kami menandatangai kontrak, Lee dan kami berkata, ‘Ini baru awal.'”

SHINee sudah menelurkan lagu-lagu terkenal, baik di dalam negeri maupun mancanegara, dimulai dari “Replay” yang dinyanyikan saat anggotanya masih remaja, hingga kini ketika mereka sudah menginjak usia 20-an.

“Di mata orang-orang, SHINee masih muda dan segar,” kata Taemin. “Kalau saya perempuan, saya pasti sangat jatuh cinta pada SHINee,” canda anggota termuda itu.

Karir selama 10 tahun telah mendewasakan anggota-anggota SHINee dan kebebasan untuk membuat interpretasi berbeda terhadap musik dan penampilan mereka, kata Taemin.

“Mulai jadi trainee sejak usia 13, saya sudah menghabiskan separuh hidup di SHINee. Saya bangga terhadap diri sendiri karena bekerja di bidang yang sama selama 10 tahun.”

“Harapan saya yang tak pernah berubah adalah SHINee terus bertahan dan penggemar juga kami bisa terus bahagia atas fakta itu,” kata Onew.

Para anggota juga mengungkapkan duka mereka setelah kematian Jonghyun.

“Alasan kami membuat tiga title track kali ini karena kami ingin menunjukkan pada kalian bahwa SHINee masih ada, bekerja keras, bekerja dengan baik dan bertahan dari situasi yang ada,” ujar Key. (nan)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hiburan

YouTube Hapus Trailer “The Nun” Karena Terlalu Seram

Published

on

Trailer terbaru dari film "The Nun" spin-off kedua "The Conjuring" setelah "Annabel: The Creation."

Femme.id, Jakarta – YouTube menghapus trailer terbaru dari film “The Nun” setelah situs itu menganggapnya terlalu menyeramkan dan melanggar aturan situs.

Di trailer itu, selama enam detik suaranya kian mengecil hingga menghilang sebelum akhirnya sang Biarawati atau Nun muncul untuk menakut-nakuti penonton di siang bolong.

“Kami menghargai perbedaan dan menghormati orang lain, dan kami berjuang menghindari untuk menyinggung atau mengagetkan penonton dengan iklan atau website atau aplikasi yang tak cocok dengan iklan jaringan kami,” kata YouTube dalam sebuah pernyataan.

“The Nun” adalah film spin-off kedua “The Conjuring” setelah “Annabel: The Creation.”

Trailer pertamanya sudah diluncurkan awal tahun ini, lengkap dengan sinopsis mengerikan:

“Saat seorang biarawati muda di sebuah biara terpencil di Rumania bunuh diri, seorang pendeta dengan masa lalu yang mengerikan dan seorang novisiat di ambang kaul kekalnya dikirim oleh Vatikan untuk melakukan penyelidikan. Bersama-sama mereka menyingkap rahasia.”

“Bukan hanya mempertaruhkan nyawa mereka tetapi juga iman mereka, mereka menghadapi kekuatan jahat dalam bentuk biarawati setan yang sama yang pertama kali meneror para penonton di The Conjuring 2, ketika biara menjadi medan pertempuran yang mengerikan antara yang hidup dan yang terkutuk,” NME. (ida)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Hiburan

Riri Riza Sadar Tak Semua Film Bisa Capai Jutaan Penonton

Published

on

Mohammad Rivai Riza atau yang lebih dikenal dengan nama Riri Riza adalah seorang sutradara, penulis naskah Indonesia.

Femme.id, Jakarta – Tidak semua film Indonesia yang diputar di bioskop mendapat jutaan penonton. Hal ini disadari betul oleh sutradara kenamaan, Riri Riza.

“Warkop DKI Reborn”, “Dilan 1990”, “Danur”, “Ayat-Ayat Cinta” dan “Ada Apa Dengan Cinta” adalah beberapa contoh dari film Indonesia yang memiliki jumlah penonton di atas satu juta. Apakah semua film yang dirilis bisa meraih angka serupa? Tentu tidak. Ada banyak hal yang menentukannya.

BACA JUGA : Film Dinilai Sebagai Aset Diplomasi yang Paling Efektif

Pemilihan pemain, jalan cerita dan genre juga menjadi faktor penentu jumlah penonton. Riri Riza pun tahu pasti akan hal ini. Dia juga mengatakan bahwa produser film juga harus tahu bahwa film bertema sejarah, biografi atau budaya bukanlah film yang bisa dikomersilkan.

“Kita sebagai produser harus tahu betul bahwa tidak semua film bisa ditonton masyarakat luas. Seperti ‘Soegieja” penontonnya tidak bisa seperti ‘Ayat-Ayat Cinta”. Tapi sebagai produser, kita juga harus bisa melihat bahwa film seperti ini diputar outlet lain, festival misalnya atau tempat lain selain bioskop,” jelas sutradara “Kulari ke Pantai” itu saat berbincang di Jakarta.

Permasalah seperti di atas tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi hampir di semua negara. Oleh karena itu, produser pun dituntut harus jeli membaca pasar.

“Di mana pun Singapura, Hong Kong dan lainnya, punya kesadaran bahwa pasar itu beragam. Memang begitu, film tertentu hanya bisa diputar di tempat tertentu. Misalnya film Mohammad Hatta kalau diputar di bioskop, memang laku? Pasti ngebosenin. Tapi kalau diputar di fakultas ekonomi, baru sesuai karena bicara tentang konsep ekonomi,” papar dia.

Dengan perkembangan teknologi, Riri mengatakan bahwa bioskop bukanlah satu-satunya tempat untuk memasarkan film. Banyak channel lain, salah satunya aplikasi digital.

“Ini era yang baru, kita tidak perlu nonton di satu channel. Bioskop sudah bukan jadi media film satu-satunya,” tandas Riri. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Hiburan

Livi Zheng akan Terus Bawa Unsur Indonesia di Setiap Karyanya

Published

on

Livi Zheng, adalah seorang Sutradara muda Indonesia yang telah masuk industri film Hollywood.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Memiliki karir di Hollywood, tidak membuat Livi Zheng lupa akan Indonesia. Justru, dia semakin getol memperkenalkan Tanah Air melalui karya-karyanya.

Sutradara film “Brush with Danger” ini mengungkapkan bahwa dia akan selalu memasukkan unsur budaya Indonesia di filmnya. Agar tersebut dilakukan agar Indonesia dikenal oleh khalayak internasional.

BACA JUGA : Livi Promosikan Gamelan dalam Film Hollywood

“Kalau ngomong film ‘Avatar’, orang tahunya pasti filmnya saja. Padahal di musiknya ada unsur gamelannya. Sayang banget ketika ngomongin gamelan, enggak ada yang tahu kecuali yang bekerja di bidang musik,” ucap Livi dalam bincang-bincang di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Wanita kelahiran 3 April 1989 itu, menambahkan “Orang di sana harus tahu kalau gamelan itu dari Indonesia. Makanya saya bikin film layar lebar tentang gamelan ini.”

Bagi Livi, memperkenalkan Indonesia adalah sebuah keharusan. Dia sangat bangga ketika ada orang luar negeri yang menyebutnya sebagai sutradara dari Indonesia.

“Di industri film belum banyak orang Asia dan perempuan. Waktu saya dengan bangganya bilang, ‘Saya orang Indonesia’. Ternyata banyak yang belum tahu Indonesia. Mereka tahunya Bali, dan Indonesia itu adalah Bali,” ujar Livi.

Livi pun semakin bertekad untuk terus membawa Indonesia dalam setiap karya yang dihasilkan.

“Sejak awal karir saya, saya selalu mau syuting di Indonesia dan memakai unsur-unsur Indonesia. Karena Indonesia itu sangat amazing,” tandasnya. (mar)


Untuk kerjasama publikasi, dan media partner, hubungi Whatsapp : 0878-15557788, 0819-5557788. Email : redaksifemme@gmail.com, redaksi@femme.id.

Continue Reading

Trending

Redaksi Femme.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus),
publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya. Redaksi Femme.id juga menerima sumbangan artikel/tulisan dari para penggiat citizen journalist, dan dari pembaca.

Kontak Email :
redaksi@femme.id

WhatsApp / SMS Center :
0878-15557788, 0819-15557788

© Femme.id termasuk salah satu anggota jaringan media siber Femme Entertainment Media (FEM) Group.