SHANGHAI, 21 September 2026 /PRNewswire/ — HUAWEI CONNECT 2026 resmi dibuka di Shanghai. Sebagai bagian dari rangkaian ajang tersebut, Huawei menggelar HUAWEI AIDC Facility Summit sekaligus memperkenalkan solusi grid-interactive AIDC yang mengusung pendekatan baru dalam pembangunan infrastruktur AI guna memaksimalkan efisiensi token per watt.

Hou Jinlong, Director of the Board of Huawei, President of Huawei Digital Power
Hou Jinlong, Director of the Board of Huawei, President of Huawei Digital Power

Hou Jinlong, Director of the Board, Huawei, yang juga menjabat President, Huawei Digital Power, menyampaikan sambutan dalam ajang tersebut. Ia memaparkan empat pendekatan inovasi arsitektur dan desain sistem guna menjawab berbagai tantangan dalam pembangunan AIDC, mulai dari penyediaan dan kualitas daya, distribusi listrik ke rak, serta pembuangan panas hingga proses konstruksi.

Pertama, arsitektur kelistrikan inovatif yang dipadukan dengan teknologi liquid cooling menjaga pasokan listrik tetap stabil, serta mengoptimalkan pembuangan panas agar keandalan dan efisiensi sistem meningkat. Kedua, sistem penyimpanan energi hibrida berlapis menyerap fluktuasi daya lokal untuk meningkatkan kualitas daya di AIDC, serta mengurangi dampaknya terhadap jaringan listrik. Ketiga, sinergi antara sistem kelistrikan dan komputasi, serta interaksi antara pasokan dan konsumsi energi, mendorong AIDC bertransformasi dari beban listrik yang bersifat kaku menjadi bagian integral dari sistem kelistrikan generasi baru. Keempat, inovasi metode konstruksi serta pendekatan pembangunan yang modular, prefabrikasi, dan berbasis produk dapat memangkas waktu pengerjaan secara signifikan.

Hou menegaskan bahwa kemampuan memaksimalkan jumlah token yang diproses per watt sekaligus menekan biaya per token kelak menjadi faktor penting yang menentukan daya saing pusat komputasi.

Huawei Memperkenalkan Solusi Grid-Interactive AIDC

Bob He, Vice President of Huawei Digital Power
Bob He, Vice President of Huawei Digital Power

Menurut Bob He, Vice President, Huawei Digital Power, lonjakan penggunaan energi terbarukan membuat jaringan listrik semakin dipengaruhi karakteristik powerelectronics. Di sisi lain, beban kerja AI dapat berubah dengan cepat dan dalam skala ekstrem. Kondisi tersebut membuat infrastruktur energi dan komputasi tidak lagi dapat beroperasi secara terpisah, namun perlu terintegrasi secara erat. Melalui inovasi "3+1", Huawei menghadirkan solusi grid-interactive AIDC yang memadukan keandalan tinggi, efisiensi energi, kecepatan implementasi, dan kemampuan beradaptasi dengan jaringan listrik untuk memaksimalkan jumlah token yang diproses per watt.

Dalam sistem kelistrikan, Huawei mengusulkan arsitektur catu daya MIMO yang memenuhi kebutuhan pusat komputasi generasi baru. Untuk menjawab tantangan tersebut, Huawei meluncurkan grid-interactive AIDC 1.0 yang mengintegrasikan UPS yang mendukung stabilitas jaringan listrik, baterai litium pintar, serta sistem penyimpanan energi grid-forming. Dengan pendekatan ini, AIDC mampu beradaptasi dengan kondisi jaringan listrik, serta ikut meredam fluktuasi beban kerja AI. Dari sisi pendinginan, Huawei juga meluncurkan sistem liquid cooling berbasis AI yang dapat memprediksi kondisi working fluid dan mendukung pemeliharaan prediktif.

Menurut He, keunggulan Huawei terletak pada kapabilitas terpadu di bidang energi serta kemampuan AI dengan rangkaian lengkap (full-stack).

Sinergi Komputasi dan Listrik: Membangun Fondasi yang Solid untuk Era AI

Pesatnya perkembangan AI mendorong lonjakan kebutuhan pemrosesan token, serta meningkatkan tuntutan terhadap infrastruktur AI. Menurut Xia Qin, Chief Expert, Huawei Computing Strategy Planning, AIDC kini bergerak menuju arsitektur terintegrasi yang menyatukan komputasi, jaringan, dan penyimpanan, dengan energi sebagai fondasi utama. Sistem energi yang andal, efisien, dan dapat diterapkan dengan cepat akan membantu klaster komputasi AI berskala besar beroperasi secara stabil, serta menopang proses pelatihan dan inferensi berskala besar di era agentic AI.

Berbeda dari pusat data konvensional yang hanya memiliki interaksi terbatas dengan jaringan listrik, beban kerja AI dapat berubah dengan frekuensi tinggi dan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan pada sistem kelistrikan, termasuk pemadaman listrik dan osilasi wideband yang tidak stabil. Josh Chen, Founder & Chairman, VNET Group, mengatakan, sumber listrik, kampus, dan bangunan dapat dirancang ulang agar saling terintegrasi dan mendukung satu sama lain, mulai dari koordinasi antarsumber listrik dan penjadwalan energi di dalam kampus hingga penyediaan listrik DC untuk bangunan. Pendekatan ini akan membentuk sistem kelistrikan baru yang terhubung langsung dengan sumber energi hijau dan microgrid aktif, serta memastikan pasokan listrik yang andal dan stabil bagi AIDC berkapasitas hingga tingkat GW.

Lin Hai, General Manager, Intelligent Computing Center, SenseCore Business Group di SenseTime, memaparkan perkembangan efisiensi komputasi AI SenseTime, dari PUE menuju TPW, dalam ajang tersebut. SenseCore mendorong perubahan pendekatan pengelolaan efisiensi di IDC, dari yang sebelumnya berfokus pada power usage effectiveness (PUE) menjadi pengukuran efisiensi terpadu yang berpusat pada token per watt. Pendekatan ini menghubungkan konsumsi listrik secara langsung dengan jumlah token yang dihasilkan, mencakup seluruh rantai mulai dari pembangkit dan jaringan listrik hingga layanan rak IDC, cloud computing, dan layanan model. Menurut Lin, metrik tersebut mencerminkan efisiensi inti dalam proses produksi AI. Melalui optimalisasi terpadu, SenseCore berhasil meningkatkan TPW sebesar 80%.

Dalam ajang HUAWEI CONNECT 2026, Huawei memamerkan solusi grid-interactive AIDC serta solusi inferensi AI terintegrasi untuk membangun fondasi komputasi yang andal, hemat energi, dan cepat diterapkan bagi infrastruktur klaster AI.

Suka artikel ini?
Traktir kopi buat penulisnya, yuk.
Traktir Kopi
Dukung kreator · E-Wallet
PILIH NOMINAL